
"Hikkss... Hikss... Kamu jahat, kamu jahat!" Dave membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan sang istri, mungkin dengan rasa sakit yang tidak seberapa ini mampu membuat hati Sena tenang.
Setelah mendengar penjelasan Jerry, dan melihat bukti rekaman dua tahun silam melalui cctv perusahaan. Dave bisa meluruskan lagi kesalahpahaman yang telah membuat ia harus berpisah dengan anak dan istrinya
"Kamu jahat Dave, kenapa kamu membiarkan kami pergi dari hidup kamu selama ini jika semua itu hanyalah salah paham. Apakah kamu memang menginginkan aku dan Vano pergi dari hidup kamu? Ya?" Sena semakin terisak, ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Rasa sakit itu lebih menyakitinya saat kebenaran itu terungkap, saat Dave mengetahui segalanya namun ia hanya diam saja tidak ada pergerakan sedikitpun dari Dave untuk mencarinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi
"Jika aku menginginkan kamu dan Vano pergi dari hidupku, aku tidak akan menyusul kamu dan berada disini sampai saat ini." jawab Dave, saat ingin membawa Sena masuk ke dalam pelukannya, dengan cepat Sena menghindar.
"Bohong! Kamu bohong Dave, jika kamu memang sangat mencintai aku, kamu akan menyusul aku hari itu juga." ucap Sena, menatap kecewa Dave
"Kamu tidak akan pernah mau mendengarkan penjelasan ku sayang, buktinya kamu lebih memilih pergi daripada menunggu aku dan meminta penjelasan ku." jawab Dave, dengan wajah sendu. Ia juga merasa sedih karena semua orang menyalahkan dirinya atas kepergian anak serta istrinya begitu saja tanpa tahu sebabnya terlebih dulu
"Semua orang menyalahkan aku, semua orang memojokkan aku atas kepergian mu dari keluarga Alexander. Kamu pikir hanya kamu yang sakit? Kamu pikir hanya kamu yang tersiksa? Tidak! Aku lebih tersakiti disini," Dave mengadahkan kepalanya keatas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya
"Aku sakit kehilangan anak dan istriku, dan aku juga sakit saat semua orang menyalahkan aku disaat yang bersamaan. Karena dari itu aku membiarkanmu untuk hidup sebentar tanpa aku, namun tetap berada didalam pantauan ku."
Sena terdiam setelah mendengar pengakuan Dave. Ada benarnya juga apa yang suaminya itu katakan, ia hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa tahu bagaimana keadaan suaminya
"Kembali bersamaku Sena, hidupku sudah sangat gelap dua tahun kamu tinggalkan." ujar Dave, lalu ia mengadahkan tangan kanannya berharap Sena mau menerimanya. Sena memperhatikan tangan itu, ia sedikit terkejut melihat telapak tangan Dave yang banyak terdapat goresan luka
"Serafina, aku merindukanmu sayang. Aku mohon kembali bersamaku ke Jakarta, dan hidup bahagia bersamaku selamanya." pinta Dave lagi saat Sena tidak kunjung menyambut uluran tangannya. Dave menggigit bibirnya dalam kala rasa itu kembali menyerangnya, namun ia akan berusaha menahannya agar Sena tidak khawatir
"Aku.. Apakah aku masih pantas kembali setelah aku meninggalkan mu?"
"Kita sedang tidak membahas pantas ataupun tidak sayang, tapi kita sedang berbicara bagaimana perasaan kita dan bagaimana kehidupan anak kita kedepan jika kedua orang tuanya tidak bersatu." jawab Dave, namun rasa sakit itu semakin menyerang dadanya. Dan kini Dave membutuhkan obatnya
"Tapi... Aku malu dengan Mamah dan Papah." Sena menolehkan kepalanya saat suaminya itu menatap dirinya dengan tatapan yang begitu dominan
Brukk.
Tubuh Dave luruh di lantai karena sudah tidak mampu menahan sakit, sedangkan Sena tidak mengetahui jika Dave sudah tumbang di depannya
__ADS_1
"Maaf Presdir mengganggu, Papah anda ingin berbicara!" seru Jerry dari balik pintu, tapi tidak ada tanggapan dari Dave. Membuat Jerry sedikit takut jika harus kembali bersuara
Begitu juga dengan Sena yang berada didalam sana bersama Dave, ia sedikit bingung karena tidak ada jawaban dari Dave. Sena memejamkan matanya dan membuang rasa egoisnya untuk melihat kembali ke depan, Sena mengangkat alisnya sebelah kala melihat Dave sudah meringkuk tidur di lantai
"Dave, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Sena, yang mengira kalau Dave tengah bergurau. Sena menjulurkan tangannya untuk menyentuh bahu Dave
"Dave!" panggil Sena sambil menggoyangkan tubuh suaminya itu
"Dave!" panggil Sena lagi, kini tangannya sudah berpindah ke kedua pipi Dave. Panik, itulah yang menyerang Sena saat ini
"Dave bangun! Aku tidak akan mau kembali bersamamu jika kamu mengerjai aku seperti ini." Sena terus menepuk-nepuk pipi Dave agar suaminya itu mau bangun, bahkan air mata yang tadinya sudah berhenti keluar kini kembali turun
"Jerry... Jerry... Tolong suamiku!" teriak Sena meminta bantuan Jerry yang berada di luar
Ceklek! Ceklek!
Tokk... Tokk... Tokk...
"Apa yang terjadi?!.." tanya Jerry yang melihat Sena sudah berderai air mata, lalu pandangan nya tertuju kepada Dave yang sudah tergeletak di lantai
"Presdir..." Jerry pun menghampiri Dave dan melihat wajah Dave sudah memucat
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dia, saat dia meminta aku untuk kembali pulang bersama dia, aku menoleh ke depan memunggunginya. Tapi setelah aku tidak mendengar suaranya saat memanggil mu, aku membalikkan lagi tubuhku dan melihat dia sudah tergeletak seperti itu. Apakah dia sakit Jerr?"
"Kita harus membawa Presdir ke rumah sakit terlebih dulu, akan aku jelaskan nanti." Sena mengangguk, ia menggeserkan tubuhnya saat Jerry akan mengangkat tubuh Dave
"Mamah, Papah kenapa?" Sena dan Jerry menoleh
"Sayang, sini nak!" Sena merentangkan kedua tangannya meminta Vano untuk masuk dan memeluk dirinya. Kaki kecil itu berlari kecil menuju sang Mamah
"Papah kenapa?" lirih Vano yang melihat Dave yang bersiap di angkat oleh paman yang ia ketahui adalah teman Papah nya
__ADS_1
"Papah kelelahan bekerja sayang, Papah Vano tidak apa-apa kok." jawab Sena berusaha tegar didepan Putra nya
"Sena ayo!" seru Jerry yang sudah diambang pintu, Sena mengangguk dan menggendong Vano. Tidak lupa SSena menyambar tas yang ia letakkan tidak jauh dari sana
"Nak, apa yang terjadi?" tanya pengasuh Vano ketika Sena sudah keluar dari dalam kontrakan
"Papah Vano Bukde, Papah Vano jatuh pingsan, hikss."
"Astagfirullah.." pengasuh Vano menutup mulutnya
"Hikss... Hikss..."
"Jangan menangis nak, lihatlah Vano. Dia juga akan ikut merasa sedih jika kamu seperti ini." wanita paruh bayar itu menenangkan Sena
"Mamah, jangan menangis! Lihat disana Papah sudah menunggu!" seru Vano menunjuk kearah mobil, dimana Jerry sudah menunggu
"Berangkat lah nak, Bukde akan mendoakan Papah Vano dari sini." ucap pengasuh Vano, Sena mengangguk dan menghapus air mata di pipinya
"Terima kasih Bukde, Sena pergi dulu. Doakan suami Sena Bukde,"
"Pasti nak, Bukde akan mendoakan suamimu dari sini." jawab pengasuh Vano tulus. Sena pun bergegas menuju mobil yang sudah menunggu dirinya
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1