
Sena memukul-mukul bantal yang berada di pangkuannya, sejak sambungan video call dengan Nenek suaminya itu selesai Sena menjadi dongkol sendiri. Sena kesal karena Nenek Dave salah mengira orang
"Kesel, kesel! Kenapa sih Dave harus bawa wanita itu ke rumah Nenek nya? Dasar wanita ganjen!" kesal Sena, namun ia mencoba untuk bersabar mengingat dirinya tengah mengandung dan mungkin saja membahayakan janin nya
"Maafkan Mamah ya sayang, sejak ada kamu disini Mamah semakin sensitif dalam hal apapun." ucap Sena. Ia pun memutuskan untuk turun dari atas kasur dan melangkah keluar dari dalam kamar
Sejak tadi Bi Siti sudah beberapa kali mengetuk pintu kamarnya untuk menyuruhnya makan malam, belum lagi Mamah mertuanya yang juga ikut khawatir
Sena menuruni anak tangga dengan pelan, ia memegangi perut bagian bawahnya. Sena melihat ke sekeliling, tapi ternyata rumah itu sudah sepi
"Apa Mamah dan Papah sudah tidur?" gumam Sena, rumah ini sudah seperti rumah yang ia tempati dengan Dave. Besar namun sepi
"Ehh, Nyonya muda!" Sena cukup terkejut ketika mendengar suara seseorang dari balik tubuhnya, Sena memutar tubuhnya perlahan dan tersenyum kepada orang yang membuat jantung nya hampir lepas itu
"Bi Siti, Bibi belum tidur?"
"Belum, Nyonya besar menyuruh Bibi untuk menunggu Nyonya muda turun dan makan, jadi Bibi belum bisa tidur kalau Nyonya muda belum makan malam." jawab Bi Siti dengan tersenyum, tidak ada raut kesal ataupun marah pada wajah itu membuat Sena merasa bersalah karena sudah membuat asisten rumah mertuanya itu menunggu
"Ya sudah saya akan makan malam sekarang, Bibi istirahat lah. Bibi pasti lelah," ucap Sena dan duduk di salah satu kursi meja makan
__ADS_1
"Ah tidak kok, Bibi sudah terbiasa seperti ini." ujar Bi Siti
"Hmm baiklah, tapi jangan dipaksa ya, Bibi bisa langsung istirahat tidak perlu menunggu saya." Bi Siti hanya mengangguk dengan apa yang Sena katakan
"Saya tidak melihat adanya Papah dan Mamah Bi, apakah mereka sudah tidur?" tanya Sena dan menoleh ke samping untuk melihat apakah Bi Siti masih berada disana
"Tuan dan Nyonya sedang izin untuk keluar sebentar Nya, Nyonya besar bilang dia tidak bisa berpamitan langsung dengan anda karena sudah telat." jawab Bi Siti
"Memakai pakaian bagus?" tanya Sena, melihat Bi Siti mengangguk Sena tahu ke mana perginya kedua mertuanya itu, karena pagi tadi Veny sudah mengatakan kepadanya akan pergi kondangan ke tempat rekan bisnis Davin, dimana anak dari rekan bisnisnya itu menikah
****
Terlihat seorang wanita tengah berjalan mengendap-endap keluar dari salah kamar, membuat seorang pria yang terbangun karena tenggorokan terasa kering itu menatap curiga dengan apa yang tengah wanita itu lakukan ditengah malam hari seperti ini
"Hmpttthh.." Sheila yang sedang berjalan mengendap-endap begitu terkejut saat ada yang membekap mulutnya dan menariknya entah ke mana
Sheila memukul tangan seseorang yang membekap mulutnya dari belakang, Sheila ingin tahu siapa orang yang ada dibelakang tubuhnya
"Hmptthh.." Jerry sedikit meringis merasakan pukulan yang cukup keras pada buku tangannya. Jerry membawa Sheila masuk ke dalam kamarnya
__ADS_1
Bugh..
Jerry mendorong tubuh Sheila sampai wanita itu tersungkur ke lantai. Beruntung Sheila menahan tubuhnya, jika tidak bisa berakibat fatal untuk wajah cantiknya itu. Sheila yang diperlakukan seperti itu pun tidak terima, ia mencengkram kuat-kuat tangannya dan bangkit dari sana
"Kamu!" seru Sheila saat melihat siapa orang yang telah berani membekap mulutnya dan mendorong dirinya sampai tersungkur ke lantai
"Kenapa kamu selalu ikut campur dengan urusan ku, apakah kamu tertarik padaku?" tanya Sheila dan melipat kedua tangannya didepan dada. Jerry yang mendengar itu berdecih dan melangkah maju mendekati Sheila
"Apa yang sedang kamu rencanakan wanita licik?.."
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1
Ada yang baru nih! Yuk mampir!!