Possesif CEO

Possesif CEO
Kebetulan


__ADS_3

Dave melempar baju kemeja yang ia kenakan. Makan malam itu bukan membuat dirinya- kenyang, melainkan muak dengan orang-orang yang terus saja memuji istrinya dan menjelek-jelekan dirinya


"Bilang saja kalau mereka iri denganku, pakai mengolok-olok segala." Dave keluar dari ruang ganti setelah memakai piyama. Ia menarik selimut dan menidurkan tubuhnya


Dave meraih ponselnya yang ia letakkan diatas meja nakas, Dave tidak akan bisa tenang jika ia tidak tahu dimana keberadaan asisten dan sekretarisnya yang hilang tidak tahu kemana


"Sedikit aneh, mereka menghilang secara bersamaan." gumam Dave dengan memegang ponselnya menampilkan nomor telpon milik asisten nya


"Apa mereka berdua sudah janjian?" tanya Dave lagi, ia merasa cukup aneh mengapa Jerry dan Sheila bisa menghilang bersamaan


"Hallo Presdir!" sapa Jerry dari sebrang setelah panggilan itu tersambung


"Rupanya kamu masih hidup ya," ucap Dave tanpa berniat membalas sapaan Jerry


"Emm.. Maaf Presdir saya akhir-akhir ini sedang tidak badan." jawab Jerry mantap tanpa ada keraguan sedikitpun. Ia tidak ingin Dave menaruh curiga padanya


"Oh ya? Kamu pikir aku orang yang mudah percaya?" tanya Dave dengan tersenyum sinis


"Sa.. Saya berkata yang sejujurnya Presdir, saya akhir-akhir ini sedang tidak enak badan. Saya sama sekali tidak ada niatan untuk berbohong


"Benarkah?" tanya Dave


"Benar Presdir." balas Jerry cepat


"Tapi..." Dave menggantung kalimatnya, membuat Jerry yang berada disebrang tidak sabar untuk menanti apa yang akan dikatakan oleh Dave


"Tapi apa Presdir?" tanya Jerry pada akhirnya


"Mengapa kamu dan Sheila bisa sama? Apakah kalian berdua sudah janjian? Apakah diantara kalian ada sesuatu?" tanya Dave beruntun, sudah seperti ibu-ibu yang ingin mengetahui informasi lebih, begitulah Dave saat ini


"Ma.. Maaf Presdir, anda berbicara apa? Saya tidak seperti apa yang anda pikirkan." Dave terdiam mendengar jawaban Jerry


"Jika dia tidak seperti apa yang aku katakan, mengapa dia harus gugup saat menjawab pertanyaan ku." batin Dave


"Ah baiklah, lupakan saja. Aku tahu kamu adalah type orang yang tidak menyukai lawan jenis, mana mungkin kamu memiliki sesuatu dengan Sheila." ucap Dave tertawa hambar untuk mencairkan ketegangan yang tengah terjadi


"Presdir! Saya bukan seperti apa yang anda katakan, saya masih pria normal dan masih tertarik dengan lawan jenis." jawab Jerry dari sebrang, terdengar sedikit kekesalan dari nada bicara Jerry


"Hahaha... Benarkah begitu? Aku pikir kamu seseorang yang menyukai sesama jenis, tapi ternyata kamu masih normal. Hahha.." Dave tertawa begitu keras karena ulah nya sendiri

__ADS_1


"Presdir, anda membuat saya sangat malu dan terhina." ucap Jerry dengan pelan, namun Dave masih mampu mendengarnya


"Jangan diambil hati Jerr, aku hanya bercanda." ucap Dave tidak mau kalau Jerry mengambil hati candaan darinya dan berakhir akan marah


"Tidak Presdir, saya tahu anda hanya bercanda." jawab Jerry dewasa


"Kalau begitu datanglah ke kantor besok, aku membutuhkan kamu!" ujar Dave, ia dia menunggu jawaban dari Jerry. Namun tidak ada tanggapan dari pria dewasa di sebrang sana


"Apakah kamu masih hidup Jerr? Aku tidak mendengar suaramu?" tanya Dave dan melihat kearah layar ponselnya


"Masih tersambung." gumam Dave dan menempelkan kembali benda pipih itu ke telinganya


"Maaf sekali lagi Presdir, apakah anda bisa memberikan saya waktu untuk dua hari lagi? Saya janji, setelah dua hari saya akan masuk kerja dan tidak mengambil cuti dihari kerja."


"Memang nya kamu tuhan?" tanya Dave


"Maksud Presdir?" tanya Jerry balik


"Memang nya kamu tuhan sampai kamu mengatakan tidak akan pernah mengambil cuti dan akan masuk kerja terus. Apa jaminan kalau kamu akan masuk terus selama aku membutuhkan mu?" tanya Dave, tidak ada yang tahu jalan tuhan. Bagaimana kalau Jerry sakit parah? Apakah asisten nya itu masih bisa bekerja dengan keadaan sakit.


"Tidak Presdir, tapi..." Jerry tidak melanjutkan kalimatnya karena ia yakin kalau Dave tidak akan memperbolehkan dirinya untuk berlibur lagi


"Presdir! Anda serius?!"


"Apa nada bicara ku terdengar bercanda?"


"Tidak Presdir, tidak."


"Aku tutup, aku akan menghubungi Sheila dulu." ucap Dave, ketika ia akan menjauhkan ponsel itu dari telinganya, Jerry kembali bersuara


"Maaf Presdir, sepertinya Sheila sudah berhenti bekerja!" seru Jerry sehingga Dave yang semulanya akan memutuskan sambungan itu harus mengurungkannya


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Dave yang kembali curiga kepada Jerry, karena asisten nya itu tahu kalau sekretarisnya tidak bekerja lagi pada perusahaannya


"Itu Presdir, emm, dia pernah mengatakan kepada saya kalau dia akan mengundurkan diri dari perusahaan Alexander Group." jawab Jerry


Dave diam mendengar jawaban Jerry, semuanya terjadi begitu tiba-tiba dan begitu sangat aneh bagi Dave. Asistennya yang tidak enak badan, dan sekretarisnya yang akan berhenti sebelum ia pecat. Dave pikir ialah yang akan menendang Sheila dari perusahaannya, namun ternyata wanita itu sudah lebih dulu keluar sebelum ia bertindak


"Ternyata dia menyerah menggodaku, apa ia mengaku kalah karena tidak sanggup menyaingi pesona istriku?" batin Dave tersenyum menyeringai

__ADS_1


"Kupikir kamu tahu banyak tentang dia, dan aku juga tidak tahu sejak kapan kamu dan dia menjadi dekat."


"Saya tidak dekat Presdir, anda sal..."


"Apa? Kamu akan mengatakan kalau kamu hanya mengetahui sedikit saja? Atau kamu akan mengatakan kalau kamu mendengar dia berbicara dengan karyawan lain dengan diam-diam?"


"Bukan Presdir, bukan begitu. Aishh.. Sudahlah saya hanya mengatakannya saja."


"Hahha.. Baiklah aku tutup dulu, sampai jumpa di kantor dua hari lagi." ucap Dave dan langsung mematikan sambungan telpon tersebut


Tut.


"Mau mencoba membodohiku rupanya, dia tidak tahu siapa Presdir nya ini." Dave tersenyum remeh, ia meletakkan kembali ponselnya diatas nakas. Namun saat ia akan menarik selimut, Dave mengingat jika istri dan anaknya belum naik keatas


"Betah juga dia kedatangan pria bule itu, lihat saja." gumam Dave dan turun dari atas kasur untuk menyusul istri serta anaknya


****


"Bagaimana menurut Nenek? Apakah kamu berdua perlu tinggal di Negara ini untuk sementara waktu?" tanya Michael kepada Nenek Diva yang sedang mengguraui cicitnya


"Terserah kalian berdua saja, Nenek mah tidak bisa melarang hidup kalian."


"Tidak ada tidak ada. Kalian berdua tidak boleh tinggal di Negara ini." semua orang menoleh kearah belakang


"Kenapa sih Dave? Sirik kan kamu?"


"Aku sirik? Untuk apa?" tanya Dave sombong dan mendudukkan dirinya disamping sang istri


"Kamu takut kalau istri cantikmu itu aku rebutkan?" tanya Michael menggoda Dave, sedangkan Dave yang tadinya sedang memandang wajah sang istri menoleh seketika dan menatap tajam Michael


"Tidur disini malam ini, besok pagi aku mau kalian berdua pulang ke Paris segera. Tidak ada bantahan."


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2