
Sena menyandarkan kepalanya dikepalan brankar, bagian dadanya begitu sakit karena kedua bayinya menangis ingin susu. Sena menatap jengah salah satu bayinya, setelah menangis seperti anak kecil ia merengek meminta susu saat melihat anaknya sedang menyusu
"Sayang pelan-pelan, itu milik kamu kenapa harus seperti orang sedang lomba begitu?" tanya Sena tidak percaya dengan suaminya itu
"Shhhh.." ringis Sena karena Dave meremas dadanya, Dave tidak akan pernah tahu bagaimana jadi seorang perempuan
"Aku bilang pelan-pelan saja kamu kok malah pencet itu?" tanya Sena menunduk untuk melihat wajah Dave. Dave mengangkat kepalanya dan menggeleng, sesekali juga Dave akan menggigit pucuk miliknya. Senang akan protes jika dia sakit, Sena bergantian melihat suami dan anaknya
"Anaknya barusan lahir padahal sudah dijadikan musuh aja sama dia," gumam Sena merasa jengah. Tingkah suaminya itu makin menjadi
Sena menyenderkan kepalanya dan membiarkan kedua miliknya diserbu oleh dua makhluk kesayangan. Sena ingin melarang Dave, tapi ia takut Dave akan mengatakan kalau anaknya juga tidak boleh menyusu langsung jika dia tidak diperbolehkan
Plop.
"Eughh..." Sena mengangkat kepalanya dan melihat kearah dua orang berbeda umur itu, ternyata anaknya sudah selesai. Sena mengambil kain lap yang suster berikan, ia menempatkan kain itu pada bagian pucuk yang masuk ke dalam mulut anaknya tadi. Sena tidak mau asi nya tumpah ke mana-mana
"Sudah selesai ya sayang? Anak Mamah sudah selesai makannya?" Sena dengan pelan mengangkat satu tangannya agar tidak mengenai kepala Dave
"Papah juga seperti kamu sayang, lihatlah dia tidak malu dengan anaknya!" bayi mungil itu menggeliat dengan lidah yang keluar. Sena tersenyum memandangi wajah putranya
"Aww.. Sayang, jangan di gigit dong," kesal Sena karena lagi-lagi Dave menggigitnya, Dave tersenyum dan sekali lagi ia menyesap dengan kuat sebelum mengakhiri kegiatannya itu
Dave membantu istrinya memasang kan penutup bagian depan istrinya kembali. Selesai merapihkan pakaian istrinya, Dave mengecup bibi pucat Sena singkat, dan juga bergantian mengecup pipi anaknya
"Papah juga kenyang banget sayang." ujar Dave tersenyum manis kepada anaknya
"Kenyang lah, punya Mamah sampai sakit begini Papah." protes Sena karena Dave tidak ada rasa bersalah sedikitpun
"Maaf ya sayang, Papah terlalu laper sayang belum makan malam sayang juga."
"Kasihan banget, delivery saja sayang." ujar Sena mengusap pipi Dave lembut
__ADS_1
"Tapi aku sudah kenyang minum asi sayang,"
Plakk!
"Akkhh.. Jahat banget sih kamu sayang!" Dave memegang tangannya yang terasa panas oleh geplakan tangan Sena. Entah terbuat dari apa tangan sang istri sampai mampu membuat tangannya memerah
"Salah kamu, mesumnya enggak ketulungan. Gimana kalau anak kamu mengikuti kamu?"
"Ya bagus dong, itu tandanya kalau dia memang benar anak aku." Sena memutar bola matanya jengah
"Sudah cepat pesan makanan, aku enggak mau kamu sampai sakit,"
"Iya-iya sayang, gemes banget sih kamu jadi pengen makan kamu aja." ujar Dave menyentil ujung hidung Sena
****
"Sayang, buka pintunya! Aku jelasin dulu jangan marah!" teriak Radian menggedor pintu apartemen Caca. Radian sudah sangat lemas sejak tadi menggedor pintu tersebut, bahkan saat ini pakaian yang ia kenakan belum lepas, masih melekat di tubuhnya.
Radian terus menggedor pintu unit apartemen Caca, ia tidak akan berhenti sebelum calon istrinya membukakan pintu itu
"Sayang! Cepat buka pintunya, apa kamu tidak malu dengan para tetangga?"
"Aku teriak ya biar orang-orang pada keluar! Aku hitung sampai tiga, kalau kamu tidak keluar aku bakalan teriak dengan sekencang-kencangnya."
"Aku berhitung sekarang ya! Satu.. Dua.. Ti.." Radian sengaja menggantung karena tidak melihat adanya tanda-tanda kalau pintu apartemen itu akan terbuka
"Kamu bener tidak mau membuka pintu ini?' tanya Radian berteriak agar Caca mendengarnya
"Ya sudah kalau kamu tidak mau membuka pintu ini, aku kembali ke rumah sakit sendiri."
Ceklek
__ADS_1
Pintu itu terbuka dan menampilkan wajah masak Caca. Radian tersenyum manis kepada calon istrinya, saat Radian ingin meraih tangan Caca, dengan cepat Caca menepisnya kasar
"Kamu marah sama aku sayang? Aku minta maaf ya sudah membuat kamu menunggu, saat aku sedang asyik berbincang dengan Dave, ia mendapatkan telpon dan aku melihat wajah dia seketika menjadi tegang. Iapun dengan sepihak mengakhiri panggilan itu dan langsung berlari keluar dari dalam cafe yang kami kunjungi, aku yang melihat itupun jadi penasaran dan mengikuti dia. Dan ternyata Sena sudah kesakitan karena waktu melahirkan sudah tiba, dan aku yang melihat Dave tengah panik itu berinisiatif untuk membantu dengan mengemudi mobilnya."
"Terus kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau Sena akan melahirkan, dan kamu disana tengah membantu. Malah Membuat aku menunggu kamu disana," Caca mencebik kesal, ia menolehkan kepalanya kearah lain
"Aku menemani Tante Veny yang juga ikut panik melihat menantunya memasuki ruang persalinan, aku benar-benar lupa sayang. Maaf banget," Radian menyatukan kedua tangannya didepan dada memohon maaf
"Jangan ulangi lagi, kamu bisa menghubungiku terlebih dulu agar aku tidak menunggu lama." Radian mengangguk mengerti
"Ayo!" seru Caca
"Ke mana sayang?"
"Kok ke mana, katanya Sena sudah melahirkan. Ayo ke rumah sakit, aku ingin melihat baby nya Sena."
"Oh iya-ya, tapi sebelum kita ke sana kita ke rumah dulu ya," Caca mengangkat sebelah alisnya
"Aku belum mandi sayang, dan seluruh tubuhku sudah sangat lengket."
"Kamu tuh ya, gimana enggak lupa sama aku? Dengan badan sendiri saja lupa." Caca menatap jengah Radian
"Ya sudah ayo!" Caca menggandeng tangan Radian, Radian yang melihat itupun tersenyum manis. Ia membalas memegang tangan Caca yang menggandeng tangan Caca dan pergi dari sana untuk menuju rumahnya sebelum kembali ke rumah sakit
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...