
"Assalamualaikum," ucap Dave memasuki rumahnya dengan tergesa
"Tuan sudah pulang?" tanya Bi Ina yang melihat majikannya sudah pulang, namun detik berikutnya Bi Ina mencebik karena Dave tidak menjawab ataupun melihat ke arahnya
"Padahal aku cuman mau bilang kalau istri dan Mamah nya sedang ada di belakang." gumam Bi Ina menatap punggung tegap Dave yang melangkah begitu sangat cepat, Bi Ina mengangkat kedua bahunya acuh dan kembali ke dapur
****
Brak.
Dave membuka pintu kamar dengan sangat kasar, ia melempar asal jas nya ke sofa yang ada di kamarnya itu dan mencari keberadaan sang istri
"Sayang! Kamu di mana?!" Dave mencari keberadaan Sena disetiap sudut kamar mereka, namun ia tidak melihat adanya tanda-tanda sang istri disana
"Ke mana dia?" Dave berkacak pinggang menatap kasur yang kosong dan sangat rapi itu, Dave mengusap wajahnya menggunakan satu tangan dan menghela nafas pelan.
Iapun menggulung kemeja yang ia kenakan sampai batas siku, dan melangkah keluar untuk bertanya pada isi rumah lainnya dimana mereka melihat sang istri dan juga anaknya
"Bibi! Bi Ina, Bi Sri, Bi Ijah!" teriak Dave memanggil para asisten rumah tangganya, Dave berkacak pinggang di tengah-tengah dalam rumahnya. Masih sama seperti tadi, ia melirik ke seluruh sudut ruangan baik ruang tamu, ruang keluarga. Namun Dave tidak melihat sosok yang ia cari
"Ini orang rumah pada ke mana juga? Kenapa pada menghilang?" gumam Dave yang sudah sangat kesal karena para asisten rumah tangganya tidak muncul-muncul
Pada akhirnya Dave pun memutuskan untuk melangkah ke dapur, ia harus datang langsung untuk bertanya. Jika menunggu dirinya tidak yakin akan bersabar, sambil terus melangkah leher Dave menoleh ke kiri dan kanan berharap bisa menemukan istrinya yang mungkin sengaja bersembunyi
"Aku sudah setengah mati untuk cepat sampai di sini, tapi malah kekosongan yang aku dapat." gumam Dave, ia memegang kursi meja makan saat sudah sampai disana namun ia juga tidak menemukan siapapun disana
"Bi Ina!" teriak Dave memanggil asisten utama rumah itu, Dave menggigit bibirnya ketika satu menit tidak ada jawaban dari panggilannya itu.
__ADS_1
Tetapi detik berikutnya Dave menolehkan kepalanya saat mendengar suara tertawa, ia melangkahkan kakinya pelan mencari asal sumber suara tersebut. Dengan langkah pasti Dave terus berjalan sampai pada ambang pintu yang merah ke taman belakang, ia melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hatinya
"Pantas saja pada menghilang, ternyata masih asyik bercanda gurau di sini." suara Dave membuat atensi para wanita dewasa dan juga satu anak kecil itu teralihkan. Mereka semua memandang ke arah Dave yang tengah berjalan mendekati mereka
"Papah!" seru Vano berdiri dan berlari ke arah Dave, membuat Dave yang melihat itu langsung sigap menangkap tubuh kecil putra tampan nya itu
"Kenapa nih tiba-tiba manja begini?" tanya Dave kepada Sena sambil menunjuk putranya yang sudah menyandarkan kepala kecilnya itu di dada bidangnya dan kedua tangan yang melingkar sempurna pada lehernya. Sena mengangkat kedua bahunya, tidak tahu juga mengapa putranya menjadi manja seperti itu
"Ya biasalah kalau anak tiba-tiba saja seperti itu, dia sudah rindu dengan Papah nya." ucap Veny, yang menengahi keluarga kecil itu. Dave pun melepaskan sepatu kerjanya dan ikut bergabung duduk disana
"Aku sudah seperti orang gila Mah saat mendengar Sena pingsan, tapi apa yang aku lihat saat sampai di rumah. Kalian malah sedang asyik menikmati pemandangan taman ini, sedangkan aku sudah seperti tidak merasakan menginjak bumi lagi oleh kejahilan Mamah." Veny tersenyum dengan pandangan yang tertuju pada menantunya, membuat Sena yang melihat itu juga ikut tersenyum
"Tadi kan Bibi sudah Mamah suruh untuk mengatakan kepada kamu kalau kami sedang ada di sini, apakah Bibi tidak menyampaikannya?" pandangan Dave kini tertuju kepada Bi Ina yang berada dibelakang sang istri
"Bibi enggak ada omongan apa-apa," ucap Dave
"Sekongkol kalian semua," gumam Dave yang membuat para wanita disana tertawa
"Kamu juga sayang, ya?" tanya Dave menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Vano yang masih setiap menyandar didada bidangnya
"Kamu kenapa jadi pendiam begini? Mau mengerjai Papah lagi ya?" Dave menggoyangkan kakinya, membuat tubuh Vano terlonjak ke atas
"Ishhh Papah... Diam bentar kenapa?" Dave mengerutkan dahinya saat putranya ini malah menunjukkan wajah seriusnya
"Kok marah? Aturan kan Papah yang marah sama kalian karena sudah membuat Papah khawatir."
"Aku tuh lagi mikir tahu enggak, Papah ganggu deh." saat Vano ingin turun dari pangkuan Dave, tangan besar Dave menahan tubuh anaknya itu dengan memegang kedua bahu Vano
__ADS_1
"Coba cerita sama Papah, apa yang sedang Vano pikirkan. Perasaan sebelum Papah datang kamu terlihat begitu bahagia, tapi saat Papah di sini wajah kamu jadi lesu begini. Kenapa? Ayo cerita sama Papah, Papah akan setia mendengarkan apa yang akan Vano ceritakan, walaupun Vano selalu menjahili Papah dan membuat Mamah harus mendiami Papah." Veny yang mendengar itu terbahak-bahak
"Hahhaa... Hahha... Aduh sakit, hahhhaa." Veny menahan sakit dibagian perut sebelah kirinya karena begitu enak tertawa, bahkan tawa keras itu mampu mengajak orang-orang yang ada di dekatnya juga tertawa kecil
"Oma! Aku kan sudah bilang tadi, diam."
"Upsss." Veny menutup mulutnya seketika, ia mengatakan maaf tanpa suara pada Vano
"Ini anak kamu kenapa sih? Aku kok jadi takut ya," ucap Dave kepada Sena, ya dia takut Vano akan menjahilinya lagi
"Baby Vano kenapa sih sayang? Mau mengerjai Papah ya nak?" tanya Dave lembut, Vano yang di tanya dengan suara lembut seperti itu menggelengkan kepalanya dan semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh sang Papah. Percayalah Dave saat ini sudah bersiap-siap untuk kejahilan apa lagi yang akan putranya itu lakukan kepadanya, Dave tidak percaya kalau hasilnya akan setengil ini. Perasaannya ia tidak memiliki sifat yang putranya itu punya sekarang, begitu juga dengan Sena
"Vano takut Papah nanti enggak sayang Vano lagi," lirih Vano pelan, namun orang-orang disana masih dapat mendengarnya. Dave, Sena, dan Veny saling lempar pandang mendengar kalimat Vano barusan
"Anak Papah bicara apa? Mana mungkin Papah tidak sayang baby Vano, buat kamu itu susah tahu enggak. Jadi enggak mungkin Papah enggak sayang kamu." semua yang ada disitu tercengang mendengar ucapan Dave
"Awww..."
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1