
Setelah menyelesaikan keinginan istrinya Dave langsung ke kamar dan membersihkan dirinya didalam kamar mandi yang ada didalam kamar, ia pun memakai kembali pakaian yang sempat ia pakai tadi.
Sena memperhatikan suaminya sambil memakan sarapan yang telah dibuatkan oleh suaminya. Ada nasi goreng yang tadi, dan juga ada sarapan tambahan yaitu roti tawar dengan selai strawberry dan segelas susu ibu hamil yang telah Dave buatkan untuknya
"Di habiskan ya sayang, aku enggak mau kalau itu sampai tersisa." ucap Dave yang sedang memakai kemeja
"Iya sayang, aku habiskan kok jangan takut." jawab Sena dengan mulut yang penuh dengan makanan. Dave tersenyum melihat kelakuan istri kecilnya itu
Setelah memakai kemeja serta celananya, Dave mengambil dasi yang ia sampirkan meja nakas. Ia pun membawanya menuju cermin meja rias sang istri untuk memakaikan dasi itu di lehernya
"Biar aku yang menyimpulnya sayang, kemari lah!" Dave melihat istrinya dari cermin, ia mengangguk dan melangkah menuju kasur. Sena juga ikut tersenyum melihat Dave yang tidak berhenti tersenyum
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Sena dan mulai menyimpulkan dasi itu dikerah baju yang Dave pakai. Sena memperhatikan tangannya yang menyimpulkan dasi itu, sedangkan Dave memandang wajah istrinya
Cup.
"Hei kamu!" teriak Sena yang dimana Dave tiba-tiba saja mengecup keningnya.
"Kamu manis banget hari ini sayang selalu panggil aku dengan panggilan sayang. Biasanya juga..."
"Oh jadi kamu lebih suka dipanggil nama ya?" Dave menggelengkan kepalanya
"Aku lebih suka di sayang kamu." jawab Dave manja dan menelusupkan kepalanya ke leher jenjang sang istri dan menciumnya disana dengan sedikit sesapan. Sena menggeliat merasakan sengatan listrik yang ditimbulkan dari ciuman Dave pada lehernya. Kebiasaan Dave jika tidak bisa melampiaskan pada Sena, Dave akan melakukan sesuatu untuk menghilangkan keinginannya yang ingin sekali menyentuh sang istri
"Sudah?" tanya Dave setelah menjauhkan kepalanya dari sana
"Sudah." Dave menunduk, ia tersenyum melihat dasinya sudah tersimpul dengan rapi
"Aku takut tidak bisa menahan nafsu, jadi aku langsung berangkat saja ya. Kalau ada apa-apa telpon Bi Ina, jangan melakukan sesuatu sendiri." peringat Dave, ia menarik tengkuk Sena dan mengecup kening istrinya disana. Saat ia akan bangkit dari sana, matanya tak sengaja melihat kearah perut besar sang istri
"Jaga Mamah ya sayang, Papah berangkat kerja dulu." ucap Dave didepan perut besar Sena, tidak lupa ia juga memberikan kecupan dan elusan sayang pada anaknya didalam sana
__ADS_1
"Habiskan makannya ya sayang," Sena menganggukkan kepalanya lagi, suaminya itu berulang-ulang mengingatkan dia untuk menghabiskan makannya, padahal ia sudah memakan cukup banyak nasi goreng yang ada didalam piring itu
"Pintar." Dave mengusap kepala Sena, setelah itu ia bangkit dari sana dan menyambar jas nya yang berada diatas kursi meja rias milik sang istri. Sebelum keluar dari sana Dave menyempatkan berdadah dengan Sena.
****
Dave menghela nafasnya kasar, ia memijat pelepisnya yang terasa begitu pening. Sejak keluar dari dalam kolom renang tadi ia sudah merasakan pusing di kepalanya, namun karena tidak ingin membuat istrinya khawatir Dave menahan rasa pusing di kepalanya
"Apa yang terjadi Presdir? Anda terlihat sedang tidak sehat hari ini?" tanya Jerry yang baru saja masuk ke dalam ruangan Dave. Dave yang sedang memejamkan matanya itupun membuka matanya dan melirik kearah Jerry
"Entahlah Jerr, begini kalau punya istri yang sedang hamil. Aku hampir mati kedinginan karena ngidam Sena yang begitu sangat aneh."
"Memang nya ngidam apa sampai membuat anda seperti ini?" tanya Jerry dan meletakkan berkas diatas meja kerja Dave
"Menyuruhku untuk berenang menggunakan pelampung bebek tanpa menggunakan busana, apa itu tidak gila?"
"Apakah anda tidak berbohong Presdir?" tanya Jerry tidak percaya dengan apa yang Dave katakan
"Sulit untuk dibayangkan orang seperti anda berenang tanpa mengenakan sehelai kain, apa anda tidak khawatir ada yang melihat?"
"Jangan kamu bayangkan Jerr, karena aku saja merasa jijik bagaimana dengan orang lain. Tentu saja aku melarang semua pekerja dirumah ku untuk tidak berada disekitar sana selama aku dan Sena ada disana."
"Maaf Presdir saya tidak bisa menahan tawa saya," Jerry tersenyum-senyum dengan melihat kesana kemari agar tidak tertawa lepas dihadapan Dave
"Silahkan saja jika itu lucu bagimu, aku tidak akan melarangnya." jawab Dave dan mengambil berkas yang Jerry bawakan, ia menoleh kearah pintu saat mendengar suara ketukan
"Masuk!" seru Dave, tidak lama Sheila lah yang muncul dengan membawa berkas di tangannya
"Presdir, ini berkas laporan kemarin dan hari ini." ucap Sheila setelah berada didepan meja Dave
"Letakkan saja disana." Sheila mengangguk dan meletakkan map yang ia bawa ditempat dimana Jerry meletakkan berkas tadi
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi keluar dulu Presdir."
"Hmm." Sheila melihat sekilas kearah Dave yang tengah serius melihat laporan, saat ia berbalik badan matanya tak sengaja bertemu dengan mata Jerry. Namun dengan cepat Sheila memutuskan tatapan itu dan segera pergi dari sana
Setelah mendengar suara pintu tertutup kembali, Dave mengangkat kepalanya dan menatap pintu ruangannya. Dave juga melihat aneh kearah Jerry yang menatap pintu ruangannya sampai segitunya
"Ada sesuatu di pintu itu Jerr?" Jerry tersadar dari lamunannya kala mendengar suara Dave
"Ya Presdir?" tanya Jerry lagi yang memang tidak mendengar jelas apa yang Dave tanya kan.
"Apa pintu itu begitu menarik sampai kamu melihatnya seperti itu?" tanya Dave sekali lagi dan melihat kembali apa yang sedang ia periksa tadi
"Dia terlihat aneh, akhir-akhir ini dia tidak menggodaku lagi setelah terakhir kemarin aku ancam dia dengan mengatakan akan menghabisi seluruh keluarganya jika dia terus berusaha mencari cara untuk membuat rumah tanggaku retak." ujar Dave, tapi Dave juga merasa sedikit bingung kenapa tidak ada suara Jerry disana sedangkan ia rasa Jerry belum berpamit padanya untuk keluar dari sana. Dave yang penasaran itupun mengangkat kepalanya, ia mengangkat sebelah alisnya melihat keterdiaman Jerry. Lagi-lagi Dave menangkap Jerry tengah melamun
"Aku membicarakan Sheila yang aneh, tetapi dia juga sangat aneh hari ini. Apa yang membuat orang-orang hari ini menjadi begitu aneh, aku tidak percaya ini!" Dave menggelengkan kepalanya saja, ia menutup berkas yang sudah selesai ia periksa dan mengambil berkas yang lain sambil sesekali ia memijat pangkal hidungnya untuk mengalihkan rasa pusing yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba saja menghilang
"Keluarlah Jerr, jangan menjadi patung didalam sini masih banyak pekerjaan yang harus kamu kerjakan selain melamun dihadapan ku." ucap Dave dan melemparkan bolpoin kearah Jerry sehingga mengenai kepala Jerry yang tengah melamun itu. Seketika Jerry terkejut saat ada sesuatu yang mengenai kepalanya
"Cepat sana keluar!"
"Maaf Presdir, kalau begitu saya permisi!" Jerry pun dengan cepat melangkah keluar dari sana
"Hah! Apa gara-gara mimpi semalam aku jadi merasa kalau orang-orang hari ini pada aneh." gumam Dave
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...