
"Opa, nanti kalau aku sudah besar aku mau jadi pria hebat seperti Opa," ucap Vano kepada Davin yang sedang sibuk memperhatikan grafik perusahaan, Davin menoleh ke samping dimana cucu pertamanya dan calon penerus perusahaan Alexander kedepannya
"Tentu saja sayang, jangan seperti Papah mu yang seperti anak muda terus." jawab Davin sambil terkikik dalam hatinya karena sudah mengatakan sesuatu tentang putranya kepada cucunya. Padahal perusahaan bisa semaju ini semenjak dipegang alih oleh anak tampannya itu
"Memang nya Papah muda terus kenapa Opa? Perasaan Papah memang selalu tampan dan terlihat muda."
Davin menepuk dahinya mendengar ucapan anak berumur tujuh tahun di sampingnya ini, Davin sangat yakin jika sikap percaya diri yang ada pada cucunya ini diturunkan oleh anak laknatnya itu
"Tidak, tidak. Kamu benar, kamu memang harus seperti Opa saat besar nanti." ujar Davin sambil mengelus sayang bagian belakang kepala cucunya yang tengah memperhatikan dirinya
"Opa, kakak!" teriakan dari arah pintu membuat kakek dan cucu itu menoleh, Davin tersenyum saat mendapati istri cantiknya bersama dengan cucunya yang juga tak kalah cantik itu
"Aduh cucu Opa yang cantik ini," ucap Davin saat menerima tubuh mungil itu ke dalam pelukannya
"Ayo lunch Opa, aku sudah sangat lapar!" seru Vina dengan tangan mungil nya mengusap perut, dan itu tidak luput dari pandangan ketiga orang lainnya disana
"Apa cucu Opa yang cantik ini tidak diberi makan oleh Tante Lina?" dengan bibir manyun Vina menggelengkan kepalanya
"Vina enggak mau Opa, soalnya kata Kakak aku masih punya rumah."
"Hahaha... Kakak kamu ini memang kelewat dingin, entahlah mengikuti siapa sifatnya ini, haha.." Davin tak dapat menghentikan tawanya, yang dimana itu membuat Veny sang istri dan juga cucu cantiknya ikut tertawa, berbeda dengan yang sedang ditertawakan
"Dasar pria tua!" Davin terperangah mendengar geraman dari mulut kecil cucu pertamanya itu
"Mah?"
__ADS_1
"Hahaha.. Rasakan! Vano kok di lawan." dengan sombongnya Vano melangkah keluar dari ruang kerja Opa nya, meninggalkan ketidakpercayaan sepasang suami istri yang merupakan kakek dan neneknya
"Opa, Oma!" seru gadis kecil yang sejak tadi memperhatikan keduanya
"Oh ya cucu Opa yang paling cantik, gara-gara Kakak mu yang tengil itu kami jadi melupakan kamu," ucap Davin dan mengelus kepala Vina
"Jangan bicara seperti itu Opa, aku enggak suka Kakak aku di omongin aneh-aneh." peringat Vina, memang benar jika dirinya tidak suka ada yang membicarakan kakaknya, walaupun itu Opa dan Oma nya sendiri
"Astagaa.. Hasil buatan Dave mengapa begini semua?" gumam Davin pelan, namun pada saat ia melirik ke arah istrinya, ia malah mendapatkan tatapan mengerikan
"Dan perlu kamu tahu kalau Dave itu hasil dari buatan mu, jadi jangan salahkan jika keturunan kamu menyebalkan, karena itu juga didapat dari dirimu."
Davin menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"Tunggu aku dong sayang!"
"Jalan sendiri, masih punya kaki kan?" sinis Veny sambil melirik malas sang suami yang mengambil tangan cucunya yang satunya
****
"Sayang tunggu aku dulu!" teriak Dave dari belakang, tidak perduli para pegawai hotel yang ada disana pada melirik ke arah dirinya, toh dirinya lah pemilik gedung mewah ini
"Sena aku bilang berhenti, jangan kekanakan seperti ini." teriak Dave lagi yang sudah mulai kehabisan nafas, kini mereka berada didepan pintu masuk hotel. Sena menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya
"Maaf sayang, aku enggak bermaksud bentak kamu, tapi..." Dave merutuki kebodohannya saat melihat raut wajah Sena yang begitu sedih. Tidak ingin menjadi perhatian penghuni hotel, Dave membawa istrinya untuk ke tempat yang lebih sepi
__ADS_1
Sena mengikuti langkah kaki Dave yang menuntun dirinya ke parkiran VIP yang dimana disana ada mobil kantor yang biasa Jerry gunakan untuk menjemput Dave
"Huh..." Dave menghela nafasnya berat, ia harus menyusun akal agar persiapan yang telah ia buat tidak hancur berantakan karena istrinya memergoki dirinya. Dengan perlahan Dave membalikkan badannya menghadap Sena, dapat Dave lihat jika istrinya itu sedang menghapus kasar air mata yang membasahi pipi mulusnya
"Maaf sudah membuat air mata ini jatuh lagi," Dave menyingkirkan tangan wanitanya dari sana dan menghapus jejak cairan bening yang masih tertinggal
"Tapi aku bisa jelasin semuanya, yang kamu lihat tadi itu tidak seperti yang kamu pikirkan." Sena menggelengkan kepalanya
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa merasakan sakit, jadi tidak masalah jika kali ini aku mer..." Dave memegang kedua pipi sang istri dan memaksa untuk Sena agar menatap matanya
"Tidak sayang, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Kamu salah paham, aku minta maaf! Kamu percaya sama aku kan?" Dave menatap lekat mata Sena yang tak berhenti mengeluarkan cairan bening itu yang sialnya Dave sangat benci
"Aku percaya, tapi..." Dave menunggu dengan penuh harap apa yang akan istrinya itu katakan selanjutnya
"Aku kecewa sama kamu."
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1