
"Selamat datang anak-anak Mamah!" teriak Veny yang lihat anak dan menantunya baru saja masuk, sejak tadi Veny dan Davin sudah menunggu kedatangan anak dan calon mantu mereka setelah menyelesaikan acara masak dan menyiapkan semua hidangan di atas meja
"Apa ini?" tanya Veny dengan memberikan tatapan tajam kepada anaknya
"Mamah kenapa natap aku seperti itu? Aku jadi takut!" Dave melepaskan pelukannya di pinggang Sena dan mengusap kedua lengannya
"Kamu apain mantu Mamah sampai kelihatan begini? Dan.. Apa ini? Kenapa leher kamu merah-merah saya?" Veny tidak sengaja melihat ruam merah dileher Sena yang tidak berhasil tertutup oleh syal
"Coba Mamah lihat!"
"Jangan Mah," Sena tidak dapat lagi mencegah saat Veny menarik lepas syal itu dari lehernya
"Astaga!" teriak Veny sangat terkejut kala melihat leher Sena penuh akan ruam merah yang ia yakini itu adalah perbuatan Dave
Dengan cepat Veny melilit kembali syal itu ke leher Sena. Ia tahu kalau saat ini Sena tengah malu, apalagi Davin tadi juga melihat kearah Sena sebelum memalingkan wajahnya
"Mamah apa-apaan sih?" kesal Dave, ia memeluk lagi pinggang istrinya dan menarik kepala Sena agar bersembunyi di dada bidangnya
"Mamah kan tidak tahu nak," ujar Veny merasa bersalah sudah membuat menantunya itu malu
"Sudah-sudah, Sena maafkan Mamah ya, dia hanya khawatir dengan kamu. Apalagi mendengar kamu hamil,"
"Mamah dan Papah tahu dari mana kalau aku hamil?" Sena mengikuti arah lirikan mata Veny. Sedangkan Dave tersenyum ketika istrinya menatapnya dengan begitu
"Aku memberi tahu Mamah saat meminta Mamah membuatkan kamu rendang,"
"Kamu?"
"Iya sayang, aku nggak mau anak kita tidak keluar seperti apa yang kamu katakan sama aku kalau anak tidak akan bisa keluar jika ngidamnya tidak terpenuhi."
"Hahahh.. Hahha.." Davin tertawa dengan keras mendengar ucapan bodoh anaknya barusan. Sena menggigit bibirnya dalam-dalam menahan malu karena Dave mengungkapkan apa yang ia katakan didepan mertuanya
"Kenapa Papah dan Mamah malah tersenyum?" tanya Dave bingung
"Oh nggak apa-apa, ayo kita ke meja makan!" seru Davin
"Ayo sayang!" Dave menarik tangan Sena, sedangkan Davin dan Veny berjalan didepan mereka
"Dave ganas juga ya Mah," bisik Davin ditelinga Veny, yang dimana itu masih dapat didengar oleh Sena karena posisi mereka yang tidak terlalu jauh itu
Sena melirik Dave yang ternyata sedang memainkan ponselnya
"Pantas saja dia tidak protes," gumam Sena
"Apa sayang?"
"Hah? Tidak apa-apa kok." jawab Sena dengan tersenyum ketika Dave menatapnya
"Aku kira ada apa-apa,"
__ADS_1
"Nggak ada apa-apa kok." Dave pun mengangguk
"Woahh!.. Ini Mamah semua yang memasaknya?" tanya Dave dengan menatap Mamah nya dan menu yang terhidang diatas meja
"Mamah dan Papah yang memasaknya."
"Benarkah?" tanya Dave tidak percaya kalau Papah nya akan membantu Mamah nya untuk masak menu makan malam sebanyak ini
"Tentu saja, kamu meragukan kemampuan Papah?" Davin bertanya karena melihat keraguan pada putranya
"Bukan, bukan itu. Tapi Dave tidak percaya saja Papah mau membantu Mamah membuat menu makan malam sebanyak ini."
"Tentu saja Papah membantu Mamah mu. Itu karena Papah mencintai Mah mu, dan tidak mau melihat istri Papah mu ini memasak sendiri tanpa ada bantuan."
"Ishh.. Papah bisa saja membuat Mamah malu!" Veny menyenggol lengan suaminya
"Menggelikan sekali," gumam Dave merasa jengah melihat pemandangan di depannya
"Apakah kalian tidak mau makan? Sungguh semua menu ini sangat enak dan lezat."
Orang tua dan anak itu menoleh kala Sena bersuara. Davin, Veny, dan Dave begitu terkejut melihat Sena dengan santai memakan rendang, bakso mercon dan kepiting saos padang. Dapat Dave tebak jika istrinya itu sudah habis banyak
"Apakah bakso itu pedas Mah?" tanya Dave
"Iya sayang, Mamah membuat nya karena Mamah ingin makan yang pedas-pedas." jawab Veny ragu karena melihat rahang Dave mengeras
Dave pun segera mendekat kepada Sena dan merebut garpu serta menggeserkan piring berisi bakso yang berlumur cabai itu.
Suara garpu itu terlempar mengenai piring, Dave memberikan air putih kehadapan Sena.
"Dave," panggil Davin
"Jangan seperti itu nak!" peringat Veny saat melihat mata Sena berkaca-kaca
"Cepat minum! Perut kamu sakit nanti!" seru Dave karena Sena hanya diam saja menunduk
"Sayang, kamu denger kan apa yang aku katakan?" Sena mengangguk lalu mengambil gelas yang Dave sodorkan kepadanya
"Jangan makan makanan seperti ini lagi, kamu sedang mengandung. Aku tidak mau kamu membahayakan janin kamu."
"Maaf," lirih Sena. Melihat Sena terus menunduk, Dave mendekap kepala istrinya dan mengecupnya berkali-kali
"Aku juga minta maaf sayang, aku tidak akan melarang kamu makan apa saja, tapi aku mohon jangan makan sesuatu yang bisa membahayakan bayi kita." Dave mendongakkan kepala Sena dan menghela nafas pelan melihat pipi Sena sudah basah
"Apa yang Mamah dan Papah tunggu? Makanlah!"
"Hmm." dehem Davin dan menarik kursi untuk Veny dan dirinya
"Jangan memasak yang pedes-pedes lagi Mah kalau aku dan Sena kesini." Veny mengangguk mengerti
__ADS_1
"Sekarang makan lagi ya, tapi jangan makan itu lagi. Biar aku yang suapin." Dave mengambil tempat duduk disamping Sena dam membubuhi nasi serta lauk ke dalam piring
"Dave!"
"Iya sayang?"
"Aku mau itu!" tunjuk Sena pada bakso yang tengah di makan Veny. Sedangkan Veny yang tengah mengunyah bakso mercon itu pun menatap Sena dan suaminya
"Huh!" Dave menghela nafasnya kasar
"Mah!" seru Dave, ia bingung bagaimana caranya mengatakan kepada istrinya kalau itu tidak baik untuk ibu hamil
"Sena sayang, ini tidak baik untuk kamu nak." ucap Veny mengingatkan menantunya
"Tapi aku pengen..." Sena menatap suaminya dengan menggigit bibir bawahnya kuat
"Berikan sedikit saja Mah, jika dia tidak hamil dia pasti mengerti. Tapi itu keinginan anaknya, kamu mau cucu kita lahir ileran?"
"Pah!"
"Apa? Mamah kamu juga dulu seperti itu saat mengandung kamu, apa yang Papah larang pasti dia mau itu. Dan jalan satu-satunya adalah memberikan apa yang dia mau." ucap Davin, dirinya juga tidak tega melihat wajah memelas menantunya
"Berikan saja, daripada kamu tidak mendapat jatah lagi!"
"Papah!" teriak Dave dan Sena bersamaan
"Apa Papah nggak denger."
"Haishh... Sudah-sudah."
"Dave, aku ingin..." Sena merengek pada suaminya
"Ingin apa?"
"Ingin itu Dave!" tunjuk Sena pada bakso mercon yang sedang dimakan oleh Veny
"Aku bolehin tapi jangan banyak-banyak." Sena mengangguk senang, ia pun langsung menyodorkan piring ke hadapan Veny
"Dasar anak kecil." gumam Dave
"Kecil-kecil gini aku sedang hamil tahu!" Davin dan Veny yang mendengar itu tertawa. Setelahnya mereka pun mulai makan dalam diam, dengan sesekali Dave memperhatikan Sena
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...