Possesif CEO

Possesif CEO
Semua Sudah Terjadi


__ADS_3

Sena memperhatikan tangannya yang sedang di genggam erat oleh Dave. Sena mati kutu dibuat Dave dan kedua mertuanya, tanpa Sena ketahui ternyata orang tua Dave sudah berada didepan ruangan Dave.


Sena sangat bingung harus berbuat apa, tapi jika ia tidak bergerak rasa kepalanya terasa ingin lepas dari tempat. Sena terlalu takut untuk mengangkat kepalanya, ia terlalu takut untuk melihat wajah kedua mertuanya


"Apa lehermu tidak sakit sayang?" tanya Dave pelan seperti orang berbisik, Dave juga tahu kalau pemilik hatinya itu sedang malu. Sena menggelengkan kepalanya dua kali


"Kamu tidak ingin berbicara lagi dengan Mamah mu ini sayang?" kali ini suara Veny lah yang terdengar didalam ruangan itu


"Sena!" seru Veny


"Iya Mah," Sena merutuki dirinya karena saat ia mengangkat kepalanya matanya langsung bertemu pandang dengan mata Davin dan Veny


Sena tersenyum kecil kala Veny tersenyum kepadanya, Sena melirik Dave saat Veny melambaikan tangannya meminta Sena untuk mendekat. Dave yang mengerti itupun memberi isyarat kepada Sena untuk mendekati Mamah nya


"Pergilah, Mamah sudah sangat rindu dengan menantunya yang nakal ini." Sena mengerucutkan bibirnya saat Dave mengatakan dirinya nakal


Sena beranjak dari duduknya dan melangkah pelan menuju sofa yang berada disamping brankar Dave, saat melihat Vano tertidur pulas, Davin dan Veny memilih menghampiri cucu tunggal mereka


"Apa kabar Mah, Pah?" menyalami Davin terlebih dahulu


"Seperti yang kamu lihat menantuku." Sena tersenyum kaku kala Davin tersenyum manis padanya. Sena malu kepada mertuanya yang begitu sangat baik, padahal ia sudah menyakiti anak mereka


"Maafkan Sena Pah," Davin menggelengkan kepalanya pelan


"Semua sudah berlalu, tidak perlu di ingat lagi. Jadikan semua yang terjadi ini pelajaran untuk ke depannya." Sena menatap sedih mertuanya, ia merasa sangat bersalah sudah menyakiti keluarga sebaik ini.


"Beri salam kepada Mamah, dia adalah orang kedua yang merindukanmu setelah Dave." ucap Davin. Sena mengangguk, iapun bergeser untuk menyapa Mamah mertuanya


"Mah," Sena memberikan senyum tipisnya kepada Veny saat Mamah mertuanya itu menatapnya dengan begitu sangat lekat. Tetapi itu tidak berlangsung lama karena setelahnya mertuanya itu memeluk dirinya dengan begitu dirinya sambil menangis


"Kamu ke mana sayang? Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa permisi?" isak Veny di pelukan Sena, ia bahagia akhirnya menantunya itu kembali setelah dua tahun menghilang.


"Maaf Mah, Sena minta maaf sudah membuat anak Mamah menjadi seperti saat ini, dan Sena juga minta maaf telah membawa cucu Mamah pergi." ucap Sena dengan penuh penyesalan. Veny melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan Sena dan menatap Sena sendu


"Benar apa yang Papah kamu katakan sayang, semuanya sudah berlalu tidak perlu di bahas atau di ingat lagi. Mamah hanya ingin masalah ini menjadi pelajaran untuk kamu dan Dave ke depannya."


Sena meneteskan air matanya, wajahnya memerah menahan tangis melihat reaksi kedua mertuanya setelah lama tidak bertemu. Jika orang lain mungkin Sena akan di marahi habis-habisan, tetapi tidak untuk Davin dan Veny yang begitu baik mau memaafkan nya dan menerima dirinya dengan tangan terbuka


"Terima kasih Mah, terima kasih untuk kebaikan Mamah dan Papah mau menerima Sena kembali. Padahal Sena sudah sangat jahat kepada anak Papah dan Mamah." ucap Sena.

__ADS_1


Veny menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis. Melihat cairan bening yang turun terus menerus, membuat tangan Veny terulur untuk menghapus air mata menantunya


"Tentu saja Mamah menerima kamu sayang, kamu menantu Mamah kenapa Mamah tidak menerima kamu?" Sena menganggukkan kepalanya, ia menatap genggaman tangan Veny


"Hei, kamu lelaki mengapa kamu menangis?!" Veny dan Sena menoleh menatap Davin


"Siapa yang menangis?" tanya Veny, Davin memajukan bibirnya menunjuk Dave.


Sena dan Veny yang melihat itu mengikuti arah petunjuk Davin. Dapat Sena dan Veny lihat kalau Dave sedang berderai air mata sambil melihat ke arah mereka berdiri


"Anak Mamah kenapa menangis sayang?" Veny melepaskan tangan menantunya dan berjalan mendekati sang Putra


"Ada yang sakit sayang?" tanya Veny sambil mengusap air mata anak semata wayangnya. Dave menatap sang Mamah dengan begitu haru, ia menggenggam tangan Veny yang berada di pipinya


"Istri aku Mah, aku senang dia mau kembali lagi sama aku." ucap Dave disela tangisnya. Veny mengangguk dengan tersenyum sedih


"Kalau begitu Mamah punya permintaan sama kamu," Dave mengangguk


"Berhenti menyentuh minuman haram itu sayang, Mamah tidak mau kamu kenapa-kenapa. Tubuh kamu sudah lemah, jika kamu paksakan lagi Mamah tidak akan tahu akan jadi seperti apa nantinya."


"Tidak ada alasan lagi untuk aku menyentuh minuman itu Mah, karena sekarang orang yang membuat aku hilang akal dan pikiran sudah ada disini." jawab Dave sambil menatap Sena


"Sudah jangan menangis, malu jika anakmu melihat. Lagi pula semuanya sudah berlalu, Mamah hanya berharap tidak ada lagi yang membahas masalah ini."


"Iya Mah." jawab Dave serak, ia membalas pelukan Mamah nya saat Mamah nya itu memeluk dirinya


"Mamah sayang banget sama kamu nak, saat melihat kamu terpuruk hati Mamah sakit." lirih Veny


"Maaf Mah, sudah membuat Mamah khawatir." jawab Dave


"Mamah..." teriakan anak kecil didalam ruangan itu membuat semua orang yang ada disana menoleh, begitu juga dengan Davin yang duduk bersebelahan dengan anak kecil yang tidak lain adalah cucunya


"Hei, anak tampan sudah bangun?" Davin mendekatkan dirinya kepada Vano. Tetapi cucunya itu malah melirik Sena


"Mamah!" seru Vano memanggil Mamah nya


"Apa sayang?" Sena menggendong anaknya dan tersenyum melihat Putra nya itu sedang memperhatikan Davin


"Itu siapa Mah?" Vano bertanya dengan pandangan yang tetap menatap Davin

__ADS_1


"Itu Opa nya Vano sayang." Vano langsung menoleh dan menatap Mamah nya dengan tatapan bertanya


"Kenapa sayang?"


"Jadi Vano masih punya Kakek?" tanya Vano lagi


"Iya sayang, Kakek baby Vano itu adalah orang tuanya Papah nak." saat Dave bersuara, Vano menolehkan kepalanya menghadap brankar Dave berbaring


"Asikkk... Vano masih punya Kakak!" Vano bersorak senang.


"Mamah, Vano mau gendong Eyang." Sena tersenyum melihat tingkah Vano yang begitu senang


"Sini sayang, gendong Eyang!" Davin juga meminta Vano untuk ia gendong


Sena pun memberikan Vano kepada Davin, ia tersenyum melihat senyum Vano. Ia pikir Vano akan butuh waktu untuk menerima, namun dugaannya salah. Vano begitu sangat bahagia saat tahu kalau dirinya masih memiliki kakek dan nenek


"Opa rindu banget sama baby Vano."


"Kok baby sih?"


"Kalau bukan baby apa dong?"


"Vano."


"Tapi dulu Opa terbiasa memanggil Vano dengan baby." Vano mengerucutkan bibirnya


"Vano kan sudah besar, malu tahu di panggil baby." ke empat orang dewasa itu tertawa dengan tingkah gemas Vano


"Walaupun Vano sudah besar Vano akan tetap menjadi bayi kecil semua orang."


"Isshhh.." Vano mengerucutkan bibirnya lucu dan memandang ke arah lain


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2