
Dave mengendurkan dasinya yang terasa mencekik lehernya, setelah merasa bisa sedikit bernafas iapun segera turun dari mobilnya dan membawa jas yang sudah ia lepas sejak keluar dari kantor
Tungkai panjang Dave melangkah memasuki rumahnya, rumah besar dengan keluarga kecil dan para asisten yang lebih dari sepuluh, tidak membuat suasana rumah besar itu ramai. Persis seperti rumah orang tuanya dulu
"Sayang!" Dave menoleh ketika mendengar suara istrinya, ia tersenyum saat melihat istrinya berjalan ke arahnya
"Ya sayang, kamu dari mana?" tanya Dave menarik pinggang sang istri dan mengecup bibir merah merona itu singkat
"Aku lapar setelah puas bermain bersama anak kamu."
"Oh ya, mana anak aku?" tanya Dave yang tidak melihat putranya itu
"Entahlah, mungkin sedang bermain dengan Bi Sri." jawab Sena begitu sangat manja, membuat Dave yang melihat itu sedikit takut karena istrinya itu jika sudah seperti ini pasti ada maunya
"Sayang," panggil Sena manja
"Hmm?"
"Semoga saja tidak yang aneh-aneh tuhan." batin Dave, ia sudah sangat was-was dengan keinginan Sena yang mungkin bisa membuat ia gila seketika
"Ayo kita ke rumah sakit Alexander group!" Dave mengernyitkan dahinya
"Untuk apa sayang? Apakah perut kamu ada yang sakit?" tanya Dave panik jika kandungan Sena terjadi sesuatu. Tetapi Sena menggelengkan kepalanya
"Terus untuk apa kita ke sana?" tanya Dave
"Menjenguk anak Riko," jawab Sena dengan senyum yang mengembang
"Menjenguk anak Riko? Untuk apa?" kali ini Sena lah yang mengernyitkan dahinya
"Kok untuk apa sih? Aku kan mau lihat anaknya?" Sena mencebikkan bibirnya
"Tidak usah. Mendingan kamu istirahat, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak mau kamu kelelahan dan membahayakan kamu dan anakku." Sena mengembungkan mulutnya mendengar larangan Dave
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak boleh!" Sena menghempaskan tangan suaminya itu dan melangkah menuju kamar mereka yang berada diatas
"Sayang, sudah aku bilang jangan ke kamar atas lagi!" peringat Dave, sama seperti kehamilannya dulu, Dave memindahkan kamar mereka ke kamar tamu untuk sementara waktu. Dave hanya takut terjadi sesuatu jika Sena naik turun tangga
"Biar saja, aku juga tidak apa-apa kok jika harus naik turun tangga sampai dia lahir." Dave berdecak, iapun segera menyusul istrinya yang keras kepala itu
****
Dave memutar bola matanya jengah melihat kelakuan istrinya itu, bagaimana tidak sudah setengah jam lebih ia dan putranya duduk di sofa samping brankar yang ada di salah satu ruangan rumah sakit miliknya.
Saat pulang bekerja tadi, Sena merengek kepadanya untuk ke rumah sakit. Dimana hari ini merupakan hari bersejarah untuk pasangan suami istri Maheswara yang telah mendapatkan anugerah terindah dari tuhan berupa malaikat kecil yang sangat cantik. Melalui operasi caesar bayi cantik itu bisa melihat dunia
"Mamah lama banget ya Pah, Vano sudah mengantuk. Haaauhhmm." mulut kecil itu menguap begitu sangat lebar, terlihat kedua mata putranya sampai berair
"Baby Vano mengantuk ya sayang?" tanya Dave melihat wajah putranya. Vano mengangguk kecil
"Kalau begitu ajak Mamah untuk pulang nak, Papah juga sudah mengantuk sayang." Vano menatap wajah papah nya dan mengangguk pelan
"Mamah ayo kita pulang!" seru Vano, namun ajakannya itu seperti angin lalu bagi sena
Riko dan sang istri yang mendengar dan melihat anak laki-laki yang berada dipangkuan papah nya itu hanya bisa saling pandang. Riko menatap ke arah Dave, dimana pria itu tengah menatap ke arah mereka dengan tatapan yang sangat tajam. Seakan ingin membunuh lawan hanya melalui tatapannya
"Se, itu anak kamu sudah mengajak pulang!" Sena yang mendengar itu mengalihkan pandangannya dari bayi cantik anak sahabatnya itu dan menoleh ke belakang untuk melihat suami dan anaknya. Sena menelan salivanya kasar saat melihat tatapan yang suaminya tujukan kepadanya
"Ayo pulang! Jika kamu masih ingin di sini, kami berdua baby Vano permisi pulang duluan." ucap Dave dengan dingin
"Emm iya..." Sena pun bangkit dari duduknya, namun sebelum ia pergi dari sana, ia lebih dulu berpamitan kepada Riko dan istrinya
"Rik, Lin, aku pulang dulu ya. Selamat untuk kalian berdua, kini kalian sudah menjadi seorang Ayah dan Ibu." ucap Sena, sepasang suami istri itu tersenyum
"Terima kasih ya Se, kamu sudah meluangkan waktu untuk menjenguk. Dan selamat juga untuk kehamilan anak kedua kamu, aku berharap anak kedua kamu itu perempuan, agar anak aku nanti ada temannya." ujar istri Riko, kali ini Sena lah yang tersenyum
"Kamu salah Lin, ini bukan anak kedua aku. Tapi ini anak yang ke tiga, namun anak pertamaku tidak bisa melihat dunia karena tuhan lebih sayang dia."
__ADS_1
"Oh maaf Se, aku tidak tahu." Lina istri Riko merasa tidak enak hati
"Tidak apa-apa."
"Mamah ayo!"
"Oh ya," jawab Sena cepat, ia melupakan kalau dibelakang ada dua lelaki yang sedang menunggunya
"Kalau begitu aku permisi ya!" kedua orang tua baru itu mengangguk. Sena melangkah menyusul suami dan anaknya yang sudah lebih dulu melangkah menuju pintu. Sedangkan Riko dan Lina hanya memandang kepergian keluarga kecil itu
"Dia tampan, tetapi dia juga sangat dingin." ucap Lina
"Hmm, kamu memuji suami orang didepan suamimu, istriku?"
"Oh, aku tidak bermaksud begitu," Riko terkekeh pelan melihat wajah panik istrinya
"Kamu takut aku marah ya?" tanya Riko dengan senyum yang tidak lepas
"Suka banget sih mengerjai orang!"
"Hehe... Maaf, jangan marah sayang." wajah sang istri langsung memerah mendengar panggilan yang begitu manis itu
"Ciee..." ledek Riko
"Sayang..."
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...