
Dave menerima suapan dari pujaan hatinya itu dengan pandangan yang tidak pernah lepas menatap wajah sang istri. Dave tidak akan pernah menyukai makanan rumah sakit, tetapi karena Sena yang menyuapinya, makanan rumah sakit itu terasa seperti makanan di restauran tempat biasa ia makan.
"Kamu banyak berubah semenjak jauh dari aku,"
"Berubah? Aku pikir diriku hanya seperti ini saja, aku tahu kenapa kamu berkata seperti itu, akupun juga merasakan kalau diriku bertambah jelek."
"Hahahha..." Dave tertawa renyah karena ulah Sena. Sedangkan Sena yang melihat Dave tertawa malah membuat ia kesal
"Kamu lanjutin makan sendiri aja, aku mau menyusul Vano!" Sena memberikan mangkuk yang ia pegang ke tangan Dave. Namun pada saat Sena ingin melangkah pergi dari sana, Dave menahan tangan istrinya itu
"Kamu enggak sayang aku lagi?" tanya Dave dengan raut wajah yang serius
"Emm... Aa.. Kamu nanya apa sih enggak jelas banget!" Sena mencoba melepaskan tangannya yang di genggam kuat oleh Dave.
"Tunggu dulu," Dave semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Sena
"Apa lagi? Aku mau nyusulin Vano, kasihan Papah sama Papah pasti capek jagain dia yang super aktif itu."
"Aku serius kali ini sayang, aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu setelah lama tidak bersamaku? Apakah kamu masih mencintaiku, atau sudah mencintai orang lain?"
Sena menatap tidak suka Dave yang telah memberikan pertanyaan bodoh menurutnya, apakah Dave tidak bisa melihat sendiri bagaimana perlakuannya. Jika memang ia sudah tidak mencintai pria di depannya ini, mana mungkin ia berada disini seperti orang bodoh yang menangis-nangis memintanya bangun, Sena benar-benar tidak habis pikir dibuat Dave.
Tapi detik berikutnya ia tersenyum misterius, membuat Dave yang melihat itu menjadi bingung, ia rasa pertanyaan nya tidak ada yang lucu, tapi kenapa ibu dari anaknya itu malah tersenyum pikir Dave
"Kalau emang ya kenapa?" tanya balik Sena
"Maksud kamu?"
"Lahh.. Bukannya tadi kamu nanya aku kan?" Dave mengangguk
"Dan itu jawaban aku." Dave memasang wajah bodohnya karena belum mengerti apa yang Sena maksud, namun setelahnya matanya menajam dan menatap Sena seperti menatap mangsa
"Jadi maksud kamu, kamu sudah tidak mencintaiku lagi ya?" Dave bertanya dengan menahan amarahnya, ia tidak mau mengeluarkan amarahnya sebelum semuanya jelas dulu
__ADS_1
"Iya, bukankah tadi kamu bertanya bagaimana perasaanku padamu bukan,"
"Tidak boleh!" teriak Dave, dimana itu membuat Sena terperanjat
"Kamu tidak boleh berhenti mencintaiku dan mencintai orang lain." ucap Dave tegas, seolah memberitahu Sena kalau ia tidak terima bantahan
"Mana bisa begi..."
"Bisa, karena sedari awal kamu memang milik aku." sela Dave marah, ia marah karena Sena terus menjawab tanpa mau mendengarkan dirinya. Sedangkan Sena bersorak ria dalam hatinya
"Rasain, suruh siapa nanya nya kayak gitu!' Sena menertawakan wajah Dave yang terlihat begitu kesal padanya
"Kalau kamu sudah tahu kalau sedari awal aku hanya milik kamu, kenapa harus bertanya seperti itu?" rawut wajah Dave langsung berubah semula
"Yaa.. Aku kan cuman ingin tahu saja." jawab Dave sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal
"Dasar, sedari dulu posesif nya tidak pernah hilang." gumam Sena
"Apa kamu bilang?"
"Aku denger ya kamu ngomong apa."
"Ngomong apa? Perasaan aku enggak ngomong apa-apa deh," ucap Sena membela dirinya
"Walaupun aku gila karena kamu tinggalin, bukan berarti pendengaran aku juga ikut gila ya sayang." Dave meletakkan mangkuk yang berada di pangkuannya ke atas meja. Setelah itu ia menarik cukup kuat tangan Sena, sehingga istrinya itu berakhir di pangkuannya saat ini.
"Dave, kamu apa-apaan sih? Kamu masih sakit kenapa bertingkah seperti orang yang tidak sakit?" Sena marah karena kelakuan Dave, bagaimana bisa lelaki itu menarik dirinya dan membuat ia terjatuh diatas pangkuannya
"Sudah aku bilang, aku sembuh kalau ada kamu disamping aku sayang." lirih Dave ditelinga Sena, membuat bulu kuduk Sena berdiri karena ulah jahil Dave. Sedangkan Dave tersenyum senang saat melihat reaksi Sena masih sama seperti dulu
"Dave, jangan aneh-aneh. Ini rumah sakit nanti ada yang melihat." ucap Sena memperingati Dave untuk tidak macam-macam karena mungkin bisa saja seseorang masuk secara tiba-tiba
"Aku tidak aneh-aneh kok, cuma satu macem aja, jangan takut. Lagi pula aku yang satu macem gini kamu tinggalin, apalagi yang banyak macem." Sena terdiam mendengar kalimat Dave, ia menatap wajah Dave dari samping, begitu juga dengan Dave.
__ADS_1
"Jangan ingatkan aku lagi dengan itu," ucap Sena
"Kenapa?"
"Jika kamu kembali mengingatkan aku dengan masalah itu lagi, maka aku akan pergi untuk selamanya dari hidup kamu." rahang Dave mengeras mendengar ucapan Sena. Karena rasa amarah menyelimuti dirinya, ia tidak sadar kalau tangannya itu sudah jalan ke mana-mana
"Akhhh..." Dave tersadar saat mendengar desahan Sena, ia menatap wajah Sena yang dimana tengah menatap dirinya sayu. Lalu pandangan Dave turun, ia dia terpaku saat melihat satu tangannya berada di gundukan sebelah kanan Sena. Dave menyeringai, iapun melanjutkan yang ia lakukan tanpa sengaja tadi
"Emm.. Dave apa yang kamu lakukan, nanti ada yang melihat kita seperti ini Dave!" seru Sena dan mencoba menjauhkan dirinya. Tetapi tangan Dave yang lain sudah lebih dulu menahan pinggangnya agar tetap diam
"Kamu berencana ingin pergi dari aku lagi kan?" tanya Dave dengan tangan yang tidak berhenti mengerjai area sensitif bagian atas milik istrinya. Sena menggeleng lemah, di perlakukan seperti itu membuat rasa lain timbul
Dave tersenyum karena sudah membuat Sena seperti sekarang, hanya dengan begini saja Sena sudah sangat lemah. Apalagi kalau Dave membawanya ke atas ranjang, tentu saja Sena akan bangun kesiangan besoknya
"Pergi jika kamu ingin pergi, tapi jangan harap kamu bisa lepas dari aku. Karena sampai kapanpun kamu hanya milik aku dan akan pulang ke pelukan aku. Tidak ada satupun lelaki yang bisa ngemilikin kamu selain aku." ucap Dave mutlak, karena baginya SSena memanglah miliknya sedari awal. Dan dia tidak suka jika ada lelaki lain yang mendekati Sena, apalagi berniat untuk memiliki Sena
"Iya Dave, aku hanya milik kamu. Milik Dave Keenan Alexander, tapi tolong hentikan kegilaan kamu ini."
"Kenapa aku harus berhenti? Aku berhak melakukan ini, kamu istri aku. Tidak ada yang salah dengan itu kan?"
"Iya aku tahu, tapi..."
"Awww..." rintih Sena saat Dave meremas dengan sedikit lebih kuat
"Enak bukan?"
"Kamu gil... Empthhh..." tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, mulut Sena sudah lebih dulu dibungkam Dave. Sena pun pasrah saat Dave memaksa untuk membuka mulutnya, yang ia lakukan saat ini adalah menurut dan mengimbangi Dave agar cepat selesai. Ia tidak mau kalau mertuanya masuk dan melihat keintiman mereka
_
_
_
__ADS_1
_
Bersambung...