Possesif CEO

Possesif CEO
Permintaan Veny Kepada Sena


__ADS_3

Bantu vote gih, masak sekian banyak readers aku satupun enggak ada yang vote.


****


Sena menambahkan makan malam di piring suaminya, setelah merasa kalau itu sudah sesuai dengan porsi Dave, Sena pun memberikannya kepada suaminya yang telah menunggu


"Terima kasih sayang," ucap Dave dengan menerima piring pemberian istrinya, Sena pun tersenyum mendengar ucapan terima kasih Dave


"Jawab dong sayang!" seru Dave karena Sena tak membalas ucapan terima kasih nya


"Sama-sama." jawab Sena pelan


"Sayang nya mana?" Sena melirik ke arah mertuanya yang ternyata tengah tersenyum kecil karena ulah Dave


"Apaan sih?" gumam Sena


"Ayolah sayang, kamu tidak romantis banget sih! Mau aku buat enggak bisa jalan lagi?"


"Dave!" Sena menunduk malu, ia malu saat Dave berkata seperti itu didepan orang tuanya


"Sama-sama sayang." ke empat orang yang ada di meja makan itu menoleh ketika suara kecil Vano yang tiba-tiba bersuara


Terlihat anak berumur dua tahun itu sedang begitu santai menikmati makan malamnya tanpa peduli pandangan para orang tua kepadanya. Dave menggeleng pelan dengan kelakuan putranya, padahal ia meminta sang Mamah untuk mengatakan hal itu, tetapi malah anaknya yang mewakili


"Dasar baby nya Papah, enggak romantis lah kalau baby yang jawab." Dave memajukan bibirnya ke depan


"Papah ribet sih, orang mau makan saja harus banyak aturan, kan pamali Pah." ujar Vano, Davin dan Veny mengangguk setuju dengan apa yang cucunya katakan


"Tuh dengerin sayang, masak kamu kalah sama anak kamu sih!"


"Mamah kok jadi ikut-ikutan sih?" tanya Dave yang tidk suka Mamah nya malah membela sang anak


"Ya sudahlah Dave, makan tinggal makan kenapa harus ribut. Lagi pula kamu bisa sayang-sayangan nanti dengan Sena, kalau di sini kan Sena nya malu sama Papah dan Mamah."


"Ohh ya, kenapa aku tidak kepikiran ke sana ya." Dave melihat ke arah istrinya dan mengedipkan sebelah matanya, membuat Sena yang melihat itu menjadi sedikit salah tingkah


"Dasar tidak tahu malu, di depan orang tuanya saja dia seperti itu," Sena tersenyum kikuk melihat kedua mertuanya yang tengah menatap dirinya


"Ayo makan sayang, bukankah kita akan kembali ke rumah kita!"


"Kalian jadi pulang malam ini Dave?" tanya Davin sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya


"Iya Pah."


"Kenapa tidak tinggal di sini dulu sih sayang? Mamah kan masih ingin dekat dengan cucu Mamah!" Dave tersenyum tipis mendengar kalimat Mamah nya

__ADS_1


"Mamah bisa menginap di rumah Dave Mah kalau rindu dengan Vano, lagian juga rumah ini dengan rumah Dave tidak jauh-jauh amat."


"Lagi pula untuk apa sih kamu membeli rumah itu? Sudah tahu anak Papah dan Mamah cuman kamu, sayangkan kalau rumah ini tidak ada yang menunggu kalau Mamah dan Papah menginap di rumah kamu."


"Cucu Mamah yang lain kan belum lahir, nanti kalau mereka sudah besar mereka bisa menunggu rumah ini."


"Papah ingin Vano yang menjadi pewaris selanjutnya Alexander company group. Papah lihat skill dia melebihi kamu, dan adik Vano bisa kamu berikan perusahaan yang kamu bangun di Paris."


"Ya Pah, aku pikir juga seperti itu. Aku ingin anak-anakku kelak bisa menjadi orang-orang hebat dan terkenal di seluruh dunia dengan kemampuan yang mereka miliki." Davin mengangguk setuju dengan apa yang putranya katakan, itu adalah pemikiran yang bagus untuk keturunan Alexander dan penerus berikutnya


Sena yang sejak tadi mendengar pembicaraan suami dan mertuanya itu mengangkat kepalanya dan mendapati Dave yang tengah menatap dirinya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajah tampan nya itu


"Keluarga ini sangat berharap memiliki banyak anak dan cucu, lihat saja wajah itu yang begitu sangat mendambakan seorang anak lagi darinya." batin Sena, ia membalas senyum Dave dengan tipis


"Mau menbah cucu Opa?" Sena menoleh dan melihat piring anaknya sudah bersih


"Vano sudah kenyang Opa, perut kecil Vano rasanya ingin meledak." Vano mengusap perutnya, membuat orang yang ada di meja itu terkekeh mendengar ucapan Vano yang terdengar lucu


"Baiklah, sekarang minum dulu agar makanannya turun ke bawah." Vano mengangguk pelan dan menerima gelas kecil yang memang khusus untuknya


"Senang rasanya bisa melihat senyum itu, dan tidak ada lagi rasa bersalah menyembunyikan fakta dari amak sekecil ini. Semoga kelak jalan hidup kamu tidak seperti Mah dan Papah sayang." batin Sena yang memperhatikan anaknya yang begitu di sayangi oleh kedua orang tua Dave


"Sudah selesai sayang?" tanya Dave membuyarkan lamunan Sena


"Sudah kok." jawab Sena dan menatap Dave yang juga tengah menatap dirinya


"Ingat Mamah dan Papah Dave," ucap Veny kepada putranya


"Mamah, sudah Dave katakan tadi. Kenapa jadi mellow seperti ini?" Veny cemberut, ia menatap malas putranya


"Mamah kesal dengan kamu, kenapa harus membawa anak dan istri kamu terlalu cepat. Mamah kan masih ingin bermain dengan Vano,"


"Mah, kan sudah Dave katakan kalau kita bisa menginap atau tinggal di sana kalau kita mau. Lagi pula Mamah kesal seperti ini seakan Dave akan pergi jauh saja,"


"Tapi Pah,"


"Sudahlah Mah, jika besok Mamah ingin bertemu dengan Vano kita bisa ke sana besok." Veny mendengus sebal, iapun mengangguk pelan


"Ingat kamu juga jangan lupa kalau masih punya orang tua,"


"Mamah! Mulai deh,"


"Iya-iya." lalu pandangan Veny tertuju kepada cucu tampannya yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan orang-orang dewasa itu berbicara


"Oma pasti akan rindu dengan Vano,"

__ADS_1


"Vano juga pasti akan sangat rindu Oma." Dave tersenyum mendengar itu


"Sini Oma cium dulu!" Dave pun merendahkan dirinya agar sang Mamah bisa menjangkau putranya


"Jangan nakal ya sayang,"


"Siap Oma." Vano mengacungkan jempol kanannya


"Pintar."


"Opa, Vano ikut Papah dulu ya. Nanti kalau Opa tidak sibuk ajakin Vano main ya!"


"Siap cucu tampan Opa, pasti Opa akan mengajak Vano bermain setiap hari." Vano tersenyum lebar mendengar jawaban dari Opa nya


"Ya sudah kalau begitu kami pamit pulang dulu ya Pah, Mah."


"Hati-hati di jalan sayang." ucap Veny, Dave mengangguk dan segera melangkah menuju mobil, ia membiarkan istrinya untuk berpamitan lagi dengan kedua orang tuanya


"Pah, Mah! Terima kasuh banyak sekali lagi,"


"Hei, kamu ini! Sudah Mamah katakan bukan sama kamu?" Sena mengangguk


"Jadi berhenti seperti ini."


"Ya Mah, maaf." jawab Sena tidak enak


"Sena!"


"Ya Mah?" Sena sedikit takut saat melihat Veny menatapnya dengan begitu inten


"Jaga Vano ya sayang, dia itu aslinya sangat lemah nak. Cuman kamu yang bisa membuat dia seperti itu, tolong jika ada masalah bicarakan dulu, jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan." ucap Veny, yang ternyata meminta ia untuk menjaga anaknya, sudah seperti anak kecil saja pikir Sena


"Ya Mah."


"Ya sudah sana! Lihat mereka sudah menunggu kamu!" seru Veny yang melihat Dave dan Vano tengah melihat ke arah mereka


"Kalau begitu Sena pulang dulu Pah, Mah." Sena menyalami Davin dan Veny


"Hati-hati, kalau sudah sampai langsung istirahat." Sena mengangguk, setelah itu iapun menyusul Dave dan putranya.


_


_


_

__ADS_1


_


Bersambung...


__ADS_2