Possesif CEO

Possesif CEO
Mencoba Berdamai


__ADS_3

Terlihat seorang Dave tengah melamun sendiri didalam kamarnya. Ia sedang memikirkan tawaran perjalanan bisnis yang asisten nya katakan siang tadi kepadanya. Jika dulu ia akan bersemangat saat mendengar perusahaan lain ingin bekerja sama dengannya, namun berbeda dengan sekarang. Dave tidak menginginkan apapun, yang ia inginkan saat ini hanyalah istri dan anaknya kembali ke dalam pelukannya.


Dave menolehkan kepalanya ke samping. Pandangannya tertuju kepada sebuah bingkai yang terpajang sangat rapi diatas nakas, dimana didalam bingkai itu merupakan foto anak serta istrinya


"Kalian berdua dimana? Papah sangat merindukan kalian berdua disini," ucap Dave, dengan menatap sayu foto istri dan anaknya. Dave mengusap wajahnya kasar


"Shhhh..." saat merasakan sakit menyerang dadanya, buru-buru Dave membuka laci meja nakas tempat bingkai foto itu berada.


Dengan tangan sebelah meremas dadanya yang terasa sakit, dan dengan tangan yang lain Dave meraih botol berwarna putih yang selalu menemani dirinya saat rasa sakit itu menyerang organ tubuh dalamnya


Dave memasukan satu pil dari botol tersebut ke dalam mulutnya, ia meraih gelas yang berisi air putih disamping bingkai foto itu. Gelas itu tidak pernah kosong, bahkan Dave sampai menyediakan persediaan air putih didalam pakai yang lebih besar.


"Hah..." Dave menghela nafas kasar setelah rasa sakit yang menderanya itu berangsur hilang, namun sekarang jantungnya malah berdegup begitu kencang akibat efek dari rasa sakit itu


"Aku harus bisa, aku harus bisa berdamai dengan diriku sendiri. Jika aku terus seperti ini bagaimana mereka akan kembali, bagaimana istriku akan memaafkan aku, jika aku hanya diam dan sakit-sakitan begini?" Dave terus berbicara sendiri, mengenai dirinya yang seperti orang tidak memiliki daya apapun. Selama dua tahun ia hanya menghabiskan waktu dengan minum-minuman


"Tunggu aku sayang, aku pastikan kita akan bertemu lagi. Aku janji." dengan penuh keyakinan Dave berjanji kepada dirinya sendiri kalau ia akan bertemu lagi dengan istri tercinta, Dave mencari keberadaan ponselnya


"Hallo Jerr, hubungi orang-orang ku. Kita berangkat besok ke Malang menggunakan jet pribadiku." ucap Dave kepada orang disebrang yang tidak lain adalah Jerry

__ADS_1


"Aku tidak ingin telat, jadi kamu pastikan saat aku tiba disana kamu dan orang-orang ku sudah ada disana." setelah mengatakan itu Dave mematikan panggilan itu, dan melempar ponselnya keatas meja nakas.


"Tunggu Papah sayang, sebentar lagi Papah akan menjemput kalian. Sudah cukup waktu dua tahun kita berpisah, sudah cukup Papah membiarkan kalian hidup sendiri tanpa Papah disamping kalian." ucap Dave lirih sambil tangan yang mengusap foto istri dan anaknya


****


Jerry menggeleng pelan saat tidak lagi mendengar suara Bos nya. Ia sudah tahu kalau Dave memutuskan panggilan itu secara sepihak tanpa mengucapkan kata apapun. Jerry melirik layar ponselnya, dan benar saja panggilan itu sudah terputus


"Siapa Mas?" Jerry menoleh ke belakang ketika mendengar suara lembut sang istri


"Sayang, biasalah. Siapa lagi kalau pemimpin Alexander Compeny." jawab Jerry menghampiri sang istri, ia meletakkan ponselnya di meja nakas dan memeluk sang istri dari belakang


"Sudah, baru saja tertidur setelah lelah bermain dengan Aunty dan Uncle nya." jawab Sheila, ia memiringkan sedikit kepalanya lalu tersenyum saat melihat wajah suaminya yang begitu sangat dekat dengan wajahnya


"Kenapa?" tanya Jerry karena melihat sang istri senyum-senyum melihat dirinya, Sheila menggelengkan kepalanya


"Aku tampan bukan?" tanya Jerry dengan penuh percaya diri. Lagi-lagi Sheila menggelengkan kepalanya


"Jika aku tidak tampan mana mau kamu dengan aku!" seru Jerry, yang dimana itu malah membuat dirinya terkekeh pelan

__ADS_1


"Bukankah sudah jelas alasan mengapa aku mau menikah dengan kamu?"


"Ya aku tahu itu, tapi tidak dapat dipungkiri jika kamu juga terpesona dengan ketampanan aku kan?" goda Jerry, ia mengecup singkat leher Sheila, membuat istrinya itu menggelinjang karena kegelian


"Kalau aku terpesona dengan ketampanan kamu, mana mungkin aku merayu Tuan muda Alexander itu." jawab Sheila. Jerry terdiam mendengar jawaban sang istri, ada rasa tidak terima saat Sheila mengatakan itu. Dimana seharusnya itu sudah terkubur dalam-dalam seiringnya waktu, tetapi Sheila malah membukanya lagi saat dirinya sudah mulai mencintai istrinya


"Ahh... Ternyata kamu masih mengingatnya." ucap Jerry, dengan perlahan ia melepaskan pelukannya di pinggang sang istri


Sheila menggigit bibirnya dalam. Ia membuat kesalahan karena membahas masalalu yang seharusnya tidak ia bahas disaat semuanya sudah berjalan dengan baik.


"Mas, maaf..."


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2