Possesif CEO

Possesif CEO
Apakah Masih Pantas


__ADS_3

Sena berjalan cepat mengikuti brankar yang membawa tubuh Dave, air matanya tidak pernah mau berhenti mengalir. Untung saja Vano sudah berada dalam gendongan Jerry, jadi ia tidak akan khawatir dengan anaknya disaat dirinya seperti ini


"Maaf Buk, anda dilarang masuk." salah satu suster menghadang tubuhnya didepan pintu melarang Sena untuk masuk ke dalam


"Tapi sus, suami saya ada didalam sana!" seru Sena dengan melirik ke dalam sana


"Saya tahu Bu, tapi ini sudah peraturan dari rumah sakit ini. Ibu bisa melihat suami Ibu nanti." ucap suster tersebut


"Sena, biarkan pihak rumah sakit ini bekerja. Kamu bisa menghambat penanganan Dave jika keras kepala seperti ini." mendengar ucapan Jerry dibelakang dirinya, membuat tubuh Sena menjadi lemas. Ia tidak boleh egois, ada benarnya juga apa yang Jerry katakan


"Baiklah. Tolong tangani suami saya dengan baik sus, dan jika dia sudah sadar nanti katakan kepadanya kalau istrinya menunggu dia diluar." suster itu mengangguk, setelah itu kedua tangannya menarik pintu ruangan itu untuk tertutup


Sena mengadahkan kepalanya ke atas untuk menahan air mata yang ingin turun, namun seberapapun ia menahan maka tangisnya akan tetap turun. Sena menutup mulutnya agar tidak bersuara, tapi siapa yang tidak tahu kalau dirinya menangis karena punggungnya bergetar hebat


"Tenangkan dirimu Se, lihat anakmu." Sena menoleh ke samping saat merasakan jika Jerry berada di sampingnya. Ia segera menghapus air matanya agar anaknya tidak bertanya terus menerus tentang apa yang terjadi dengan Papah nya


"Mamah!" Sena langsung membalikkan badannya dan tersenyum kecil kepada sang Putra


"Iya sayang, Mamah disini nak." Sena merentangkan tangannya juga ketika Vano membuka kedua tangannya meminta gendong


"Uhh beratnya anak Mamah, habis makan apa sih makanya bisa jadi berat seperti ini?" tanya Sena memandang wajah Vano yang juga tengah menatap dirinya


"Mamah bilang kalau tidak terjadi apa-apa dengan Papah, tapi mengapa Mamah menangis?" Sena memperhatikan tangan kecil itu mengusap pipinya, ia memejamkan matanya merasakan usapan tangan kecil Vano di wajahnya


"Mamah menangis karena Papah berada didalam sana tanpa Mamah." jawab Sena dengan senyum palsu, ia terus berusaha menampilkan senyumnya agar Putra nya tidak ikut sedih, walaupun rasanya ingin sekali ia menangis jerit melihat keadaan Dave yang tidak saadarkan diri. Sena sadar kalau dirinya sudah begitu puas menangis didepan anak semata wayangnya


"Aku akan mengabarkan Tuan dan Nyonya Alexander, tolong kuatkan dirimu Se. Jangan membuat Putra mu menjadi penasaran dengan apa yang terjadi sekarang." Sena menganggukkan kepalanya, Jerry meninggalkan Sena dan Vano disana untuk menghubungi orang tua Dave


****


Drett... Drett... Drett...


Davin yang sedang membaca berkas didepan nya menoleh saat mendengar getaran diatas meja, Davin meraih benda pipih tersebut dan menempelkan ponsel di telinganya setelah mengangkat panggilan itu


"Bagaimana Jerr?"

__ADS_1


"Presdir berada dirumah sakit sekarang."


"Apa yang terjadi?" Davin bertanya dengan nada santai, berbeda dengan jantungnya kini berdetak begitu cepat saat mendengar kalau anaknya kini berada dirumah sakit


"Sama seperti sebelumnya, mungkin Presdir tidak mengisi perutnya lagi dan banyak meminum minuman keras."


"Huhh..." Davin menghela nafas pelan, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya


"Kirimkan alamat rumah sakit Jerr, Om tunggu secepatnya."


"Baik Om, setelah ini akan Jerry kirim langsung alamatnya." setelah itu Davin memutuskan panggilan itu, begitu juga dengan komputer yang sedang menampilkan berkas didepan nya.


"Aku tidak tahu kalau dia akan menjadi selemah itu karena cinta." gumam Davin, iapun keluar dari ruangan itu


****


Jerry melangkah kembali setelah selesai memberitahu Davin, dapat Jerry lihat dari kejauhan Sena sedang menangis dengan memangku Tuan muda Alexander dalam pelukannya


"Apakah sakit melihat Dave seperti ini?" Sena mendongakkan kepalanya sekilas, lalu menatap ke depan lagi dengan tatapan kosong


"Apa ini karena aku? Apa kepergian ku begitu berpengaruh bagi hidup Dave?" tanya Sena lirih, ia tidak perduli jika saat ini ia terlihat menyedihkan di mata Jerry. Setelah dua tahun lamanya ia kembali bertemu dengan suaminya, namun pertemuan itu malah semenyedihkan saat ini


"Seharusnya kamu sudah tahu jawabannya." Jerry melihat Sena, ada rasa tidak tega melihat Sena seperti ini. Bagi Jerry, Sena adalah wanita kuat dan hebat. Namun kini ia melihat sendiri kerapuhan Sena


"Semenjak kamu pergi, Dave berubah sangat drastis. Bekerja dari pagi hingga pagi ia lakukan, bahkan ia sekarang menjadi peminum alkohol sangat handal. Ia tidak bisa bekerja tanpa ada minuman haram itu, karena jika minuman itu tidak ada maka semua karyawan yang ada di perusahaan lah menjadi sasaran kemarahannya."


Sena menutup mulutnya mendengar cerita Jerry, ia tidak menyangka kalau Dave akan seperti itu. Selama Sena bekerja dengan Dave ataupun sudah menjadi istri Dave, Sena tidak pernah melihat Dave menyentuh minuman haram apalagi mabuk


"Ini semua salah aku Jerr, aku yang sudah menghancurkan hidup Dave. Aku juga yang sudah menjauhkan seorang anak dari Ayahnya." Sena menggigit dalam bibirnya dan menghapus air matanya yang mengalir dengan sendirinya


"Kita tidak bisa saling salah menyalahkan Se, semuanya sudah terjadi. Sekarang yang perlu kamu dan Dave adalah memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi di keluarga kecil kalian."


"Apa aku masih pantas bersanding dengan Dave?" gumam Sena


"Tuan Davin dan Nyonya Veny sudah menunggu kepulangan menantu dan cucunya."

__ADS_1


"Aku terlalu malu Jerr, aku malu dengan Papah dan Mamah. Apa yang akan mereka katakan tentang aku yang telah menghancurkan hidup anak mereka."


"Sudah aku katakan Sena, saat ini tidak bisa saling menyalahkan. Yang perlu kamu dan Dave lakukan adalah memperbaiki kesalahpahaman, setiap rumah tangga memang ada ujian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya."


Sena menoleh ke samping, ia menatap Jerry dengan berderai air mata. Rasa sakit dan bersalah kini menyerangnya, ia tidak tahu kalau kepergian nya sangat berpengaruh besar bagi hidup Dave


"Dia begitu mirip dengan Dave," ucap Jerry tersenyum kecil memandang wajah lelap Vano


Ceklek


Sena dan Jerry menoleh bersama kala mendengar suara pintu ruangan disamping mereka terbuka. Dokter yang menangani Dave tersenyum


"Apa ini keluarga pasien yang didalam?"


"Saya istrinya dok,"


"Apakah dia seorang pemabuk?" Sena langsung melihat Jerry saat dokter bertanya seperti itu


"Hanya saat sedang ada masalah saja dok, dia akan melampiaskan dengan minuman alkohol." dokter itu mengangguk mengerti


"Saya sarankan jaga dia dan jangan izinkan meminum minuman itu sebelum merambat ke ginjalnya." Sena terdiam mendengar ucapan dokter


"Baik dok, untuk kedepannya saya akan menjaga Boss saya lebih ketat agar tidak menyentuh minuman itu lagi."


"Kalau begitu saya permisi dulu, kalian bisa melihat pasien saat sudah dipindahkan ke ruangan yang lain."


"Baik dok."


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2