Possesif CEO

Possesif CEO
Waktu Cepat Berlalu


__ADS_3

Sena mendorong pelan pintu ruang kerja milik suaminya yang berada dilantai dua rumah mereka, atau lebih tepatnya berada disamping kamar mereka pas


Dapat Sena lihat suaminya itu tengah menangis, membuat ia mengerutkan dahinya kuat melihat nya.


"Apakah terjadi sesuatu?" batin Sena


Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya, iapun memilih untuk mendekat dengan pelan sehingga suaminya itu tidak menyadari kehadirannya disana


"Sayang!" seru Sena, yang dimana Dave langsung buru-buru menghapus air matanya


"Kenapa belum tidur?" tanya Dave dengan suara seraknya. Ia menarik lengan istrinya yang dimana membuat Sena sekarang ini berada diatas pangkuannya


Sena diam memperhatikan wajah suaminya, terlihat sekali raut kesedihan yang Dave pancarkan di wajah tampan suaminya itu. Meski sudah berumur hampir 45 tahun, suaminya itu tetap terlihat tampan


"Kamu enggak ada di kamar, aku jadi enggak bisa tidur." ungkap Sena jujur, ia terbiasa tertidur di pelukan Dave, dan ketika suaminya itu tidak ada rasanya aneh saja


"Putri kita?" tanya Dave menanyakan keberadaan putrinya


"Sudah tidur setelah mengerjakan tugas sekolahnya." balas Sena yang memang tadi sempat menemani anak perempuannya itu mengerjakan pekerjaan rumah


"Anak-anak kita sudah besar sayang, putri kecil kita sebentar lagi akan lulus dari sekolah tingkat pertamanya,"


"Apalagi Vano, dia sudah semakin besar. Dia bahkan tidak mau lagi dipeluk dan dicium hanya karena dirinya mengatakan kalau dia malu dengan umurnya."

__ADS_1


"Heh, dia semakin tumbuh besar saat jauh dari kita, aku merindukan masa kecil mereka dan ciuman mereka saat menyambut kepulanganku dari kantor."


Dave menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher Sena untuk menyembunyikan kesedihan dari sang istri


Entahlah sudah hampir sepuluh tahun Vino pergi dari rumah ini dan tidak pulang jika bukan Dave dan keluarganya itu kesana untuk melihat bagaimana kehidupan putranya disana.


Itu semua terjadi saat kematian nenek Diva, dimana nenek Diva sudah lebih dulu menitipkan surat wasiat kepada orang kepercayaannya untuk diberikan kepada Davin putranya dan agar menyampaikan wasiat itu kepada cucu dan cicitnya ketika ia sudah tiada


Namun sayangnya kematian nenek Diva begitu sangat cepat, dimana terakhir kali ia datang ke Indonesia saat cicit perempuannya berulang tahun ke-5. Dan kematian Diva juga setelah tepat sebulan Dave dan Sena keluar dari rumah sakit


"Aku rindu pada baby Vano kita sayang, dia tumbuh dewasa tanpa kita dampingi. Kedewasaan nya terbentuk oleh dirinya sendiri, aku Papah yang buruk bukan karena dengan begitu tega meninggalkan putraku sendiri disana."


Sena menggelengkan kepalanya, inilah Dave. Suaminya itu akan selalu seperti itu jika rasa rindu pada putranya telah datang


Sejujurnya Sena sangat marah dulu saat suaminya itu dengan tega memisahkan ia dan putranya, tapi saat baru beberapa hari kepergian Vano dari rumah ia mendapatkan suaminya jatuh sakit, yang dimana itu terjadi atas rasa bersalah Dave dan juga kerinduannya pada putra kecilnya


"Pah, ini semua bukan salah kamu. Putra kita memiliki sifat kamu, dia tidak membenci kita, hanya saja dia marah karena kita mengirim dia sendiri ke sana. Seandainya kita juga tinggal disana ia pasti tidak akan sedingin itu pada kita."


Sena mengatakan dengan jujur, karena itu kenyataannya. Jika Vano akan sangat dingin dengan papah nya, berbeda dengan dirinya. Karena setiap saat dan setiap ada waktu Vano dan Sena selalu bertukar kabar tanpa sepengetahuan Dave. Bahkan Sena masih ingat betul kata-kata putranya saat berusia 17 tahun


Flashback on~


"Aku akan terus berpura-pura marah terus dengan Papah,"

__ADS_1


"Tidak boleh seperti itu sayang,"


"Habisnya aku kesal dengan Papah yang tidak membolehkan aku untuk bersekolah disana,"


"Tidak sayang bukan seperti itu, Papah ingin kamu menyelesaikan pendidikan disana agar kamu sekalian belajar disiplin waktu dan juga tahu bagaimana rasanya berjuang. Papah tidak mungkin menyetujui wasiat Nenek Diva jika dia tidak memiliki alasan tersendiri." jelas Sena memberi pengertian pada putranya


"Tapi kan Mah, aku juga ingin berkumpul bersama kalian. Aku bosan diam di mansion besar ini sendiri, apalagi aku juga harus membagi waktu antara belajar dan mengurus perusahaan."


Sena terdiam mendengar keluhan dari putra tunggalnya, bukan apa ia saja yang menjadi sekertaris Dave hanya dalam 2-3 tahun saja sudah merasakan bagaimana lelahnya, apalagi yang memimpin perusahaan


Dan perlu diingat bahwa putranya masih terlalu mudah untuk mengerti tentang bisnis, tapi mau bagaimana inilah yang akan terjadi jika ia menikah dengan keturunan Alexander


"Jangan sekali-kali kamu memiliki pemikiran yang buruk tentang Papah sayang, karena kamu tidak akan pernah tahu seberapa tersiksanya Papah karena harus mengirim baby Vano nya jauh dari pelukannya."


"Kamu mengerti sayang?"


"Hmm, ya."


"Kalau begitu Mamah tutup ya sayang, sebentar lagi Papah pulang nak,"


"Baiklah Mah. Love you Mah."


"Love you so much sayang. Selalu ingat kalau Papah dan Mamah sayang kamu sayang."

__ADS_1


"Ya Mah."


Flashback off~


__ADS_2