
Caca keluar dari Restauran dengan nafas lega, sudah beberapa hari ini ia selalu lembur dan lembur. Caca mencari dimana keberadaan ponselnya
Sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan Caca, membuat Caca yang sedang sibuk memeriksa tas nya itupun mengangkat kepalanya dan memutar bola matanya malas kala tahu mobil siapa yang ada didepan nya saat ini
"Malam sayang, aku sudah bilang jangan lembur kenapa masih bandel?" tanya Radian yang baru saja keluar dari dalam mobil. Ia melangkah menuju kekasih hatinya
"Kamu ini kenapa sih? Namanya juga orang kerja, pasti ada waktu lembur lah." jawab Caca sarkas, ia tidak suka dengan sikap Radian yang sudah melebihi sifat Dave, padahal mereka baru menjadi sepasang kekasih belum menjadi sepasang suami istri
"Aku kekasih kamu, wajar dong kalau aku ingatin kamu. Lagipula ini malem, enggak baik untuk kamu lembur. Bagaimana kalau ada orang jahat? Ini Restauran milik kamu, tidak masalah jika kamu ingin menutupnya kapan saja. Dan kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu di apartemen bukan?" Caca diam mendengarkan apa yang keluar dari mulut Radian, ia selalu mendengar apa yang selalu Radian katakan padanya, kekasih yang baik bukan.
"Sudah? Tidak ada lagi kan? Kalau tidak ada lagi aku pulang dulu, selamat malam pacar." Caca tersenyum lebar, namun senyum itu terlihat tidak tulus karena itu dilakukan dengan paksa
Saat Caca akan melangkah pergi dari sana, Radian lebih dulu menghentikanya dengan memegang tangan kiri Caca. Caca melihat kearah tangannya lalu bergantian melihat wajah Radian
"Tidak sopan sekali mengabaikan kekasihnya yang sudah bela-belain datang kesini untuk menjemput kamu pulang." ucap Radian dengan wajah yang menahan kesal
"Oh ya? Tapi aku tidak minta kamu untuk jemput tuh!" Radian mengeratkan rahangnya, sedangkan Caca tersenyum lebar. Ia memutar kan pergelangan tangannya yang cengkram sangat kuat oleh Radian
"Lepas! Kamu menyakiti aku!" seru Caca dan berusaha melepaskan tangannya yang sudah terasa sakit itu
"Lebih sakit hati aku dibanding dengan tangan ini." ucap Radian dengan suara datar
"Dasar gila!" teriak Caca sambil tetap berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Radian
"Aku memang gila, apa kamu baru tahu kalau aku gila?" tanya Radian sambil menampilkan senyum iblis nya, Caca sedikit takut melihat sisi lain yang di miliki oleh Radian, tapi ia tidak boleh menunjukkan kalau dirinya lemah
"Wahh... Sayang nya aku baru tahu kalau kamu ternyata gila." jawab Caca
"Kamu ingin melihat kegilaan apa yang akan aku lakukan sekarang?"
"Tidak, aku tidak ingin melihat apapun."
"Tapi aku ingin, dan kamu tidak bisa menghentikan nya."
__ADS_1
"Apa maksud kamu Rad... Mpthhh.." Caca mendorong dada Radian agar melepaskan tautan itu, Radian memang benar-benar gila pikir Caca. Bagaimana bisa ia melakukan hal seperti ini dipinggir jalan, dimana orang-orang berlalu lalang mungkin saja bisa melihat mereka
****
Dengan sekuat tenaganya Dave tetap berusaha berjalan menuju pintunya, seluruh tubuhnya sudah sangat lemas. Namun ia masih tetap berusaha untuk sampai ke dalam kamarnya segera
Dave mendengar suara istri dan Mamah nya tengah tertawa enak, Dave tersenyum bahagia jika istrinya bisa tertawa lebar seperti itu dan memiliki teman bicara tidak kesepian lagi. Ditambah istrinya juga ada yang menjaga di kehamilan yang sudah mau delapan bulan ini
"Iya, Dave waktu itu menangis karena digangguin oleh anak perempuan ditempat sekolah dasarnya dulu, Mamah juga tidak tahu kenapa anak laki-laki Mamah menjadi cengeng seperti itu." ucap Veny yang membuat Sena tersenyum manis
"Bukannya itu karena kamu ya Mah?" tanya Davin yang sedang sibuk membaca koran yang berada di tangannya. Sena dan Veny menoleh kearah Davin
"Maksud Papah karena Mamah apa?" tanya Veny yang tidak terima kalau ia disalahkan untuk anaknya yang cengeng pada saat itu
"Ya karena kamu, kamu kan dulu saat mengandung Dave meminta ini itu kalau tidak dituruti menangis seperti anak kecil. Jadi wajar saja dia dulu menjadi cengeng." jawab Davin tenang dan menyeruput kopinya. Veny berdecak tak suka, suaminya itu membuka rahasia dihadapan sang menantu, membuat ia malu saja
"Apakah ini kerjaan kalian jika tidak ada aku?" Veny dan Sena langsung menoleh ke belakang, sedangkan Davin hanya melirik sekilas kearah putranya.
Dave tersenyum ketika istrinya menatap dirinya, namun rasa pusing itu semakin membuat tubuhnya terasa ingin runtuh. Penglihatan Dave begitu kabur, ia tidak bisa melihat wajah istrinya dengan jelas
"Dave!" teriak Veny dan Sena bersamaan. Davin yang begitu fokus dengan kegiatan itu seketika meletakkan koran nya diatas meja dan melihat anaknya sudah tergeletak diatas lantai
"Telpon dokter Mah!" seru Davin dan melangkah menuju Putra nya, Sena tampak begitu cemas melihat suaminya yang tiba-tiba saja runtuh itu. Padahal pagi tadi Dave masih sehat-sehat saja, tapi kenapa bisa seperti ini pikir Sena
Davin mengangkat tubuh Dave, Sena sempat takut kalau mertuanya itu tidak akan kuat. Namun dugaan Sena salah, Davin malah terlihat biasa saja tidak nampak kesulitan ataupun kesakitan. ia pun mengikuti Davin yang membawa Dave menuju kamar mereka, Sedangkan Veny sedang berbicara dengan dokter pribadi keluarga mereka.
"Sayang, ayo kita ke kamar!" Veny berbalik namun ia tidak mendapatkan adanya Sena disana
"Astaga dia sudah duluan saja," ucap Veny dan menyusul menuju kamar anak dan menantunya.
*****
Dokter menempelkan stetoskop ke dada Dave, tidak lupa juga ia memeriksa kedua mata Dave. Veny menenangkan menantunya yang tidak berhenti menangis disamping anaknya, ia juga khawatir dengan keadaan Putra nya, namun melihat Sena seperti ini ia juga menjadi tidak tega
__ADS_1
"Tenang sayang, pikirkan bayi kamu. Dave mungkin kelelahan saja." Sena mendongakkan kepalanya dan mengangguk kala melihat wajah mertuanya
"Dia demam cukup tinggi, apa sebelumnya dia terkena hujan atau lama didalam air?" tanya dokter itu menatap ketiga orang itu bergantian
"Sayang," Sena mengangguk mengiyakan pertanyaan dokter itu
"Bagaimana bisa sayang? Apakah disini hujan, bagaimana Dave bisa kehujanan?" tanya Veny bertubi-tubi, Sena menggelengkan kepalanya
"Dave bukan kehujanan Mah, tapi aku..." Sena menceritakan kejadiannya, dimana ia meminta Dave untuk berenang di pagi hari dimana mungkin suhu airnya masih sangat dingin. Dokter itu tersenyum mendengar penjelasan Sena
"Tidak apa, ini mungkin efek dari tubuhnya yang tidak menerima. Jika dia sudah sedah biarkan dia minum obat ini, tapi setelah perutnya terisi makanan ya." Sena mengangguk
"Kalau begitu saya pamit dulu Mr. Alaxander!"
"Oh iya dok mari!" seru Davin, ia memberi kode kepada istrinya untuk ikut dirinya. Veny yang mengerti itupun sedikit berlari kecil menyusul suaminya. Sedangkan Sena kini tengah melanjutkan tangisnya
"Sayang, aku minta maaf. Maafkan aku yang sudah membuat kamu seperti ini. Hikss.."
"Maaf."
_
_
_
_
Bersambung...
Ini pemanis nya!
Dave & Sena
__ADS_1