
Dave membuka matanya dengan perlahan, bahu sebelah kanannya terasa begitu berat dan pegel, seperti ada yang menghantam nya, dan Dave tidak bisa menggerakkan sama sekali oleh beban itu. Dave tersenyum melihat istrinya yang menindih bahunya
Dave mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi dengan dirinya, seingatnya kemarin ia masih berada diruang santai melihat istri dan Mamah nya yang tengah bercerita, namun, ya Dave mengingatnya ia kemarin merasakan pusing yang membuat penglihatannya kabur sampai pada akhirnya ia tumbang.
"Kamu sudah sadar sayang?" Dave menoleh, ia melihat Mamah nya berjalan kearah nya dengan membawa nampan
"Biar Mamah periksa!" Veny menempelkan tangannya didahi Dave
"Sudah mendingan padahal belum minum obat." ucap Veny yang melihat obat diatas nakas masih utuh dan belum terbuka sama sekali
"Berapa lama aku pingsan Mah?" tanya Dave pelan, ia takut membangunkan istrinya yang begitu pulas tertidur
"Jika seingat kamu pagi ini, ya berarti kamu baru sadar pagi ini. Karena semalam Mamah kesini untuk mengecek keadaan kamu, kamu masih terlelap. Mungkin pingsan kelabasan tidur." Veny terkekeh pelan, lalu pandangannya tertuju kepada sang menantu yang terlihat begitu pulas
"Dia menangis sepanjang malam, bahkan Mamah tengah malam melihat keadaan kamu disini dia masih menangis." Dave menajamkan matanya, ia melirik kearah istrinya dan melihat tidak tega
"Aku selalu saja membuat dia menangis," ucap Dave lirih, tangannya terangkat untuk mengelus kepala Sena
"Jangan selalu menyalahkan diri sayang," ucap Veny kepada Putranya
"Tapi aku memang salah Mah, aku begitu mencintai dia tapi aku juga selalu membuat dia menangis." Veny tersenyum mendengar itu, Veny tidak tahu kalau anaknya akan sangat mencintai menantunya ini
"Kalau begitu jangan pernah buat dia menangis."
"Eughh.." keluh Sena yang tidurnya terganggu merasakan elusan di kepala dan pipinya. Sena mendongakkan kepalanya, ia ccukup terkejut melihat mata Dave sudah terbuka. Sena menegakkan badannya
"Dave, kamu sudah sadar sayang?" tanya Sena menangkup kedua pipi Dave
__ADS_1
Veny meletakkan nampan itu diatas meja nakas, ia berdiri dari duduknya dan pergi dari sana tanpa mengatakan apapun, Veny mengerti mungkin anaknya butuh waktu berdua dengan sang istri
Dave memegang salah satu tangan Sena yang berada di pipinya, ia tersenyum melihat wajah khawatir istrinya. Sedangkan Sena sedang berusaha bernafas dengan baik, ia terlalu khawatir dengan keadaan suaminya, tetapi suaminya itu malah tersenyum
"Tidak perlu khawatir istriku, aku baik-baik saja."
"Baik-baik gimana? Kamu pingsan semalam, dan dokter mengatakan kalau tubuh kamu tidak siap menerima sesuatu yang dingin. Dan aku tahu kalau itu semua karena kamu berenang kemarin, aku minta maaf." Sena menunduk sedih, rasa bersalah sedang menghinggap di dirinya saat ini
"Sayang, cintaku! Coba lihat aku sayang," ucap Dave, meminta Sena untuk melihatnya. Tapi Sena tidak mau, ia menggelengkan kepalanya
"Aww.." Dave memegang bahunya yang terasa ngilu, Sena mengangkat kepalanya dan melihat suaminya itu tengah kesakitan sambil memegang bahu kanannya
"Hikss.. Hikss... Maaf, aku bisanya cuman nyakitin kamu, hikss.." tangis Sena, rasa bersalahnya bertambah setelah melihat Dave kesakitan memegang bahu, dimana dibahu itu Sena semalaman tidur disana dan tentu saja membuat bahu Dave pegal dan sakit
"Aku mohon jangan menangis sayang." ucap Dave lirih dan menghapus jejak air mata Sena. Wajah istrinya sudah sangat sembab, dan Dave tidak mau membuat wajah itu semakin sembab
"Hah!" Dave menghela nafas pelan, ia memejamkan matanya sejenak untuk meresapi rasa sakit yang mendera bahunya. Kemudian Dave membuka matanya dan menatap Sena yang juga tengah menatapnya
"Aku tidak apa-apa sayang, berhenti menangis dan minta maaf ya. Aku tahu itu juga keinginan anak kita bukan keinginan kamu, jadi berhenti ya menangis." Sena mengangguk pelan
"Wajah kamu jelek banget sayang," lirih Dave, Sena membulatkan matanya ia bangkit dari duduknya dan menduduki Dave menghadap suaminya
"Kenapa sifat lakinya tidak hilang sih? Kamu selalu saja melakukan sesuatu tanpa mikirin dia," ujar Dave yang sangat terkejut melihat Sena sudah duduk diatas pangkuannya
"Ini semua karena kamu tahu!" seru Sena, suara khas orang sehabis menangis begitu jelas saat Sena berucap
"Kok karena aku? Aku kan enggak apa-apain kamu sayang," ucap Dave
__ADS_1
"Tapi kamu tadi bilang aku jelek," rengek Sena yang sudah bersiap akan menangis kembali. Dave menggigit bibir bawahnya, istrinya apa hanya bisa menangis saja. Kenapa menangis terus pikirnya
"Enggak sayang enggak. Kamu cantik kok, kalau kamu jelek mana mungkin kamu jadi istriku." ujar Dave tersenyum manis, namun ia tidak tahu kalau kalimat itu malah membuat Sena bertambah sedih
"Jadi kamu mau menikah sama aku karena aku cantik ya, kalau aku jelek kamu enggak mau sama aku?"
"Bukan begitu sayang, aduh gimana ya aku jelasin nya!" Dave menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal
"Sayang, sayang.. Jangan menangis istri aku, aku minta maaf ya, aku enggak ada maksud apa-apa kok sayang beneran." Dave mengangkat tangannya membentuk huruf V
"Tapi kamu nikahin aku karena aku cantik doang, jadi kalau aku jelek kamu enggak mau sama aku, ya?" Dave menggelengkan kepalanya, tidak mau membuat Sena menangis lagi Dave menarik istrinya dan memeluk istrinya sayang
"Sudah jangan mikir yang aneh-aneh, yang perlu kamu ingat aku mencinta kamu karena diri kamu sendiri. Seorang pria punya cara tersendiri menilai wanita yang akan dijadikan istri dan ibu dari anak-anaknya kelak. Aku memilih kamu bukan hanya karena rupa kamu saja, tapi ada penilaian lain yang membuat aku yakin kalau kamu adalah wanita yang pas untuk aku. Jadi berhenti membahas sesuatu yang bisa membuat kita bertengkar, oke?"
Sena mendongakkan kepalanya menatap wajah Dave, ia menganggukkan kepalanya kala Dave jaga menunduk. Dave tersenyum lalu ia memberikan kecupan singkat dibibir manis sang istri. Merasakan bagian tubuhnya beraksi menerima tubuh istrinya, Dave menyatukan keningnya di kening Sena dan berkata
"Sayang, dia bangun." lirih Dave
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1