Possesif CEO

Possesif CEO
Kebahagian Keluarga Alaxander


__ADS_3

Sena menangis dengan sesegukan saat bayi nya diletakkan diatas dadanya, ia menatap tangan mungil itu bergerak-gerak tidak lupa juga dengan kepala kecil itu yang mendusel kesana kemari dengan mata yang tertutup. Tidak hanya Sena, Dave juga ikut terharu menyaksikan putri kecilnya lahir dengan selamat


"Dia mirip kamu Pah!" Sena memperhatikan wajah merah dan pucat bayi nya yang terlihat begitu sangat mirip sang suami. Sena juga pun menjadi sangat heran, mengapa kedua anaknya memiliki kemiripan begitu kontras dengan suaminya, padahal ialah yang mengandung dan mati-matian menghadirkan mereka ke dunia


"Ya sayang, enggak mungkin kan dia mirip Riko," Sena yang masih sesugukan itu memberikan tatapan tajamnya kepada sang suami. Sungguh ia merasa heran, ditengah kebahagian seperti ini suaminya masih sempat-sempat membawa Riko ke dalam pembahasan mereka


"Jangan mulai deh!" seru Sena, yang dimana dibalas senyuman oleh Dave. Sekali lagi ia memberikan kecupan di kening sang istri untuk menunjukan rasa kebahagiaannya saat ini, mata Dave tidak henti-hentinya memandang putri kecilnya yang menggerakkan kepalanya kesana kemari dekat mulut terbuka


"Sayang, sepertinya dia lapar," Sena melihat suaminya sekilas, dimana Dave juga ikut melihat sang istri. Lalu keduanya terfokus kepada malaikat kecil mereka yang seperti sedang mencari sesuatu


"Maaf Nyonya, sepertinya dia ingin asi. Tolong berikan kepada saya, saya akan membersihkan dia terlebih dahulu agar Nyonya bisa lebih nyaman nantinya." Sena pun mengangguk, dengan sedikit tudak rela ia membiarkan sang dokter mengambil putrinya dari atas dadanya untuk dibersihkan terlebih dulu. Untung saja Dave lebih dulu mengadzaninya, jadi ia nanti bisa langsung memberikan asi untuk bayinya


"Nyonya, anda sudah bisa kami pindahkan ke ruangan yang lebih nyaman." Sena menoleh kala salah satu perawat yang membersihkan tubuh bagian bawahnya tadi bersuara


"Bisakah aku pindah bersama dengan anakku? Aku tidak ingin ke mana-mana kalau dia tidak ada." Dave melirik perawat tersebut dan mengedipkan kedua matanya. Membuat perawat itu itu mengangguk setengah gugup, pasalnya Dave cukup terkenal di negara itu, ya siapa yang tidak tahu dengan keluarga Alaxander, karena Davin menikah dengan Veny lah mereka bisa tinggal di Indonesia yang notabane adalah orang Indonesia


****


Berbeda dengan pasangan suami istri yang berada didalam sana, beberapa orang yang sedang menanti diluar sangat tidak sabar menunggu ruangan persalinan itu terbuka


"Kenapa lama sekali? Apakah aku perlu memanggil para pengawal untuk mendobrak pintu itu dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana."


Davin berdecak mendengar apa yang baru saja Mommy nya katakan, selalu seperti itu dan ia sedikit kesal karena Mommy nya itu tidak ingat dengan umur


"Berhenti bertingkah seperti orang sehat Mommy, tubuh dan usiamu itu sudah tidak pantas dengan kuasamu." sedangkan Diva menggeram marah, putra kecilnya itu sudah berani bicara seperti itu kepadanya


"Kau tahu? Wanita tua inilah yang membesarkanmu." tunjuk Diva pada dirinya sendiri, Davin mendengus dengan tingkah Mommy nya


"Oh Mommy, berhentilah bertingkah kuasa seperti itu. Ini rumah sakit, biarkan dokter menangani cucu menantu mu dengan baik di dalam tanpa ada keributan."


"Kamu menyebalkan sekali sayang, untuk kamu anak Mommy." wanita tua bertongkat itu hanya dia menghela nafas kasar untuk meredakan amarahnya. Dia sudah tidak sabar untuk melihat cicit barunya, tetapi putranya selalu saja mencari masalah dengan dirinya

__ADS_1


"Exited banget sih Nenek nya si Dave, bulu kuduk gue merinding gila!!" bisik Joni lebay, Michael yang mendengar hanya menggeleng pelan


"Banci amat." gumam Michael, tetapi masih dapat didengar oleh Joni


"Sialan." umpat Joni kesal


Ceklek!


Suara pintu ruangan terbuka dan muncul lah dua brankar besar dan kecil, ada juga Dave yang masih setia menggenggam tangan istrinya


"Papah, Mamah!" teriak Vano dan menggeliatkan tubuhnya untuk turun dari pangkuan sang Oma dan berlari menuju Papah


"Kenapa harus berlari sih sayang?" tanya Dave setelah mengangkat tubuh putranya


"Vano takut lihat Mamah kesakitan, apalagi Papah sama Mamah di dalam sana lama banget." Sena tersenyum mendengar mulut kecil itu bersuara


"Sini sayang!" Sena menepuk sisi brankar yang kosong, Dave melihat sekilas namun ia tak kunjung meletakkan tubuh Vano


"Maaf membuat kalian semua khawatir." ucap Sena, yang dibalas gelengan oleh mereka


"Kalau begitu biarkan kami membawa Nyonya dan Nona muda Alexander ke ruangannya dulu Tuan." ucap salah satu perawat


"Silahkan!" para perawat itu kembali mendorong brankar itu lagi di ikuti oleh box bayi dibelakang Sena. Semua yang ada disitu otomatis mengikuti juga


****


"Ya ampun Dave! Aku melihatmu lagi dan lagi." ucap Nenek Diva yang begitu sangat lebay untuk Davin. Bagaimana ia tidak kesal, Mommy nya ini begitu luar biasa aktifnya di usia yang sangat rentan begini


"Benarkah Nek?" tanya Dave sambil tersenyum geli akan reaksi sang Nenek saat melihat wajah putrinya yang sedang terlelap setelah diberi asi


"Benar, aku merasa kembali muda jika melihat wajah ini." ucap Nenek Diva dengan tangan keriput nya mengusap pelan pipi lembut bayi mungil itu

__ADS_1


"Ck. Mommy sangat berlebihan." Diva yang mendengar itu melayangkan tatapan tajam nya


"Dasar anak kurang ajar, sini kamu Mommy kasih pelajaran!" Davin memutar bola matanya jengah, pasti akan berakhir begini


"Pah, sudahlah. Kamu itu sudah punya dua cucu masih aja suka seperti itu sama Mommy."


"Ya benar sekali menantu ku, itu karena aku terlalu memanjakan dia dan berakhir begini." Dave hanya menggeleng pelan dengan kelakuan aneh papah dan nenek nya


"Pah, itu adik Vano?" tanya Vano sambil menatap wajah Dave. Membuat Dave tersenyum


"Ya nak, itu adik Vano. Cantik bukan?" Vano mengangguk pelan


"Cantik Pah, mirip Papah wajah adik." ujar Vano, membuat Sena yang mendengar itu mencebik. Dave yang melihat reaksi istrinya hanya bisa terkekeh pelan


"Tentu sayang, karena yang usaha keras untuk menghadirkan adik cuman Papah seorang." ucap Dave dengan melirik Sena. Sedangkan Sena menajamkan matanya


"Emang hasil kerja keras kamu tidak di ragukan lagi son. Papah bangga bisa mempunyai dua cucu yang wajahnya adalah wajah Alexander." timpal Davin, ia akui ia sangat terpesona dengan dua wajah anak Dave yang 90% adalah wajah keluarga Alexander


Sena yang mendengar itu merasa sangat sedih dan senang. Sedih karena wajah kedua anaknya milik suaminya, dan senang karena semua keluarga suaminya sangat bahagia menerima kedua cucu mereka yang berasal dari wanita biasa dan yatim piatu seperti dirinya


"Jadi pengen punya anak juga."


_


_


_


_


Bersambung...

__ADS_1


Sampe sini masih pada suka ga sih? Takut banget aku readers pada kecewa


__ADS_2