
"Bersulang!"
Ting... Ting... Ting...
Suara empat gelas yang saling bersentuhan didalam ruangan kedap suara itu. Dave menegak minuman alkohol berkadar rendah yang telah Jerry siapkan atas permintaan Dave. Walaupun dengan berat hati Jerry tetap menyiapkan nya.
Ke empat pria itu memilih menikmati waktu malam libur mereka dengan minuman dan joget. Jerry yang awalnya melarang Dave untuk ikut, pada akhirnya ia ikut juga menemani Dave yang sendirian dengan keadaan sakit saat kambuh menyerang.
Jerry menegak satu gelas yang ada di genggamannya saja, setelah itu ia meletakkan lagi gelas keatas meja. Bukan karena Jerry kampungan, jika dia mabuk maka siapa yang akan melihat Dave. Ia tidak mau rencana yang telah ia dan Davin berantakan karena kecerobohan nya
"Lemah sekali Jerr, baru satu gelas sudah diletakkan kembali." ucap Dave meremehkan Jerry
"Hehhe... Maaf Presdir, suduh cukup satu gelas. Saya tidak ingin mambuk nantinya." jawab Jerry
"Aku mendengar kalau kamu sangat dilarang meminum minuman beralkohol seperti ini, tidak apakah jika kamu meminumnya sekarang?" tanya salah satu investor sekaligus rekan kerja Dave. Dave yang mendengar pertanyaan seperti itu hanya tersenyum simpul, ia mengangkat gelasnya sebentar dan menegak lagi isi yang ada didalam gelas itu dengan sekali tegak
"Mereka semua terlalu berlebihan, aku sakit bukanlah karena minuman ini. Tapi karena cintaku pergi meninggalkan aku." jawab Dave tersenyum sinis dan meminta Jerry untuk menuangkan lagi minuman itu ke dalam gelas
"Tapi Presdir, anda sudah terlalu banyak minum," ucap Jerry
"Tuangkan saja, tidak perlu memberitahu ini itu aku tahu segalanya." melihat tatapan tajam yang Dave layangkan kepadanya, dengan cepat Jerry menyambar botol minuman milik Dave dan menuangkannya
"Ya, aku melihat berita itu. Dimana didalam berita itu mengatakan kalau istrimu pergi meninggalkan kamu tanpa adanya alasan, awalnya kupikir itu bohong. Namun setelah mendengar kalau kamu keluar masuk rumah sakit akibat setres, membuat aku percaya kalau istrimu benar-benar pergi." ucap orang itu yang membuat adrenalinnya ingin terus menerus meminum alkohol yang ada di tangannya
Jerry memberi kode pada orang tersebut untuk berhenti berbicara seperti itu, hanya dengan seperti obrolan seperti itu malah membuat Dave tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Dave menoleh ke samping kiri dan kanannya kanannya kala tidak mendengar suara apapun lagi, Dave melihat rekan kerjanya yang tadi berbicara sudah berbincang serius dengan Jerry dan sekretarisnya
"Jerr..." Jerry menoleh saat Dave memanggil dirinya
"Ya Presdir!"
"Apakah kamu masih ingin disini? Aku akan kembali ke hotel duluan jika kamu masih ingin berada disini." ujar Dave
__ADS_1
"Kenapa terburu-buru sekali? Ini masih siang, apa tidak ingin berbincang-bincang dulu?" tanya rekan kerja Dave
"Maaf, mungkin lain kali saja. Lagi pula pembahasan kita sudah selesai, dan juga aku tidak tahu apa yang harus dibahas dengan keadaan mengantuk begini." rekan kerja Dave mengangguk pelan memaklumi keadaan Tuan muda Alexander itu
"Bagaimana Jerr? Apakah kamu ingin tinggal lebih lama disini pulang bersamaku?" tanya Dave lagi sambil melihat Jerry
"Saya pulang bersama Presdir saja." jawab Jerry
"Kalau begitu kami duluan! Sampai jumpa bulan depan di Jakarta." pamit Dave, setelah melihat kedua orang di hadapannya mengangguk, Dave segera pergi dari sana diikuti oleh Jerry dibelakang
"Ternyata itu pemimpin Alexander Compeny," ucap sekretaris rekan kerja Dave saat Dave dan Jerry sudah tidak berada disana lagi
"Kenapa?" tanya sang Bos
"Saya banyak mendengar tentang dia dari orang-orang dan berita, dia tidak seperti apa yang orang-orang katakan."
"Makanya jangan kebanyakan nonton berita dan dengar katanya sebelum melihat dan mendengar langsung."
****
"Terima kasih ya Bukde sudah mau menjaga Vano yang super aktif ini. Sena enggak tahu gimana nasib Sena kalau tidak ada Bukde." wanita paruh baya yang ada dihadapan Sena tersenyum kecil
"Tidak apa-apa nak, Bukde senang malah di kontrakan ditemani oleh baby Vano yang sangat lucu dan tidak bisa diam itu. Walaupun masih berumur dua tahun lebih dia sudah memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh anak seumuran dia." Sena melirik Putra nya yang begitu lelap tertidur didalam gendongannya
"Iya Bukde, dia menuruni semua yang dimiliki oleh Papah nya. Maka dari itu, setiap kali Sena melihat wajahnya selalu saja Papah Vano yang ada didalam pikiran Sena."
"Nak Sena pasti sangat Rindu dengan Papah nya Vano," ucap Bukde itu, Sena yang awalnya memperhatikan wajah pulas anaknya menjadi diam seketika
"Sangat Bukde." jawab Sena menatap pengasuh anaknya dengan begitu lekat
"Jika memang seperti itu kenapa tidak kembali saja?" Sena menggelengkan kepalanya pelan
"Dia saja tidak mencari Sena, lalu untuk apa Sena kembali. Lagi pula dia juga pasti sudah bahagia dengan wanita dan anaknya dari wanita itu." Sena kembali merasakan sakitnya, seperti saat Dave mengkhianatinya. Walaupun ia sangat merindukan Dave, tapi ia masih mampu menahan diri untuk tidak kembali ke pelukan Dave
__ADS_1
"Kenapa harus sesakit ini?" batin Sena merasakan sakit setiap kali mengingat penghiatan Dave kepadanya
"Apa nak Sena sudah melihatnya langsung dengan kepala mata nak Sena? Atau nak Sena sudah mendengarkan penjelasan dari Papah nya Vano?" tanya pengasuh Vano, selama bertetangga dan mengasuh baby Vano. Ia tidak pernah sekalipun bertanya sesuatu yang sangat privasi bagi Sena, entah setan darimana yang merasuki jiwanya hingga membuat mulutnya yang sudah lama bungkam itu bertanya
"Belum Bukde, tapi SSena sudah melihat langsung kalau Papah Vano mengkhianati Sena." Sena menjawab sambil sesekali melihat Putra nya dan juga sangat pengasuh
"Emm... Kalau dari perkiraan Bukde nak, kamu ini hanya salah paham saja."
Lagi, Sena menggelengkan kepalanya lagi. Ia tidak setuju dengan pendapat yang diberikan oleh pengasuh Vano, jelas-jelas ia melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri kalau Dave memiliki wanita lain selain dirinya. Bahkan wanita itu sudah akan melahirkan, dan itulah yang membuat Sena begitu sakit hati
"Apa nak Sena yakin kalau Papah Vano selingkuh?"
"Seharusnya nak Sena lebih memahami suami nak Sena. Bagaimana dia, bagaimana kesehariannya, dan bagaimana perjalanan cintanya." ujar pengasuh Vano memberikan masukan kepada Sena, sedangkan Sena terdiam mendengar ucapan yang dikatakan oleh pengasuh anaknya
"Nak Sena! Nak Sena!" seru pengasuh Vano yang melihat Sena tengah melamun menatap wajahnya
"Ah ya Bukde, maaf Sena melamun ya?" tanya Sena sambil tersenyum tidak enak
"Tidak apa kok nak, kamu pasti lelah sehabis pulang bekerja. Bukde kembali dulu ke kontrakan Bukde ya, selamat malam!"
"Malam Bukde." balas Sena, ia menatap punggung wanita paruh baya itu
"Benarkah aku tidak memahami suamiku?" gumam Sena
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1