
"Sah?" tanya Pak penghulu kepada kedua saksi yang ada disebelah kiri dan kanannya
"Sah." jawab kedua saksi tersebut saat Pak penghulu sudah mengucapkan kata sah
"Alhamdulillah," Pak penghulu membacakan doa setelah semua orang mengatakan kata sah, begitu pula dengan kedua pengantin tersebut. Tidak ada senyuman dikedua mempelai itu
"Selamat untuk kalian berdua, sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami dan istri." ucap Pak penghulu dengan kedua mempelai di hadapannya, Pak penghulu itupun menyerahkan cincin untuk keduanya pakai, sebelum ia memberikan buku nikah dan akte
"Sebelum kalian menerima bukti nikah ini, kalian bisa memasang ini kepada jari manis pasangan kalian." ujar Pak penghulu sambil tersenyum kecil
Mempelai pria itupun mengambil kotak cincin dan meraih tangan pengantinnya untuk memasang kan cincin dimana salah satylu bukti kalau wanita yang ada di sampingnya saat ini sudah memiliki suami. Setelah mempelai pria memasang kan cincin, kini bergantian dengan mempelai wanita yang memasang kan cincin dijari manis mempelai pria.
Selesai dengan itu keduanya saling pandang satu sama lain, tanpa disuruh dan diminta pengantin pria itu mengecup kening istrinya dihadapan semua orang yang ada disana. Awalnya pengantin wanita itu terkejut dengan kecupan manis yang begitu tiba-tiba itu, tapi pada saat matanya melirik ke kiri dan kanan ia segera menutup matanya rapat-rapat ketika semua memandang kearah nya dengan senyum bahagia
"Aku tahu tidak ada cinta diantara kita, tapi aku janji aku akan mulai membuka hati untuk mu mulai saat ini juga. Kamu dan dia sudah menjadi tanggung jawabku sekarang,bjadi jangan pernah mencoba untuk merusak rumah tangga orang lagi. Jadikan kejadian yang telah terjadi diantara kita berdua ini sebagai pelajaran. Kamu mengerti?" pengantin pria itu bertanya kepada istrinya, dan tanpa berlama-lama istrinya itu menganggukkan kepalanya
"Kita bicara lagi nanti." keduanya pun menolehkan kepala kembali menghadap Pak penghulu yang sedang menunggu
"Ini buku nikah dan aktenya. Simpan baik-baik."
"Terima kasih banyak Pak."
"Sama-sama Nak Jerry. Semoga pernikahannya berkah dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah."
"Aamiin."
****
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah!" seru Dave dari dalam. Ia masih begitu fokus dengan berkas yang ada di tangannya saat ini. Dave mengerutkan keningnya saat tidak ada suara orang yang masuk ke dalam ruangannya itu, ia mencoba mengangkat kepalanya
"Sayang!" seru Dave saat melihat istrinya tengah duduk sambil memandang kearah nya. Sena tersenyum melihat wajah terkejut suaminya
"Terlalu serius bekerja sampai tidak tahu kalau istrinya lah yang masuk." ucap Sena, Dave pun meletakkan berkas di tangannya. Iapun beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri sang istri
"Kamu tidak bilang kalau akan ke sini." jawab Dave
__ADS_1
"Baby Vano dimana sayang?" tanya Dave yang tidak melihat istrinya membawa buah hati mereka
"Di rumah, aku mau membawa dia ke sini tadi. Tapi tidak diperbolehkan oleh Nenek, katanya dia ingin mengasih cicitnya seharian." jawab Sena tersenyum manis kepada suaminya. Iapun membuka bawaannya yang memang khusus untuk suami tercinta
Dave menatap istrinya yang sedang menyiapkan sesuatu, dapat Dave tebak jika itu adalah makan siang untuk dirinya. Dave memandang istrinya dengan tatapan tidak biasa
"Hei, kenapa menatap aku seperti itu? Aku sampai takut tahu!" melihat mata Dave yang membulat sempurna menatap dirinya, Sena pun menutup maylta Dave dengan telapak tangan kanannya
"Tidak bisa ya sehari saja tidak marah-marah, dan tidak posesif?" Dave menggelengkan kepalanya
"Aku tidak akan marah-marah, dan aku tidak akan posesif jika tidak ada lelaki lain yang melirik istriku."
"Dasar orang gila!" seru Sena dan melepaskan tangannya dari sana
"Ya aku memang gila, gila karena kamu." jawab Dave, Sena menghindar saat suaminya menyosor untuk mencium dirinya
"Nanti ada yang melihat bagaimana?"
"Alesan saja, bilang kalau kamu tidak mau dicium aku." Dave memajukan bibirnya cemberut
Cup.
"Curang kamu ya, aku tadi cium tadi tidak boleh," ujar Dave
"Sama saja sayangku, dicium enggak dicium protes mulu." Jawab Sena sambil menggeleng pelan
"Makan dulu, kamu terlalu serius bekerja sampai lupa kalau ini sudah masuk jam istirahat." Sena memberikan makan siang yang telah ia siapkan untuk suaminya. Bukannya menerima pemberian Sena, Dave malah menatap piring berisi nasi dan lauk pauk yang terlihat sangat menggoda indra perasa nya
"Ambil sayang, aku tidak memberi racun didalam makanan ini!" seru Sena karena Dave tidak berniat untuk mengambil piring dari tangannya
"Tidak perlu aku katakan terus-menerus sayang, suapi suamimu ini."
"Manja banget sih kamu, tidak dirumah tidak dikantor sama saja." Sena mulai menyendokkan nasi serta lauk ke sendok, dan menyuapi suami posesif dan manjanya.
"Manja sama istri sendiri apa salahnya sih sayang? Bukankah itu bagus kalau kita selalu romantis?" tanya Dave menyentil dagu sang istri
"Bagus sih bagus, kalau anak sendiri jadi saingan itu tidak bagus lagi." Dave memutar bola matanya malas, jika Sena sudah mengatakan soal saingan Dave akan merasa jengkel
__ADS_1
"Tentu saja baby Vano saingan aku, secara dia sudah menjamah hak milik aku terus-menerus." Sena menganga tidak percaya, suaminya itu tidak bisa membedakan antara anak dan orang lain. Bagaimana bisa suami tampan nya itu menganggap kalau sang anak adalah saingan
"Dia masih sangat kecil sayang tapi kamu sudah sangat cemburu dengan anak sendiri, bagaimana kalau dia sudah dewasa dan masih sangat membutuhkan aku? Apakah kamu juga akan menganggap dia sebagai saingan kamu?"
"Tentu saja sayang, lagi kecil sayang dia sudah mengambil banyak perhatian kamu. Apalagi jika dia sudah besar?" Sena menghela nafas pelan dan menggelengkan kepalanya.
"Aku kirim dia ke Paris saja saat sudah besar nanti, Nenek pasti akan senang jika baby Vano mau meneruskan bisnisnya yang ada disana." ucap Sena, yang mana ia pernah berbincang soal itu dengan Diva. Diva sangat menginginkan keturunan Alexander bisa menetap disana dan meneruskan usaha keluarga mereka yang ada disana
"Apakah Nenek berbicara soal itu dengan kamu sayang?" tanya Dave menghentikan tangan Sena yang ingin menyuapi mulutnya
"Emm." Sena mengangguk dengan meletakkan sendok itu kembali
"Kapan Nenek mengatakan itu?" tanya Dave
"Setelah kamu pergi ke kantor dihari pertama dia datang." jawab Sena apa adanya
"Sudah aku duga, dia pasti akan mengatakan itu dengan kamu sayang." Dave menghela nafasnya pelan dan menyenderkan tubuhnya pada sofa disana
"Apakah kamu sudah tahu dengan masalah ini?" Dave melirik istrinya, ia mengangguk pelan
"Nenek mengatakan ini saat Papah meminta aku untuk pulang dan melanjutkan bisnis disini. Nenek mengatakan kalau aku tidak bisa melanjutkan bisnis disana, maka anak aku kelak lah yang harus menggantikan aku."
Sena terdiam mendengar ucapan Dave, ia tidak tahu kalau kehadiran anaknya sangatlah di nanti. Bahkan belum genap satu bulan Putra nya, Nenek Dave sudah ingin membawa anaknya pergi
"Kita buat baby lagi sayang."
_
_
_
_
Bersambung...
Dave & Sena
__ADS_1