Possesif CEO

Possesif CEO
Panik


__ADS_3

Dave turun dari mobil dengan tergesa, dibelakang mobilnya terdapat mobil Radian yang mengikutinya dari cafe hingga sampai dirumah ini. Bukan apa, melihat Dave yang begitu panik membuat Radian jadi penasaran apa yang terjadi


"Sakit Mah, sakit!"


Dapat Radian dengar suara rintihan seorang wanita kala dirinya memasuki rumah besar Dave, Radian melangkahkan kakinya dengan cepat kearah sumber suara yang tengah mengaduh itu


Radian membulatkan matanya melihat Dave sudah menggendong sang istri yang tengah mengaduh kesakitan, disamping nya terdapat Nyonya besar Alexander dengan menggandeng tas yang Radian tidak ketahui apa isi dari tas itu.


"Apa Sena sudah mau melahirkan hari ini juga Tante?" tanya Radian saat Veny akan melewatinya


"Ah iya, maaf Tante mengacuhkan kamu, keadaannya sangat genting." jawab Veny terburu-buru dan sedikit berlari karena melihat Dave sudah berada diluar


"Aku harus membantu Dave!" Radian pun juga ikut berlari keluar


"Masuk mobilku Dave, aku yang akan mengemudi!" teriak Radian saat Dave meminta bantuan Mamah nya untuk membuka pintu mobil


"Jangan lama berfikir, Sena harus segera ditangani." Veny yang tidak tahan berlama-lama itu, langsung berjalan kearah mobil Radian dan membuka pintu mobil yang dibelakang


"Cepat sayang! Istri kamu harus cepat sampe di rumah sakit!" Dave mengangguk, ia masuk bersama dengan Sena yang berada di pelukannya, Sena menyandarkan kepalanya dibahu Dave dan meresapi rasa sakit yang begitu dominan. Nafas Sena terengah-engah seiring dengan rasa sakit yang tiba-tiba datang, dan tiba-tiba hilang


"Tante didepan!" Seru Radian agar Veny duduk di kursi depan sampingnya


Setelah Veny masuk Radian pun segera menjalankan mobilnya dan melesat dengan kecepatan yang begitu tinggi. Pacuan kecepatan Radian semakin bertambah seiring dengan rintihan sakit yang keluar dari mulut Sena.


Radian melirik ke belakang melalui kaca spion yang berada diatas kepalanya. Ia tersenyum melihat Dave menempelkan bibirnya di kening sang istrinya dengan kedua tangan berperan penting. Dimana tangan kiri Dave menahan tubuh Sena yang berada di pangkuannya, dan tangan yang lain mengusa-usap perut sang istri, seolah Dave tengah menenang buah hatinya


"Sayang sakit," adu Sena pada Dave, membuat Dave yang mendengar dan melihat wajah Sena seperti menjadi tidak tega


"Maafkan aku ya, maafkan aku yang sudah membuat kamu seperti ini." Dave mengusap peluh yang berada dipelepis istrinya


"Apa-apaan Dave berbicara seperti itu? Katanya pengusaha sukses, lulusan terbaik di kampus. Tapi mengapa menjadi bodoh seketika?" batin Radian menggeleng kepalanya pelan


"Bisa lebih sedikit cepat tidak An? Kasihan Sena yang sudah tidak tahan." Radia hanya mengangguk dan menginjak dalam gas nya agar cepat sampai pada tujuan

__ADS_1


Dave mendekap tubuh istrinya, ia tidak tega melihat istrinya yang meringis menahan sakit. Jika bisa Dave saja yang menggantikan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh istrinya. Rasa sakit di dadanya karena cakaran tangan Sena, tidak akan sebanding dengan rasa sakit istrinya.


Veny menoleh ke belakang, ia juga tidak tega melihat menantunya sedang melawan rasa sakit untuk mengeluarkan cucu pertamanya. Veny tahu bagaimana sakitnya melahirkan, dirinya juhlga pernah mengalami di posisi Sena saat ini


Radian membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah sakit, ia tidak perduli dengan satpam yang mengarahkan mobilnya untuk menuju parkiran, ia melajukan mobilnya menuju pintu masuk. Radian menghentikan mobilnya setelah sampai pada masuk rumah sakit, Radian memilih keluar duluan


"Suster bawakan brankar ke sini!" teriak Radian menggema didepan pintu masuk, semua orang bahkan menoleh kearah nya. Tiga suster sekaligus yang mendorong brankar dengan terburu-buru


Radian membukakan pintu agar Dave keluar, saat Dave keluar dari dalam mobil semua orang yang berada disana menutup mulut mereka melihat pengusaha sukses dan pewaris tunggal keluarga Alexander berada disana dan sedang menggendong wanita hamil.


"Jangan banyak bengong suster, istri saya sudah mau melahirkan." ujar Dave setelah meletakkan Sena diatas brankar


"Istri?" suara orang-orang disana membuat Dave melirik ke Mamah nya dan Radian. Veny mengedipkan kedua matanya


"Cepatlah suster, jika ada apa-apa dengan menantu saya rumah sakit ini yang akan bertanggung jawab." ketiga suster itu menjadi gugup


"Baik Nyonya kami akan segera menangani Nyonya muda Alexander." salah satu suster mengisyaratkan untuk segera mendorong brankar itu


"Dave, sakit!" ringis Sena yang merasakan rasa sakit itu kembali. Dave menggenggam tangan istrinya sambil mengikuti brankar itu yang terdorong menuju ruangan. Dibelakang nya terdapat Veny, sedangkan Radian sedang memarkirkan mobilnya ditempat parkir


"Aku juga jeng, perasaan anakku yang kerja di perusahaannya mengatakan kalau pemimpin mereka sedang lajang, tapi hari ini aku melihat dan mendengar langsung." jawab ibu itu sambil melihat Dave yang sudah menjauh dari sana


****


"Tuan Alexander, anda bisa menunggu diluar." ucap salah satu suster menahan Dave agar tidak ikut masuk ke dalam


"Siapa kamu berani melarang saya? Istri saya didalam sana membutuhkan saya, dan kamu melarang saya untuk masuk!" teriak Dave pada suster itu, membuat suster yang melarang Dave untuk masuk itu terkejut. Tidak hanya sang suster, Veny juga yang berada disana ikut terperanjat mendengar teriakan Dave, dapat Veny lihat anaknya tengah emosi berat


"Dave!" Dave terkesiap mendengar panggilan istrinya dari dalam, Dave menerobos masuk melewati suster yang melarangnya tadi


Veny membiarkan anaknya untuk masuk dan menemani menantunya, ia tudak melarang ataupun memarahi Dave. Veny tahu kalau menantunya membutuhkan suaminya, Veny melangkah menuju kursi tunggu


"Dimana Dave Tante?" Veny mendongak

__ADS_1


"Sedang didalam menemani istrinya, duduk disini!" Veny menggeser duduknya mempersilahkan Radian untuk duduk


"Kamu temannya Dave?" tanya Veny pada Radian, Radian mengangguk


"Iya Tan, saya teman sekaligus rekan bisnis Dave." Veny mengangguk mengerti


"Baru kali ini Tante melihat Dave panik sampai seperti itu, setiap kali ada sesuatu pembawaannya akan tenang. Tapi karena ini menyangkut wanita yang dia cintai dan anaknya ia menjadi seperti itu." Radian hanya mengangguk saja sambil mendengarkan apa yang Veny katakan


"Dia pria yang sangat-sangat dingin sampai-sampai dia tidak memiliki teman di sekitarnya, hanya Jerry lah yang mau berteman dengannya. Hingga ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Paris dimana disana ada Nenek dari Papah nya yang selalu datang berkunjung kesini untuk melihat cucu kesayangannya. Tapi semenjak Dave pergi kesana Nenek nya sudah jarang datang kesini."


"Berat rasanya melepas anak kesayangan untuk melanjutkan pendidikannya, tapi mau bagaimana lagi kalau anaknya menginginkan seperti itu,"


"Sampai pada akhirnya dia pulang kesini setelah menyelesaikan S2 nya, dan Papah nya Dave langsung menyerahkan jabatan CEO kepada dia untuk memulai menjalankan perusahaan. Dave yang pada dasarnya anak penurut, ia setuju saja. Ia mencari Jerry dan meminta Jerry untuk menjadi asistennya dan meminta Jerry untuk mencari sekretaris untuknya, disitu lah Dave dan Sena saling mengenal sampai dua tahun berikutnya keduanya memutuskan untuk menikah setelah banyak drama yang terlewatkan." Veny tersenyum mengingat perjalanan keduanya hingga ia tersadar kalau dirinya sudah banyak berbicara


"Maaf ya kamu harus mendengar cerita panjang Tante," ucap Veny melihat kearah Radian


"Tidak apa-apa Tante, saya malah senang kalau Tante mau berbagi cerita sama saya." jawab Radian sopan


"Kalau boleh tahu nama kamu siapa?" tanya Veny


"Radian Syah Tante." Veny mengangguk, tidak lama ia melihat seorang dokter dan satu suster tengah berjalan dengan tergesa. Veny pun segera bangkit dari duduknya


"Dokter, menantu saya sudah menunggu lama didalam." ucap Veny kepada dokter tersebut


"Iya Nyonya Alexander, mohon sabar ya Buk. Kami akan segera menanganinya, Ibu hanya perlu berdoa agar persalinan menantu Ibu lancar." ujar dokter itu dan segera masuk ke dalam.


Veny menatap pintu ruangan bersalin Sena yang sudah tertutup kembali, ia menyatukan kedua tangannya didepan dada dan berharap agar persalinan menantunya lancar serta ibu dan bayinya selamat.


_


_


_

__ADS_1


_


Bersambung...


__ADS_2