
Suara burung berkicauan menyambut mentari pagi yang tampak malu-malu untuk muncul, namun sinarnya mampu membuat seseorang yang begitu lelap tidurnya terganggu
"Eughh... Sudah jam berapa ini? Mengapa gordennya terbuka?" keluhnya menutupi sinar mata hari dengan menggunakan tangan kanannya
"Sudah bangun Mas?"
"Apakah ini sudah pagi sayang?" tanya nya kepada sang istri, wanita itu tersenyum mendengar pertanyaan suaminya
"Sudah jam 8 pagi." wanita itu terkekeh pelan melihat reaksi suaminya yang begitu sangat lucu menurutnya
"Ini masih sangat pagi Mas, tolong kondisikan matamu. Aku sedikit takut melihatnya." bukannya mendengar apa yang istrinya katakan, pria itu malah menoleh kearah nakas dan menyambar jam beker yang berada disana
"Hahh... Hampir saja." ucapnya bernafas lega setelah melihat anak jam menunjukan pada angka enam, dan ibu jarum jam menunjuk pada angka satu. Pria itu meletakkan kembali jam beker pada tempatnya, lalu ia menoleh kearah sang istri
"Kamu..."
"Apa?.. Aaaa..."
Bruk.
Dengan sekali tarikan tubuh mungil itu sudah berada dibawah Kungkungan suaminya. Bukannya marah ia malah tersenyum menatap wajah suaminya dari bawah
"Berani ya kamu membohongi suamimu ini sayangku," ucap si suami, sang istri tersenyum mendengar ucapan suaminya.
"Tentu saja berani, setiap hari selalu bangun siang."
"Aku bangun siang karena aku lelah sayang, belum lagi malamnya aku harus mengelonimu."
Plak.
"Aww... Shhh..." ringis si pria saat istrinya mengeplak lengannya
"rasakan! Apa mau lagi?"
"Jangan, jangan! Apa yang kamu makan Sheila lagi pagi begini sudah memberikan suami tampan mu ini pukulan?"
Ya, kedua pasangan suami istri itu adalah Jerry dan Sheila. Kehidupan rumah tangga mereka semakin harmonis saja setelah dua tahun lebih menikah. Apalagi sekarang sudah ada anak kecil tampan ditengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Percaya diri sekali kamu Mas! Mandi dulu sana, aku mau lihat anak kita disebelah." Sheila mendorong dada Jerry dengan kedua tangannya, membuat Jerry harus tumbang ke sebelah sang istri. Tapi ketika Sheila akan bangkit dari kasur, Jerry menahannya dan memeluk tubuhnya dengan erat
"Hei, apa kamu tidak mendengar aku? Jefri akan menangis nanti." Jerry menggelengkan kepalanya
"Jangan membodohi aku lagi sayang, aku tahu kamu baru saja kembali dari kamar anak kita. Lagi pula Lia dan Yuda tidak akan membiarkan keponakan mereka menangis." ucap Jerry dengan suara seraknya
"Paling bisa ya kamu." Jerry tersenyum kecil
"Apa yang tidak aku bisa? Membuat kamu lemas saja aku bisa."
"Aww.. Sayang, kok suka banget sih nyakitin suaminya?" keluh Jerry karena lagi-lagi tubuhnya menjadi sasaran Sheila
"Mulutnya, kalau ada yang mendengar bagaimana?"
"Biar saja, lagi pula kita melakukan sesuatu yang memang sudah tidak dilarang agama. Dan siapa juga orang dirumah ini yang berani melarang aku untuk membuat istri manis ku ini lemas diatas tempat tidur, tidak ada bukan?"
"Aishhh... Kamu memang paling bisa berkata manis." Sheila menepuk buku tangan suaminya
"Jika aku tidak pandai berkata manis, kamu tidak akan menjadi istriku sekarang." bisik Jerry sambil menggoda istrinya dengan meniup daun telinga sang istri
"Jika dulu tidak ada Jefri aku juga tidak mau menjadi istri kamu."
"Setelah sekian lama aku baru mengerti apa maksud dari ilmu yang Presdir berikan." batin Jerry, ia tersenyum kecil dan semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri, tetapi detik berikutnya ia berhasil membuat istrinya terkejut sekaligus tertawa puas melihat kelakuannya
"Oh astaga sayang, aku baru mengingat kalau hari ini aku memiliki janji dengan Om Davin." Jerry melompat dari tempat tidur, dan langsung berlari menuju kamar mandi yang ada disana. Sebelum ia masuk ia sempat menarik handuk yang tergantung disamping pintu kamar mandi
"Dasar, kelakuan sudah seperti anak kecil saja." ujar Sheila, iapun ikut turun itu dan merapihkan kasur yang sudah tidak ada bentuknya lagi
"Wajah saja yang polos, tapi siapa yang tahu kalau sesungguhnya dia itu adalah singa buas yang kelaparan." gumam Sheila
****
"Tidak makan dulu Tuan? Bibi sudah menyiapkan sarapan untuk Tuan." ujar Bi Ina yang memang sengaja menunggu Dave dibawah tangga. Dave menoleh sekilas kearah Bi Ina, lalu pandangannya kembali lurus ke depan. Kosong dan tak bernyawa begitulah yang Bi Ina lihat sekarang
"Aku tidak lapar Bi, Bibi bisa mengajak yang lainnya untuk makan agar masakan yang Bibi buatkan tidak terbuang sia-sia."
"Selalu sama." batin Bi Ina sambil menghela nafas kasar
__ADS_1
"Satu lagi..." Bi Ina terkesiap saat Dave menoleh kearah nya
"Jangan pernah buatkan aku apapun jika aku tidak memintanya. Dan juga jangan pernah mengasihani aku Bi, karena aku yakin suatu hari nanti istri dan anakku akan pulang ke rumah ini." setelah mengatakan itu, Dave melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti
Bi Ina menatap punggung tegap yang semakin kurus itu. Dave terlihat sangat berbeda, hidupnya berubah 99% dari kehidupan yang dulu. Dimana dulu ada Sena yang menjadi sumber kebahagian Dave, tapi sekarang Sena hilang bagai ditelan bumi bersama anaknya
"Tidak banyak harapan, semoga Nyonya muda Sena kembali pulang ke rumah ini. Rumah ini seperti raga tanpa nyawa. Ada penghuni namun tidak ada kehidupan di dalamnya."
****
Sedangkan disalah satu cafe yang tidak jauh dari perusahaan Alexander, dua orang pria yang berbeda usia itu tengah berbincang begitu serius. Seolah obrolan keduanya itu tidak boleh didengar oleh siapapun
"Om ingin secepatnya Dave dan Sena dipertemukan. Bagaimanapun caranya mereka harus bersatu lagi Jerr." ujar seorang pria patuh baya yang tidak lain adalah Papah nya Dave
"Apakah Om yakin?" tanya Jeryy memastikan
"Sangat yakin. Lagi pula apalagi yang harus ditunggu, apa kita harus menunggu Dave masuk ke dalam liang lahat?"
"Tidak Om tidak. Bukan itu maksud saya."
"Jika begitu lakukan apa yang Om perintahkan. Sudah cukup lama Om diam karena mengira ini semua kesalahan Dave, tapi ternyata ini hanyalah kesalahpahaman semata." Davin mengusap wajahnya kasar, anaknya itu bukanlah orang bodoh. Tapi mengatasi masalah seperti ini ia tidak bisa, yang Dave lakukan hanyalah menyakati dirinya sendiri
"Bagaimana rencana awalnya Om? Apakah kita harus bekerja sama dengan salah satu investor yang ada dikota itu?" Davin terdiam mencoba mencerna pertanyaan Jerry. Ia berusaha berfikir alasan apakah yang bagus agar Dave tertarik. Seringai tampak muncul di wajah pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu
"Ide yang bagus Jerr, pokoknya kamu susun dengan sebagus mungkin agar Dave tertarik dan mau berangkat ke kota itu. Om percayakan semuanya padamu." ucap Davin, Jerry pun mengangguk mengerti sambil menjawab
"Iya Om." jawabnya tersenyum kecil kala melihat Davin tersenyum padanya
"Ini semua demi Presdir aku rela sibuk dan meninggalkan waktu bersenang-senang dengan anak istriku dirumah. Semoga setelah ini Presdir akan benar-benar bahagia." batin Jerry
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...
Pokoknya ikutin terus, karena ini adalah detik-detik terakhir kisah Dave dan Sena.