Possesif CEO

Possesif CEO
Insiden


__ADS_3

Tutt... Tutt... Tutt...


Suara dari Elektrokardiogram seiring dengan cairan infus yang jatuh seiring waktu. Dave, pria itu kini terbaring koma di rumah sakit dengan semua alat menempel pada tubuhnya, setelah beberapa saat lalu ia dan sang istri bertengkar didepan hotel, kini ia terbaring tak berdaya di brankar rumah sakit


Veny menatap sendu putra tunggal nya dengan Davin yang setia menenangkan sang istri dengan cara mengusap bahu Veny dengan penuh kelembutan


"Apa yang terjadi sayang? Kenapa kamu dan Sena harus menghadapi cobaan terus seperti ini? Hikkss.." lirih Veny pada putranya, seumur hidupnya Veny baru kali ini merasakan kesakitan dalam dirinya, mendengar anak dan menantunya kecelakaan dunianya terasa berhenti, dan ketika mendapati keadaan putranya kritis saat itu juga Veny tak dapat menahan emosinya.


"Apa yang harus Mamah katakan kepada kedua anak mu? Apa yang harus Mamah jawab saat mereka menanyakan keberadaan kamu dan Sena? Dan apa yang harus Mamah katakan kepada Sena jika dia sadar nanti?.."


"Haruskah Mamah mengatakan kalau janin berumur delapan minggu itu harus menyusul Kakak tertuanya?.. Jawab Mamah sayang! Dan kamu harus bangun Mamah enggak suka melihat anak kesayangan dan bandel Mamah seperti ini. Hikss.." Veny menelungkepkan kepalanya disamping tangan Dave


"Sayang, kamu tidak boleh menangis seperti ini. Anak kita masih hidup, jangan tangisi dia seolah-olah dia sudah tiada." ucap Davin menenangkan istrinya


Davin juga merasakan apa yang istrinya rasakan. Ia juga ingin menangis kala melihat keadaan putranya dan menantunya. Apalagi dengan keadaan putranya seperti ini dan ditambah cucunya yang masih belum berbentuk sempurna itu harus kembali kepada sang pencipta


Apa yang akan Davin dan istrinya katakan, ia tidak ingin kejadian dulu terulang lagi, dimana cucu pertamanya pergi saat masih didalam kandungan. Dan kali ini ia yang harus menjelaskan kepada menantu dan anaknya


"Mamah enggak sanggup Pah, apa yang akan kita katakan kepada kedua cucu kita? Mereka pasti akan bertanya-tanya ke mana perginya Papah dan Mamah nya." Veny mendongakenatap wajah suaminya dengan derai air mata yang tidak berhenti mengalir


Flashback~


"Habis lunch langsung tidur siang ok!" seru Veny kepada kedua cucunya yang sedang menegak susu yang telah Bi Siti buatkan. Dimana susu itu memang sudah Veny sediakan karena mengingat kedua cucunya sering menghabiskan waktu bersama mereka


"Sure, Oma." jawab Vano dengan tampang andalannya


"Ya Oma, Vina juga lelah seharian main rumah-rumahan dengan Liona." jawab si kecil sambil mengusap bibirnya yang terdapat sisa susu menggunakan punggung tangannya


"Kok adik bisa betah bermain dengan anak manja seperti macan betina kecil itu," gumam Vano dengan menggelengkan kepalanya heran menatap ke gelas yang susunya sudah tandas ia minum


"Namanya Liona bukan macan betina kecil Kakak!"


"Buang saja huruf terakhir dibelakang nya, bukankah arti Lion itu singa?" Veny terkekeh geli mendengar cucu laki-lakinya ini menjelaskan kepada adiknya. Entah mengapa Devano sangat tidak menyukai Liona yang merupakan cucu tunggal keluarga Maheswara


"Sayang,"


"Kenapa Pah?" Veny melangkah mendekat kala melihat guratan panik di wajah suaminya

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Veny lagi setelah berada dihadapan Davin. Davin menelan kasar salivanya saat tatapan penuh tanya di mata istrinya. Davin melirik kearah meja makan yang terdapat kedua cucunya yang tengah bercengkrama


"Dave dan menantu kita kini sedang dilarikan ke rumah sakit," bisik Davin ditelinga istrinya takut kalau kedua cucunya mendengar


Saat itu juga tubuh Veny merasa begitu lemas, jika saja Davin tidak menahan tubuhnya sudah dapat Veny pastikan dirinya akan luruh ke lantai dan membuat kedua cucunya bertanya apa yang terjadi.


"Jangan seperti ini sayang, ingat ada Vano dan Vina!" peringat Davin, agar sang istri mengontrol dirinya


"Kita harus ke rumah sakit sekarang Pah, menantu dan anak kita..."


"Shuttt... Tahan Veny, kamu mau mereka ikut khawatir?" Veny menggeleng pelan sambil menggigit bibir bawahnya kuat, ia memikirkan keadaan anak dan menantunya. Apalagi di sepanjang hidup Dave, Veny bahkan tidak mau melihat anaknya terluka sedikitpun, bahkan seujung kuku sekalipun Veny adalah orang yang sangat takut putranya terluka baik itu fisik maupun batin


"Kita titipkan dulu mereka kepada Lita, setelah itu kita pergi." ucap Davin lalu melangkah kecil mendekati kedua cucunya


"Opa laper lagi ya?" senyum kecil terlihat di ujung bibir Davin mendengar pertanyaan cucu cantik


"Nope. Opa hanya ingin berpamitan untuk membawa Oma keluar sebentar karena ada urusan mendadak,"


"Kalian enggak masalah kan main dengan Mbak Lita?" tanya Davin memandang keduanya bergantian.


Sedangkan kedua bocah itu menatap Davin dengan begitu polosnya, membuat hati Davin sesak saat ia mengetahui sesuatu namun harus ia sembunyikan dari keduanya


"Lita!"


"Ya Tuan?" tanya Lita yang merupakan anak Bi Siti


"Tolong bawa kedua cucu saya ke kamar mereka ya, saya dan istri saya ada urusan sebentar." ucap Davin tanpa mengalihkan tatapan nya dari keduanya


"Baik Tuan."


"Kalian jangan nakal," keduanya mengangguk


"Dan cucu Opa yang tampan ini harus jagain adik." Vino mengangguk lagi


Davin melirik ke samping saat sang istri sudah berada di sampingnya


"Oma dan Opa keluar sebentar,"

__ADS_1


Cup


Cup


"Jaga mereka ya Lita." ucap Veny dan menarik lengan suaminya untuk pergi dari ruang makan cepat


"Sekarang waktunya tidur ya anak-anak!"


Flashback off~


****


"Permisi Om!!" Davin yang berdiri dibelakang Veny menoleh


"Ada apa Jerry?"


"Maaf mengganggu Om, saya hanya ingin memberitahu kalau Sena sudah siuman."


"Sena sudah sadar?!" tanya Veny cepat, yang dibalas anggukan oleh Jerry


Tanpa berkata Veny bangkit dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari ruangan putranya, mau tidak mau Davin pun mengikuti sang istri. Namun saat akan melewati Jerry, Davin menghentikan langkahnya


"Pulang lah dulu Jerr, kamu perlu istirhat."


"Tap..."


"Ini perintah dari Om sebagai pemilik Alexander group." ucap Davin tak terbantah


"Baik Om." jawab Jerry pasrah, lagi pula tubuhnya sangat lelah


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2