
Lagi pagi sekali dunia, namun kedua anak manusia sibuk bergelut diatas kasur dengan keadaan si wanita sudah begitu sangat lemas. Mereka melakukan permainan itu dengan waktu yang begitu sempit, dimana mereka sedang di tunggu diluar
"Daveee..."
"Sebentar sayang.. Eughh... Kamu enak banget sayang," Dave mengatakan itu dengan menikmati permainannya, ia menggigit bibir bawahnya saat rasa itu semakin menggila, dan ia sebisa mungkin mempercepat pacuannya untuk sampai pada titik akhir permainan mereka
"Senaa..." teriak Dave dengan menahan kedua pinggang Sena agar tidak bergeser, ia tersenyum puas setelah menyemburkan benihnya didalam rahim sang istri
Nafas Sena tampak memburu setelah permainan suaminya berakhir, ia memejamkan matanya menikmati lelah yang melandanya, yang Sena takutkan sekarang adalah janin yang ada didalam perutnya
Dengan sangat lembut Dave mengusap perut besar istrinya, membuat Sena yang tengah memejamkan matanya sedikit terkejut saat merasakan usapan pada perut bagian bawahnya
"Maaf ya sayang kalau Papah nyakitin kamu dan Mamah, tapi Papah udah enggak tahan lagi kalau mau menunggu kamu lahir."
"Halahh... Orang setiap minggu kamu minta jatah," Sena mendengus sebal dengan kelakuan Dave yang mengatakan tidak bisa menahan sampai bayi mereka lahir, sedangkan suaminya itu selalu meminta jatah setiap minggu
"Kamu kan tahu sendiri sayang aku kayak gimana kalau lihat kamu, daripada aku jajan diluar," seketika Sena langsung membuka kedua matanya dan menatap tajam Dave
"Lihat saja kalau sampai berani jajan diluar, aku pergi lagi nanti." ancam Sena, dimana itu langsung membuat wajah Dave berubah menggelap
"Sampai itu terjadi aku cari kamu sampai ujung dunia sekalipun, dan saat kamu aku temukan nantinya tidak akan aku bolehkan kamu keluar walau sejengkal pun dari rumah ini."
"Kejam!" seru Sena sambil memukul pelan bahu suaminya
"Biarin, kalau itu yang bisa buat kamu enggak jauh dari aku." ujar Dave santai
"Tapi enggak sejahat itu juga kali, masa ya aku enggak boleh keluar sama sekali, bisa-bisa aku mati bosen diam dirumah." keluh Sena, padahal ialah asal permasalahan Dave membuat keputusan itu
__ADS_1
"Inget sayang, ada dua anak aku yang aku titipkan sama kamu. Kalau kamu ada pikiran seperti itu, sama saja kamu menyakiti hati kedua anakku karena telah berani memisahkan mereka dengan Papah mereka sendiri." Dave mengatakan itu dengan tangan yang kini mengusap anak rambut yang ada diatas dahinya
"Aku kan cuman ngancem kamu, tapi kamu nya udah menganggap serius."
"Bercanda ada batesnya sayang, kalau kamu bercanda kamu tadi itu sudah sangat berlebihan buat aku." jawab Dave menatap netra Sena
"Maaf," lirih Sena
"Jangan di ulangi lagi, kamu tahu bukan kalau aku begitu sangat mencintai kamu, dan kamu juga tahu gimana rasanya dunia aku saat aku kehilangan kamu." Sena mengangguk pelan, lagi-lagi ia berada di posisi seperti ini
"Baiklah sekarang ayo kita mandi, Mamah dan Papah sudah menunggu lama diluar." Dave pun perlahan melepaskan penyatuan mereka, membuat Sena harus menahan nafas
****
"Mamah sama Papah lagi ngapain sih didalam sana Oma?" Veny menundukkan kepalanya untuk melihat wajah tampan Vano
"Ya apalagi lah kerjaan Papah sama Mamah kamu didalam sana kalau bukan ngelonin adik." celetuk Davin yang tengah asyik dengan benda pipih miliknya
"Papah, kok ya..." Veny menggelengkan kepalanya dengan kelakuan suaminya itu
"Biar saja sih Mah, lagi pula dia tidak akan mengerti dengan itu."
"Ngelonin?" gumam Vano
"Ngelonin itu apa Oma?" saat pertanyaan itu meluncur sari mulut Vano, Veny melayangkan tatapan tajam nya kepada Davin
"Oma!" seru Vano saat Veny tak kunjung menjawab pertanyaannya
__ADS_1
"Coba tanya sama Opa sayang, kan yang mengatakan itu tadi Opa." Veny tersenyum puas melihat wajah gelagapan suaminya
"Opa?" Davin tersenyum saat cucunya itu menghadap dirinya
"Ngelonin itu... Emm... Papah Vano jenguk adik bayi, ya jenguk adik bayi." jawab Davin setelah cukup lama berpikir. Ia tersenyum geli dengan jawaban yang ia berikan kepada Vano. Sedangkan Veny begitu sangat puas dengan menertawakan suaminya
"Menjenguk adik bayi? Memang nya adik bayi sakit?"
"Hah?" pertanyaan Vano yang begitu polos itu membuat sepasang suami istri disana melongo
"Hahahha... Hahhhaha..." tawa Veny pecah dengan sendirinya, Vano yang berada di pangkuan Veny pun menoleh ke belakang ketika mendengar Oma nya begitu sangat enak saat tertawa
"Sayang, bantuin aku dong!" seru Davin
"Syukurin, makanya kalau bicara sama anak kecil itu jangan aneh-aneh." jawab Veny sambil menghapus air mata yang keluar di ujung mata
"Sudah ya sayang jangan bertanya lagi, suatu saat nanti kalau Vano sudah dewasa, Vano akan mengerti dengan sendirinya." Vano menatap wajah sang Oma, iapun mengangguk mengerti saat ucapan Oma nya tak main-main
"Ok Oma, nanti kalau Vano sudah besar Vano akan mencari tahu sendiri." Davin menahan ketawanya kali ini mendengar jawaban Vano
"Sudah-sudah, nanti kita lanjutkan lagi."
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...