
Dave meletakkan tubuh mungil putranya diatas keranjang yang dulu pernah Mamah nya siapkan barang kali mereka pulang ke rumah orang tuanya itu. Dan keranjang itu hanya beberapa kali dipakai oleh Vano, sebelum istri dan anaknya itu pergi.
"Cupp.. Cupp.." Dave menepuk-nepuk pelan paha putranya karena gerakan yang ia lakukan membuat tidur putranya itu sedikit terganggu
Melihat kalau putranya sudah kembali tenang, Dave pun memberikan kecupan selamat malam untuk putranya, dan meninggalkan putranya sendiri disalam kamar itu. Sebelumnya Dave juga sudah meminta kedua orang tuanya untuk tidur disana menemani anaknya
"Sena sudah naik ke atas Mah?" tanya Dave yang baru sampai di ruangan keluarga itu lagi namun tidak mendapati adanya Sena disana
"Iya sayang, apa kamu tidak mengecek kamar dulu sebelum turun?" tanya Veny yang tengah asik melihat-lihat baju-baju bayi yang lucu di akun instagram nya
"Tidak. Dave pikir Sena masih dibawah." Dave mendudukkan dirinya kembali ditempat ia duduk tadi. Melihat kedua orang tuanya yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing membuat Dave bosan, ia meraih cemilan Mamah nya yang ada diatas meja
"Kapan kamu akan masuk kerja son? Papah sudah lelah menggantikan mu, dan waktu berduaan Papah dengan Mamah mu juga sudah sangat berkurang karena harus menggantikan mu di kantor."
"Lah? Papah juga ngapain gantiin aku di kantor? Lagi pula kan sudah ada sekretaris aku, dia bisa kok ngehendle semuanya."
"Terus apa yang akan di katakan oleh semua karyawan kamu?"
"Tidak ada." jawab Dave asal dengan mulut yang sibuk mengunyah cemilan yang ada di pangkuannya
"Memang nya kamu tahu? Mereka akan berpikir buruk tentang kamu nak, maka dari itu Papah tidak membiarkan perusahaan kosong tanpa adanya pemimpinya."
"Pah, berbicara apapun tidak mereka itu tidak akan berarti apaapa Pah, mereka tetap mendapat gaji." Davin menggelengkan kepalanya
"Terserah kamu saja, pusing Papah ngomongin kamu ini tidak mau di dengar." ujar Davin yang memilih mengalah, lagi pula ia tidak akan menang jika harus berdebat dengan anak tunggalnya
__ADS_1
"Ya Papah aneh, semua karyawan ku pasti mengerti jika Presdir mereka sedang ada masalah." Davin menatap putranya diam, begitu pula sebaliknya dengan Dave yang menatap Papah nya
"Hei kalian berdua! Kenapa jadi bertengkar seperti itu?"
"Sayang, sudah sana ke atas istirahat! Bukankah kamu mengatakan kalau ingin memilik anak lagi?" Dave yang mendengar itu langsung menoleh menatap Mamah nya
"Mamah kok pinter sih? Aku hampir lupa." Dave meletakkan wadah cemilan itu lagi ditempat semula, iapun segera bangkit dari sana untuk menuju lantai atas. Dimana letak kamarnya berada
"Dasar, Mamah dan Papah sampai di lewatkan!"
"Eittt..." Dave melengoskan kepalanya ke belakang saat baru beberapa kali melangkah
"Mah, ingat anak Dave tidur sendiri diatas." Veny mengangguk, dan saat Dave akan kembali melangkah lagi-lagi ia berbalik
"Jangan lupa doakan anak tampanmu ini ya Mah," Veny mengacungkan dua jempolnya, membuat senyum manis terbit di wajah tampan putranya itu
"Aamiin. Semoga ya Mah." Dave pun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.
"Dasar anak itu, sudah punya anak tapi kelakuan masih seperti anak-anak." ucap Veny dengan menggeleng pelan
"Kamu juga yang terlalu memanjakannya Mah, wajar saja kalau dia seperti itu." sela Davin
"Kok Mamah sih Pah, bukannya Papah juga ya yang memanjakan dia?"
"Ya karena dia anak Papah, kalau bukan anak Papah mana mungkin Papah mau memanjakan dia." Veny mengerutkan kedua dahinya
__ADS_1
"Entah kenapa Mamah merasakan aura aneh di rumah ini, apa jangan-jangan dia marah karena di tinggal dua hari?" Veny tampak berpikir keras, membuat Davin yang melihat itu tidak berminat untuk bersuara lagi
"Tidak anak tidak Mamah nya, sama-sama menyebalkan." gumam Davin, iapun memilih pergi meninggalkan sang istri sendiri disana daripada harus bertengkar karena masalah sepele. Sedangkan Veny yang melihat kepergian suaminya itu hanya tersenyum kecil, ia juga tidak mengerti mengapa orang-orang hari ini sedikit aneh di matanya
"Hah sudahlah, daripada pusing mikirin yang tidak penting, mending aku lanjut melihat-lihat baju-baju lucu ini."
****
Dengan perlahan Dave mendorong pintu kamarnya, sudah seperti seorang maling itulah yang menggambarkan Dave saat ini. Ia hanya tidak ingin membuat Sena tahu kedatangannya, karena Dave ingin kedatangannya itu menjadi sebuah kejutan.
"Kejutan? Lagi pula untuk apa dia terkejut ya? gumam Dave berbicara sendiri pada dirinya. Sama hal nya membuka pintu tadi, kini Dave menutup pintu itu dengan perlahan agar tidak meninggalkan suara
"Kok sepi? Ke mana orangnya?" tanya Dave karena tidak melihat ada siapapun disana. Ia melangkah pelan melihat ke setiap sudah ruangan mencari seseorang yang selama ini ia tunggu
"Sayang kamu dimana?!.." Dave memanggil Sena. Namun tidak ada balasan
"Sayang?!" Dave menjadi sedikit takut kala tidak menemukan adanya sang istri didalam kamar itu. Saat ia berbalik untuk keluar dari sana, telinganya tidak sengaja mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Senyum licik tampak terlihat di wajah tampan itu
"Dia sengaja rupanya, baiklah sayang kita memulai dibawah guyuran air di malam hari." Dave langsung membuka seluruh pakaian nya disana dan segera berjalan memasuki kamar mandi
_
_
_
__ADS_1
_
Bersambung...