
"Kakak!" teriakan gadis berumur 15 tahun memenuhi setiap sudut bandara, Vano menoleh dan tersenyum mendapati adik kecilnya yang kini sudah tidak kecil lagi
Vano pun merentangkan kedua tangannya mempersilahkan adiknya memeluk erat tubuhnya, walaupun hampir saja keseimbangan tubuhnya sempat tidak stabil, tetapi Vano masih mampu menahan keseimbangan itu
"How are you doing?" tanya Vina dalam pelukan hangat kakaknya, sudah sangat lama ia tidak merasakan pelukan, mungkin sekitar dua tahun
"As you can see little sist." jawab Vano sambil mengusap kepala belakang adik kesayangannya itu
Lalu setelah itu mata Vano menangkap sosok kedua orang tua yang selalu ia rindukan dan sepasang suami istri yang tidak lagi muda yang selalu merindukan dirinya
"Baby Vano," lirih Dave menatap putranya yang begitu banyak berubah, semakin tampan dan gagah
Vano mendengar itu, ia mendengar lirihan yang keluar dari mulut Papah nya, ia menatap Papah nya yang sudah menitikan air mata. Vano memberikan kecupan dipuncak kepala sang adik dan melepaskan pelukan itu untuk menghampiri orang tersayang
"Sejak kapan pria dingin dan gagah ini menjadi pria cengeng?" tanya Vano dan merangkul dengan penuh kasih sayang pria yang terkadang membuatnya kesal sekaligus rindu, pria ini merupakan bagian terpenting dalam hidupnya
"Sejak Mamah mu masuk ke dalam kehidupan Papah," jawab Dave membalas pelukan putra tunggalnya, tidak perduli orang sekitar akan mengatakan apa. Dirinya hanya ingin melepas rindu dengan putra kesayangannya, belahan jiwanya.
Sedari dulu ia dan Vano selalu dipisahkan, entah itu oleh waktu dan jarak
"Aku sangat merindukan Papah." ucap Vano tulus berbisik ditelinga Dave, ia terlalu malu untuk mengatakannya terlalu keras
"Papah juga merindukanmu baby Vano." balas Dave, yang malah mendapat dengusan sebal Vano
"Berhentilah memanggilku baby Vano, aku sudah dewasa Papah." ucap Vano menekankan kata terakhirnya
"Kamu akan selalu menjadi bayi Papah sayang, no matter what." balas Dave lalu melepaskan pelukannya dan mengecup kening putranya dan mengusap wajah mulus Dave yang tanpa celah.
Wajah Vano merupakan perpaduan sempurna antara dirinya dan istrinya, tidak diragukan lagi jika bibit Alexander adalah bibit unggul
"Cucuku," Dave menoleh saat suara yang tidak asing terdengar di telinganya
"Oma," Vano memeluk sekilas Oma nya dan memberikan kecupan di seluruh wajah cantik yang sudah mulai banyak kerutan di wajah yang tidak lagi muda itu
"Opa?"
"Cucuku sekarang tambah tampan dan gagah, kemari lah berikan Opa pelukan kerinduan!" Vano tersenyum dan menyambut rentangan tangan Davin
"Bagaimana bisa semakin tua Opa semakin tampan saja," goda Vano terkekeh pelan bersamaan dengan Davin
"Dan juga bagaimana bisa kamu bersikap manis seperti ini padahal Opa selalu menerima laporan jika cucu Opa yang tampan ini begitu sangat cuek dan dingin seperti Papah nya." ucap Davin melirik putranya yang memutar bola mata malas
"Apa Opa senang memiliki banyak mata-mata yang berada di sekelilingku?" tanya Vano
"Kenapa tidak? Kamu dan adikmu adalah berlian keluarga Alexander. Dan orang-orang sekitarmu belum tentu mengangapmu teman saja, jadi sebelum terjadi yang tidak-tidak lebih baik mengantisipasinya."
"Bukankah begitu son?" Davin melirik Dave
__ADS_1
"Hmm." balas Dave
"Lihatlah, bahkan di usianya yang sekarang dia masih bersikap seperti itu kepadaku." Vano terkekeh pelan melihat wajah dongkol Opa nya
"Sudahlah, Opa sudah tua tidak baik marah-marah."
Sena tersenyum melihat tingkah laku mertua dan suaminya, Sena tahu kalau suaminya ini tengah cemburu dengan sang Papah. Tetapi bagi Sena itu sangat berlebihan
"Apa yang membuatmu tersenyum istriku?" bisik Dave
"Kecemburuan mu suamiku." balas Sena ikut berbisik
"Aku tidak pernah mengira kalau pria tua itu sangat pandai mencari perhatian pada Putraku," ucap Dave yang masih setia berbisik, tanpa mereka sadari semua orang disana tengah memperhatikan mereka
"Dan kamu lupa jika pria tua itu adalah Papah mu."
"Hmm, sialnya begitu."
"Mulut sayang, jangan lupa ada anak-anak kita." ucap Sena, lalu menoleh. Seketika ia tersenyum kikuk
"Ada apa?" tanya Dave lalu ikut menoleh
"Kenapa menatap kami seperti itu?" menatap orang-orang. bergantian
"Berhenti mengatakan hal buruk tentang diriku kepada menantuku, sebelum aku menghajarmu son." Dave mendengus sebal, kenapa Papah nya itu selalu saja menyebalkan
"Sayang sini nak! Apa kamu tidak merindukan Mamahmu ini?"
Yah keduanya sama-sama menyembunyikan sakit mereka ketika hanya mampu melihat foto ataupun melalui skype
"Kenapa Papah dan Mamah menjadi cengeng seperti ini, padahal kita selalu bertemu jika kalian datang berkunjung ke sini," ucap Vano saat merasakan basah pada kemeja yang ia pakai
"Kamu tidak akan pernah merasakan apa yang kedua orang tuamu, terkecuali saat kamu memiliki anak juga." ucap Veny yang membalas ucapan Vano
"Sekarang ayo kita ke mansion, lihatlah orang-orang memperhatikan kita,"
Mendengar ucapan seperti itu mereka menoleh kesekitar dan benar saja orang-orang yang berada disana tengah menatap kearah mereka, dan juga jangan melupakan orang-orang yamg mengarahkan ponsel mereka untuk mengambil gambar keluarga pengusaha yang sangat terkenal mendunia itu
"Ini?" tanya Vano ketika melihat satu remaja lelaki yang seumuran dengan dirinya
"Jefry sayang, anak Om Jerry sekertaris Papah. Dia akan tinggal disini dan menemani kamu untuk mengolah perusahaan induk kita dan juga perusahaan Papah, sekalian dia akan melanjutkan pendidikan disini."
"Hormat untuk tuan muda Alexander." sapa Jefry dengan begitu sopan
"Hey, jangan berlebihan. Anggap saja aku temanmu, panggil saja aku dengan nama. Jangan seperti itu itu terlalu formal kau tahu?" Jefry tersenyum canggung dan melirik kearah Dave, yang dimana mendapat kedipan mata dari Dave
"Baiklah tu... Vano." balas Jefry canggung, sungguh ia sangat merasa tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga berpengaruh seperti bini
__ADS_1
"Ayo kita ke mansion, semakin lama disini aku takut para wartawan akan datang." ajak Davin dan melangkah duluan dengan menggenggam tangan sang istri
Vano yang melihat itu hanya menggeleng pelan, Opa nya tidak pernah berubah sama seperti sang Papah terhadap Mamah nya, terlalu posesif
"Ayo sayang," ajak Dave pada putra dan putrinya
Vano mengangguk dan merangkul sang adik untuk berjalan beriringan dengannya, tak lupa juga dengan Jefry yang kini akan menjadi temannya
****
"Apakah mereka sudah tidur sayang?" tanya Dave yang entah sejak kapan sudah berada dalam kamar itu
Saat ini Sena sedang memangku kepala kedua anaknya, yang katanya sangat ingin tidur bareng dengan kepala diusap oleh sang Mamah
"Sudah sayang." jawab Sena menatap kedua wajah polos di pangkuannya
"Mereka sudah besar sayang, jika waktu bisa diputar aku ingin merasakan kebahagian kecil mereka lagi." Sena tersenyum tipis
"Perjalanan cinta kita juga begitu banyak rintangan dan pelajaran. Aku berharap kisah mereka tidak akan sesulit kisah kita berdua."
"Semoga ya sayang."
Dave melingkarkan tangannya ke leher Sena dan satu tangan lagi mengusap sayang kedua buah hatinya
"Terima kasih sudah menerima aku yang banyak kekurangan ini sayang," bisik Dave ditelinga Sena.
Membuat sang empu menoleh untuk melihat wajah suaminya itu
"Aku yang seharusnya bersyukur karena di cintai oleh pria sesempurna kamu." Sena menyenderkan keningnya di kening Dave
"Terima kasih juga sudah sabar menghadapi pria posesif ini sayang, dan terima kasih juga sudah mau memberikan aku hidup yang lebih dengan menghadirkan buah cinta kita. Aku meminta maaf sekali lagi untuk kedua malaikat kita yang sudah lebih dulu menghadap tuhan." Sena sungguh terharu mendengar bisikan itu, iapun hanya bisa mengangguk dengan senyum bahagia dan haru mendengar ungkapan suaminya dan mantan bos nya itu
"Love you Serafina Alexander."
"Love you more Dave Keenan Alexander."
_
_
_
_
End
Akhirnya selesai juga kisah Dave dan Sena. Aku harap cerita ini bisa diterima dengan baik oleh para readers, dan maaf juga jika masih banyak kekurangan baik dalam penulisan atau pemilihan kata, karena author masih banyak belajar dan masih pemula juga.
__ADS_1
Jangan lupa untuk membaca karya author yang lainnya
Babay. Sampai ketemu di kisah Babang Vano dan jalan cintanya