Possesif CEO

Possesif CEO
Balasan


__ADS_3

Sena mengusap keringat yang membasahi dahi sang anak, mereka saat ini sedang berada didalam mobil yang membawa mereka menuju rumah keluarga Alexander. Ya, atas permintaan mertua perempuannya, Dave dan Sena memutuskan untuk pulang ke sana lebih dulu sebelum pulang ke rumah mereka


"Panas sayang?" Sena menoleh ketika mendengar suara Dave yang begitu dekat dengan telinganya


"Enggak sih, tapi enggak tahu kenapa ini keringat nya tidak berhenti keluar sejak tadi." jawab Sena sambil mengibas-ngibaskan tangannya di wajah Vano yang penuh keringat


"Jerr, coba kamu lihat di dalam dashboard itu ada kipas tidak?" Jerry melirik sekilas melalui kaca yang ada diatas kepalanya, setelah itu ia membuka dashboard mobil sambil tetap fokus pada jalan raya


"Ini yang anda maksud Presdir?!" tanya Jerry tidak percaya kalau Dave memiliki benda seperti ini, apalagi warnanya pink. Sena melihat Dave dan menanti jawaban dari Dave, ia hanya ingin tahu bagaimana wajah suaminya saat ini


"M.. Mana ada? Mungkin itu milik Mamah yang ketinggalan."


"Bukannya mobil ini sangat anda larang keras ada yang memakainya ya?" merasa terpojikan,Dave menatap tajam ke arah kaca spion yang ada diatas kepala Jerry. Membuat Jerry yang melihat itu tersenyum puas, saat ia menoleh ke samping, ia melihat Sena tengah senyum-senyum sendiri


"Kenapa kamu tersenyum sayang?" tanya Dave antara malu dan tidak suka


"Enggak... Enggak apa-apa kok, aku cuman gemes aja lihat wajah Vano saat tidur."


"Ini Presdir kipasnya!" Sena menahan tawanya ketika Jerry mengulurkan kipas elektronik berwarna pink itu kepada Dave. Dan dengan sedikit berat Dave mengambil kipas itu dari tangan Jerry


"Menyebalkan sekali," gumam Dave menatap sebal Jerry


Sena dan Jerry tersenyum kecil, mereka berdua benar-benar tidak percaya kalau Dave yang seperti itu juga punya selera berbeda. Berbeda dari lelaki lain maksudnya


"Heh kalian berdua! Mau berhenti atau terima akibatnya?" Sena dan Jerry langsung terdiam setelah mendapat teguran yang tidak main-main menurut mereka berdua


"Lihat saja nanti, aku buat kalian berdua membayar ini." Dave tersenyum misterius, membuat Sena menjadi sedikit takut jika Dave merencanakan sesuatu untuk mengerjainya lagi seperti dirumah sakit semalam


"Mamah, Papah!" Dave dan Sena seketika langsung melihat ke arah anak mereka yang ternyata sudah bangun


"Anak Papah sudah bangun ya?!" Dave meletakkan benda yang membuat dirinya ditertawakan, dan meraih putranya dari pangkuan sang istri. Anak kecil itu mengangguk pelan sambil mengucek matanya


"Apa yang membuat baby Vano bangun sayang?" tanya Dave pada putranya. Vano pun menatap wajah Papah nya


"Panas Papah!"


"Panas sayang? Ini mobilnya kan pakai AC, masak ya sih panas? Papah saja kedinginan begini." anak kecil itu menggelengkan kepalanya dan menunjuk baju yang ia gunakan

__ADS_1


"Baju ini yang buat Vano panas," mendengar ucapan anaknya yang seperti itu, Dave mencoba memegang baju anaknya untuk mengetahui bahan baju apa yang sedang anaknya pakai


"Pantas saja kamu kepanasan, bahannya saja seperti ini." Dave berbicara seperti itu dengan melirik Sena


"Aku pikir lebih baik ia memakai bahan seperti itu daripada kedinginan." ujar Sena tersenyum kecil


"Tapi lihat-lihat dong sayang, itu menyiksa anak kita atau tidak. Lihat dia sampai berkeringat seperti ini." ucap Dave mengusap keringat yang membasahi dahi putranya


"Maaf."


"Carikan baju yang bahannya lembut dan dingin," Sena mengangguk dan dengan cepat meraih tas yang berisi pakaian anaknya. Iapun mencari baju yang seperti Dave minta


"Lepas ya sayang bajunya, baby Vano kepanasan kan memakai baju ini?" Vano mengangguk, ia mengangkat kedua tangannya saat Papah nya melepaskan baju itu dari tubuhnya


"Ini!" Dave menerima baju pemberian Sena, dan memasangkan baju itu kepada anaknya menggantikan baju yang telah ia lepas tadi


"Bagaimana sayang? Bajunya masih panas?" Vano menggelengkan kepalanya. Dave tersenyum melihat putranya itu terlihat masih mengantuk


"Baby Vano masih mengantuk ya sayang?"


"Tidur di pangkuan Papah ya nak, sebentar lagi kita sampai rumah Opa kok."


"Bahagia selalu untuk keluarga kecil ini yang tuhan." batin Jerry yang sedari tadi diam-diam memperhatikan keluarga kecil itu melalui kaca yang berada diatas kepalanya


****


"Selamat datang kembali Nyonya muda Alexander!" Veny merentangkan kedua tangannya mempersilahkan anak serta menantunya masuk


"Oma, Opa! Ini rumah Opa dan Oma?" tanya Vano melihat ke sekeliling rumah besar yang bagaikan istana didalam film-film


"Rumah ini bakal menjadi milik Vano kelak, dan semua harta kekayaan Opa akan menjadi milik Vano."


"Kekayaan?" tanya Vano ulang


"Ya sayang, semua harta Opa akan menjadi milik Vano."


"Sudahlah Mah, dia masih terlalu kecil untuk tahu tentang harta. Akan ada waktunya nanti, lagi pula aku belum tentu memiliki satu anak saja." ucap Dave, membuat semua orang menatap ia dengan bertanya

__ADS_1


"Kenapa pada lihatin aku seperti itu?" tanya Dave karena ditatap seperti itu oleh ke tiga orang dewasa disana


"Maksud kamu, kamu mau menambah momongan sayang?" tanya Veny mengartikan ucapan anaknya tadi


"Tentu saja Mah, aku tidak ingin keluarga Alexander hanya melahirkan satu anak saja sedangkan mereka mampu membuat anak satu lusin." Sena membulatkan matanya, orang yang ada disamping nya ini sepertinya tidak memiliki otak


"Wahhh... Wahh... Kalau begitu bagus dong, Mamah akan mempunyai banyak cucu." ujar Veny terlihat begitu senang mendengar kalau anaknya berniat untuk menambah momongan. Davin yang melihat tingkah istrinya itu hanya menggeleng pelan


"Jika kamu ingin punya anak lagi, lebih baik kalian berdua bicara dulu jangan hanya mengikuti keinginan kamu saja." ucap Davin memberikan masukan, karena ia melihat ada raut terkejut di wajah menantunya itu, Davin tidak ingin hanya karena permasalahan itu sepasang suami istri muda ini bertengkar di saat hubungan mereka baru saja baik


"Kamu pasti mau kan sayang? Lagi pula aku tidak tega melihat baby Vano sendirian tidak memiliki teman." Sena menatap tajam Dave, bisa-bisanya suaminya itu mencari kesempatan dalam kesempitan


"Eng..."


"Lihat Mamah begitu sangat senang saat mendengar kalau kita akan menambah momongan." Dave menyela Sena, membuat Sena harus melihat kedua mertuanya. Dan benar saja apa yang Dave katakan, kalau mertuanya itu terlihat begitu berharap memiliki cucu lagi


"Baby Vano juga mau kan sayang punya adik?" tanya Dave pada anaknya


"Adik lucu ya Pah?" tanya Vano juga


"Iya sayang, adik lucu. Mau ya?" Vano mengangguk antusias


"Iya Pah Vano mau. Vano mau adik lucu tiga." Dave terkekeh melihat putranya itu mengangkat lima jari bukan tiga


"Jadi sebanyak itu ya sayang?" Vano mengangguk


"Tuh Mah, baby Vano minta adik lucu segini." Dave menunjukkan lima jarinya. Sena menajamkan matanya kepada Dave, tetapi saat melihat tatapan kedua mertuanya yang tertuju padanya, Sena pun tersenyum kikuk. Sedangkan Dave tersenyum bahagia


"Rasakan, itu balasan karena sudah menertawakan suaminya." batin Dave tersenyum puas melihat wajah kesal sangat istri


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2