Possesif CEO

Possesif CEO
Sudah Saatnya


__ADS_3

Seseorang pria dewasa tengah berdiri sambil melihat kearah rumah yang berukuran sedang, dapat pria itu perkirakan kalau rumah itu sangat kecil didalam nya. Sudah hampir 10 menit ia berdiri disana, dangan mobil sebagai sandaran


"Kenapa aku terlihat begitu menyedihkan?" gumam nya


"Lebih baik aku menghubungi dia saja dan mengatakan kalau saat ini aku sedang berada didepan rumahnya." pria itupun mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang yang membuatnya berada disana dan rela berdiri seperti orang hilang


"Hallo," pria itu menyapa seseorang disebrang sana. Saat mendapat balasan dari sebrang sana, ia mengerutkan dahinya karena tidak mendengar suara seseorang yang ia telpon


"Maaf, apakah saya bisa berbicara dengan Sheila?" tanya nya dengan orang yang ada disebrang sana


"Hah? Pingsan? Bagaimana bisa?" tanya nya tidak percaya


"Jika tidak keberatan bolehkah saya membawanya ke rumah sakit Pak?" pria itu menggigit ibu jarinya


"Kalau begitu tolong buka pintu rumah Bapak, saya sudah berada didepan."


"Baik Pak, kalau begitu saya tunggu ya." pria itu menyimpan kembali ponselnya setelah sambungan telpon itu mati


"Sakit apa dia? Akhir-akhir ini dia juga terlihat lemas," gumam nya


****


"Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku ada dirumah sakit ini?" tanya Sena, namun masih dalam pengawasan Dave disana. Tentu saja Dave ada disana, ia tidak akan mungkin membiarkan istrinya berduaan dengan orang yang sudah ia anggap musuh


Riko tidak menjawab pertanyaan Sena, ia mengambil ponselnya dari saku celananya dan mencari sesuatu didalam ponsel itu. Riko menyerahkan ponselnya kehadapan Sena


"Ambil, bukankah kamu ingin tahu bagaimana aku bisa sampai disini tanpa ada yang memberi tahu." ujar Riko, Sena melirik sekilas pada suaminya


"Jika kamu mau tahu, tidak pun juga tidak apa. Aku pikir juga sudah saatnya untuk dunia tahu."


"Dunia tahu?" gumam Sena, dan menatap bertanya Riko. Riko mengangguk untuk itu dan sedikit terkejut saat Sena tiba-tiba saja menyambar ponsel dari tangannya


Tatapan Sena tidak pernah lepas dari menatap Riko, ia dengan sangat penasaran membuka layar ponsel Riko. Tubuh Sena menegang dengan mata yang membesar saat melihat berita tentang dirinya dan pewaris tunggal Alexander.


"Berita apa-apaan ini?" Sena menatap bertanya suaminya


"Apa sayang? Kok malah lihat aku?" tanya Dave yang memng tidak tahu apa-apa, ia yang tadinya sedang kesal dengan istrinya itu malah semakin bingung melihat wajah terkejut dan juga ingin menangis istrinya


"Memang nya ada apa sayang?" tanya Dave menatap Riko tajam


"Ini lihat!" Sena menyerahkan ponsel Riko kepada Dave, sebelum mengambil ponsel itu Dave masih sempat menatap Riko tajam


Dave mengambil ponsel itu dari tangan istrinya, berbeda dengan Sena yang terkejut dengan berita itu, Dave malah tersenyum puas. Itu memanglah yang Dave inginkan, dan dengan sekali tepukan dunia tahu kalau Dave sudah memiliki istri yang sudah akan melahirkan

__ADS_1


"Bukankah ini bagus sayang?" tanya Dave, Sena menggelengkan kepalanya


"Sampai kapan?" tanya Dave dan melemparkan ponsel Riko. Sena menunduk melihat mata Dave kembali menajam


"Bisa pergi dari sini?" Riko mengangguk lalu pergi dari sana


Setelah kepergian Riko, Dave menyambar tangan Sena dan menggenggam nya erat. Melihat Sena tetap menunduk, ia mengangkat dagu istrinya agar menatap wajahnya


"Dia sudah lahir sayang, mau sampai kapan?"


"Aku takut Dave," lirih Sena


****


Riko memilih tempat duduk disamping Reza, ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang ia duduki disana sambil melihat anak Sena yang berada dalam gendongan Tia.


"Apa yang terjadi?" tanya Reza saat Riko sudah berada disamping nya. Riko mengangkat sebelah bahunya


"Tidak ada yang serius bukan?" Riko menggelengkan kepalanya, Reza yang memang sudah tahu bagaimana sifat Riko memilih tidak melanjutkan rasa ingin tahunya. Percuma bertanya jika tempat bertanya nya seperti hidup segan mati tak mau


"Aku akan pulang duluan Za, tolong berikan ini kepada Sena nanti." Riko menyerahkan kotak kecil dan sebuah undangan yang bertuliskan nama Riko dan wanita yang akan menjadi istrinya


"Kenapa tidak memberikan langsung saja sama orangnya? Bukankah kamu tadi disana?" tanya Reza, namun tangannya tetap mengambil benda pemberian dari Riko yang akan diberikan kepada Sena nantinya


"Aku tidak ingin terjadi keributan didalam ruangan ini, kasihan bayi yang baru saja lahir itu harus melihat ayahnya bersitegang." jawab Riko, iapun segera bangkit dari duduknya. Membuat Caca dan Tia menoleh


"Aku duluan Ca, Papah aku meminta aku untuk segera pulang." jawab Riko berbohong


"Ahh benarkah?" Riko mengangguk


"Kalau begitu hati-hati di jalan Rik," Riko mengangguk sekali lagi


"Kalau begitu aku pamit duluan semuanya!" seru Riko


****


Sena membalas genggaman tangan Dave tidak kalah erat, Dave yang mengerti pun memberikan elusan kecil agar rasa takut yang istrinya miliki sedikit hilang


"Percayakan semuanya padaku sayang, sudah saatnya. Ini semua demi kita dan demi anak kita." ujar Dave meyakinkan Sena jika semuanya akan baik-baik saja dan tidak sama dengan apa yang ia pikirkan


"Kamu harus janji sama aku kalau semuanya akan baik-baik saja, aku tidak mau orang-orang menghina ku karena kamu telah memilih aku sebagai istrimu." Dave mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban kalau semuanya akan baik-baik saja


Oekkk... Oekkk...

__ADS_1


Dave dan Sena menoleh saat mendengar tangisan bayi mereka. Terlihat Tina sedang berjalan menuju mereka berdua


"Sepertinya dia sudah lapar!"


"Padahal dia baru saja aku beri asi,"


"Papah nya sudah lapar lagi sayang, wajar saja kalu dia kembali lapar." bisik Dave ditelinga Sena


"Kalau kamu memang mesum, jadi mau kenyang atau lapar pun tetap saja seperti itu." Dave tersenyum, ia mengecup buku tangan itu dan melepaskannya agar Sena bisa menenangkan tangisan bayi mereka dengan memberi makan baby tampan itu


"Ada tamu ternyata!" Radian, Caca, serta Reza yang berada didekat pintu ruangan menoleh


"Om, Tante!" Caca bangkit dari duduknya dan menyalami tangan orang tua Dave


"Kamu sahabatnya menantu Tante kan?" tanya Veny yang mengingat wajah Caca


"Iya Tan, saya sahabat Sena." jawab Caca tersenyum manis


"Dan dia juga calon istri aku Tan," sambung Radian, Veny menoleh ke samping


"Jadi calon kamu itu dia?" tanya Veny menunjuk Caca. Radian mengangguk dengan senyum manis, sedangkan Caca menatap tajam Radian yang begitu bersemangat memberi tahu orang-orang kalau dirinya adalah calon istrinya


"Wahh... Dunia ini memang begitu sempit ya, dulu Dave dan Sena. Sekarang kalian berdua, dimana kamu temannya Dave, dan dia sahabatnya menantu Tante. Harapan Tante cuman satu, semoga kalian semua bahagia."


"Aamiin."


****


"Apakah anda suami dari ibu Sheila?" tanya sang dokter kepada pria dewasa dihadapan nya. Pria itu sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan dari dokter tersebut


"Pak? Apakah anda mendengar saya?"


"I... Iya dok, saya suami dari ibu Sheila." seketika dokter itu tersenyum, dan mengulurkan tangannya. Membuat pria itu merasa sedikit bingung namun ia tetap membalas jabatan tangan itu


"Selamat ya Pak, istri bapak dinyatakan positif hamil."


Deg.


_


_


_

__ADS_1


_


Bersambung...


__ADS_2