
Radian menyesap green tea nya, saat ini ia sedang berada disebuah cafe yang berada tidak jauh dari perusahaan Dave. Maka dari itu ia meminta Dave untuk datang kesini jika sedang tidak sibuk, tapi ternyata Dave memintanya untuk menunggu sebentar. Baiklah ia akan sabar menunggu, dirinya sudah terbiasa menunggu maka ia akan sabar.
"Ternyata dia menyuruhku untuk menunggu sampai waktuakan siang tiba, dasar Dave memang paling bisa." Radian tidak sengaja melihat jam, dan ternyata sudah menunjukkan pukul 11:45 WIB. Dimana 15 menit lagi adalah waktunya makan siang dan istrihat untuk para pekerja
Radia mengadarkan pandangannya, ia memuji cafe yang ia tempati sekarang. Sederhana tapi nyaman, dan makannya juga tidak kalah enak dengan Restauran mahal bintang lima.
Sembari menunggu Dave datang, ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi kekasih sekaligus calon istrinya yang juga tengah bekerja. Radian menempelkan benda pipih itu pada telinga kanannya
"Hallo sayang!" sapa Radian pada orang di sebrang sana
"Iya hallo, ada apa Mr. Radian Syah?"
"Oh sayangku, kenapa memanggilku seperti itu? Aku ini calon suamimu sayangku." ucap Radian dengan sengaja menggoda Caca
"Berhenti memanggilku seperti itu, menggelikan tahu tidak?!" Radian terkekeh pelan mendengar suara Caca yang begitu sengit
"Apa kamu tidak bekerja?"
"Siapa?" tanya Radian
"Memang nya aku sedang berbicara dengan siapa?"
"Dengan calon suami kamu," Radian tersenyum mengatakan itu
"Itu mau kamu, kalau aku tidak." wajah Radian langsung berubah masam, ia tidak suka dengan apa yang baru saja Caca katakan
"Jadi kamu tidak mau menikah dengan aku?"
"Sebenarnya aku tidak mau, tapi berhubung kamu sudah menemui orang tuaku dan mereka setuju, akupun juga setuju.
"Bilang saja kalau kamu malu mengatakan kalau kamu juga seneng aku melamar kamu, ya kan?"
"Heh, mana ada tidak ya."
"Jujur saja lah sayangku, aku tidak apa kok. Daripada pura-pura marah, tapi didalam hati kamu, kamu seneng kan? Ya kan?"
"Ma... Mana ada?" jawab Caca dari sebrang dengan gugup, Radian tersenyum puas. Sudah ia pastikan kalau saat ini wajah Caca tengah memerah bagai kepiting rebus, ia meraih gelasnya dan menyesap minuman yang terlalu lama menganggur
"Radian," mendengar namanya dipanggil, Radian menoleh ke belakang
"Kamu mengatakan sebentar, tapi kamu datang kesini saat jam istirahat datang." Dave memajukan tangannya untuk sebagai tanda salam, Radian yang mengerti itupun melakukan hal yang sama
__ADS_1
"Sendiri saja?" tanya Dave dan mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Radian
"Berdua." jawab Radian santai, Dave mengedarkan pandangannya mencari sosok teman Radian. Karena lelaki di depannya ini tadi mengatakan sendiri, namun saat ditanya lagi sudah berdua
"Tidak ada siapa-siapa disini." ucap Dave dan menatap Radian dengan bertanya
"Dengan dia," Radian menunjuk ponsel yang menempel ditelinga nya
"Caca?" tanya Dave, Radian menganggguk mengiyakan. Dave pun ikut mengangguk-anggukan kepalanya, ia memanggil waiters yang baru saja memberikan pesanan untuk pengunjung yang lain
"Selamat siang Mr. Alexander," sapa waiters itu yang memang sudah mengetahui siapa orang yang memanggilnya itu
"Siang juga." jawab Dave
"Mau pesan apa Mr. Alexander?" tanya waiters itu ramah
"Aku mau makan siang dan minum yang seperti biasanya ya,"
"Oh baiklah Mr. Alexander, mohon tunggu sebentar ya." waiters tersebut menunduk hormat dan segera pergi dari sana
"Sayangku aku tutup dulu ya, aku sedang bersama dengan Dave. Nanti aku jemput ya, Muachh." setelah mendapat jawaban dari Caca, Radian mematikan panggilan telpon itu
"Jika dia menolak aku akan melakukan cara lain agar bisa memilikinya." jawab Radian dengan tersenyum menyeringai
"Jangan bilang kalau kamu menggunakan caraku juga?!" tanya Dave penuh selidik, Radian menatap sengit Dave
"Tentu saja." jawab Radian dengan seringai iblis nya yang tidak pernah ketinggalan. Dave menggelengkan kepalanya tidak percaya
"Pantas saja para wanita mengatakan kalau semua pria itu sama, inilah yang mereka maksud dari sama nya para pria." Dave terkekeh pelan, ia melepaskan jas nya dan menyampiri dibalik punggungnya
"Tapi maaf ya, aku tidak sampai membuat dia jebol duluan. Jika aku sampai mencoblos duluan maka dia tidak akan pernah mau mengenal aku lagi."
"Hahhaha.. wanita memang seperti itu, tapi ketika mereka sudah ditiduri mereka tidak punya pilihan lain selain menerima. Apalagi jika wanita yang kamu tiduri itu mengandung anakmu, itu akan lebih mudah bagimu untuk memilikinya."
"Licik, aku tidak heran lagi jika kamu sukses, selain memiliki wajah yang tampan kamu juga sangat licik." Radian menggeleng pelan, ia mengambil sesuatu yang sengaja ia bawa untuk diberikan kepada Dave
"Apaan nih?" tanya Dave yang menerima lemparan dari Radian
"Undangan?" tanya Dave dan melihat siapa orang yang berada dalam undangan
"Kamu akan menikah dengan Caca dalam waktu dekat ini?" tanya Dave dan membuka undangan pemberian Radian
__ADS_1
"Tentu saja, aku tidak ingin berlama-lama. Umurku sudah cukup matang untuk menikah, jika aku tidak menikah sekarang maka aku akan menjadi pria tua lima tahun yang akan datang."
"Permisi," Dave menoleh dan melihat waiters tadi tersenyum kearah nya. Dave pun memberi ruang untuk waiters itu meletakkan makanan dimeja yang ia duduki
"Silahkan menikmati hidangannya Mr. Alexander," Dave mengangguk
"Terima kasih," waiters itu mengedipkan kedua matanya dan segera pergi dari sana setelah menyelesaikan tugasnya
"Aku hanya pesan satu," ujar Dave kepada Radian
"Tidak apa, lagi pula aku sudah kenyang. Ditambah dengan mendengar suara istriku, rasa kenyangnya semakin bertambah." Dave mendengus ia meletakkan undangan dari Radian tadi
"Orang yang sedang jatuh cinta memang beda ya, aku lebih baik makan dulu daripada mendengarkan orang jatuh cinta." Dave mengambil alat makannya dan menyendokkan ke dalam mulutnya. Radian memperhatikan Dave yang seperti orang tidak makan satu tahun
"Kamu lapar atau bagaimana Dave? Makan mu sudah seperti orang yang tidak diberi makan oleh istri selama satu tahun." Dave yang masih asyik mengunyah itu menoleh kearah Radian dan mengangguk-anggukan kepalanya
"Tebakan kamu sangat tepat sekali. Aku memang sudah tidak pernah dimasak kan oleh Sena, seiring perutnya membesar kakinya juga sudah memulai membengkak." Dave tersenyum kecil, dan melanjutkan makannya
"Apa yang kamu rasakan semenjak Sena hamil lagi?"
"Tidak dapat di gambarkan An, di kehamilan dia yang kedua ini aku selalu takut akan semua hal yang dia lakukan,"
"Maksudnya?"
"Aku selalu takut jika dia sudah melakukan kegiatan yang biasa dia lakukan, seperti memasak, menyirami bunga-bunga di taman, dan merapihkan kamar."
"Tidak selebay itu juga kali, malah menurut aku ibu hamil itu harus banyak gerak,"
"Yeah.. Bisa dikatakan aku lebay, tapi aku tidak ingin merasa bersalah untuk kedua kalinya."
"Kamu benar Dave, setidaknya kamu melakukan yang terbaik untuk istri dan calon anakmu." Dave mengangguk dan tersenyum kecil
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1