
"Eh Papah," Dave tersenyum kikuk saat melihat Papah nya lah yang kali ini masuk ke dalam ruangannya. Dave bangkit dari duduknya dan menghampiri Papah nya yang kini sudah duduk di sofa yang ada di ruangannya
"Tumben Papah datang kesini? Apa tidak sedang bucin dengan Mamah?" tanya Dave yang duduk berhadapan dengan Papah nya
"Tidak sopan! Aku ini Papah kamu bukan adik kamu." ucap Davin sinis dan melipat kedua tangannya diatas dada
"Yang bilang Papah adik aku siapa?" Dave bertanya dengan suara pelan dan hampir tidak terdengar
"Anak ini!" Davin memberikan tatapan tajam yang dibalas cengiran oleh Dave
"Maaf," Dave memegang kedua telinganya kiri dan kanan seperti anak kecil yang tengah dimarahi oleh kedua orang tuanya
"Ohh... Kamu mengingatkan Papah dengan masa kecil kamu," ujar Davin terharu, ia merindukan masa-masa kecil Dave pada saat itu. Tapi kini putranya sudah tumbuh dewasa dan semakin gagah saja
"Sayang sekali waktu tidak dapat diputar Pah, jadi nikmati saja masa sekarang." Davin terkekeh, ia melirik kearah meja kerja Elvaro
"Apakah sedang banyak kerjaan?" Dave menggeleng cepat dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa
"Kamu seperti Ayah dari banyak anak, terlihat begitu sangat prustasi. Apakah ada masalah? Ah ya Papah sampai lupa tujuan Papah kesini. Perusahaan yang kamu dirikan di Paris apa sedang ada masalah?" tanya Dave penasaran, karena ia mendapat kabar dari anak buahnya yang berada di negara lahirnya itu kalau perusahaan putranya tengah berada dalam masalah
"Masalah kecil Pah. Tapi aku juga yang harus turun tangan." Davin memperhatikan putranya yang terlihat begitu banyak masalah, padahal Davin yakin Dave bisa menyelesaikan semua masalah dengan sangat tenang
"Itu tugas seorang pemimpin. Ketika anak buahnya tidak bisa menyelesaikan masalah, maka pemimpin nya lah yang harus turun tangan." ujar Davin, ia melihat putranya itu mengangguk saja
"Ah baiklah, Papah akan ke ruangan komisaris. Sepertinya laporan hasil kerja kamu sudah menumpuk disana." Davin bangkit dari duduknya dan merapihkan kembali penampilan nya
"Apakah menantu dan cucu Papah sehat?" Dave langsung melihat Papah nya
"Tentu saja sehat."
"Kamu dan Sena tidak bertengkar kan?" Dave menggelengkan kepalanya dengan wajah cemberut, membuat Davin tersenyum. Akhirnya ia tahu apa penyebab putra tunggalnya itu terlihat sangat pusing, karena tengah bertengkar dengan sang istri
"Sudah, jangan kebanyakan seperti anak kecil. Belajar dari yang sudah-sudah, Papah tidak mau kejadian yang lalu terulang lagi. Jaga istri dan kandungan nya dengan baik. Jika ini sampai terulang lagi, Papah tidak akan pernah memaafkan kamu." Dave menelan salivanya kasar saat ancaman yang Papah nya berikan itu terlihat tidak main-main
"Ekhemm, iya Dad." Dave menjawab dengan senyum paksa di wajahnya
__ADS_1
Setelah mendapat jawaban dari putranya, Davin pun memutuskan untuk pergi dari ruangan itu menuju ruangan komisisaris. Seharusnya Davin tidak perlu lagi mengecek hasil kerja Dave, tapi ia ingin melihat kemajuan dari putranya
"Sial-sial! Kenapa juga pria itu harus menghubungi istri aku?" Dave menggebrak meja untuk meluapkan rasa kesalnya. Dave bertekad pulang nanti ia akan membujuk Sena agar tidak marah lagi
****
Dave melangkahkan kakinya memasuki rumah, ia menolek ke kiri dan kanan barang kali istrinya tengah menunggu kepulangan nya dari kantor
"Ibu hamil kalau sudah marah sangat mengerikan." gumam Dave lalu melanjutkan langkahnya menuju anak tangga
"Apa ini?" Dave membulatkan matanya saat membuka pintu kamar dan melihat tisu sudah memenuhi lantai dan itu bertaburan disekitar kasur. Dave mengedarkan pandangannya mencari sosok yang membuatnya jungkir balik hari ini
"Sayang!" panggil Dave. Ia pun mencoba melangkah menuju kamar mandi, barang kali sang istri ada disana
"Sayang!" panggil Dave lagi saat tidak menemukan Sena didalam kamar mandi tersebut. Dave pun mencoba melihat di ruangan pakaian, namun Dave juga tidak menemukan adanya Sena disana
"Kemana dia?" gumam Dave. Dave mengeluarkan ponselnya yang berada di saku jas nya
"Bi, saya minta satu asisten untuk ke kamar saya. Jangan lupa bawa sapu dan penampung sampah." ucap Dave kepada seseorang disebrang yang tak lain adalah Bi Ina
Tok! Tok!
"Masuk!" seru Dave dari dalam saat mendengar suara ketukan dari luar
"Permisi tuan!"
"Tolong kamu bersihkan ini. Dan saya tidak mau ada satupun yang tertinggal." ucap Dave
"Baik tuan." Dave pun pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan dirinya
****
"Bi, saya mau ke atas dulu!" seru Sena yang telah menyelesaikan memasak untuk makan malam Dave.
"Iya Nya." Sena meninggalkan dapur untuk melihat suaminya dan tisu bekas ia membuang semua isi hidungnya yang belum sempat ia bersihkan tadi
__ADS_1
"Pasti Dave heran dengan tisu-tisu itu." gumam Sena. Ia tidak mengetahui kalau Dave menghubungi Bi Ina untuk mengirim satu asisten ke kamar mereka guna membersihkan kekacauan yang terjadi. Tapi Sena mengetahui suaminya itu sudah pulang dari kantor
"Lho, Bibi ada disini?" tanya Sena kepada salah satu asisten rumah itu Bi Jum
"Iya Nya. Tadi Mbak Ina suruh saya untuk kesini dan membawa sapu serta tempat sampah ini." Sena melihat sapu dan tempat sampah yang sudah penuh dengan tisu, Sena pun mengangguk mengerti dan membiarkan Bi Jum melanjutkan pekerjaannya
Sena memberi akses kepada Bi Jum untuk mengambil semua tisu yang berserakan diatas lantai dengan menggeser kan tubuhnya ke pojok sebelah kanan kasur. Tidak butuh waktu lama Bi Jum sudah menyelesaikan pekerjaannya
"Kalau begitu saya permisi ke bawah dulu Nya."
"Iya Bi, terima kasih banyak ya Bi." Bi Jum mengangguk lalu mengangkat tempat sampah untuk keluar dari sana.
Ceklek.
Bersamaan dengan Bi Jum keluar dari sana, pintu kamar mandi didalam kamar itu juga terbuka. Menampilkan Dave yang mengenakan bathrobe dan handuk kecil yang tidak pernah ketinggalan jika sudah selesai mandi
Sena menelan salivanya kasar saat Dave menoleh kearah nya dengan tatapan yang begitu dingin. Dave pun melangkahkan kakinya memasuki ruangan pakaian
"Apa dia marah? Tapi kenapa dia harus marah? Seharusnya kan aku yang marah." batin Sena bertanya-tanya. Ia pun mencoba untuk tenang barang kali Dave sedang mengerjainya, dan ia tidak boleh terpengaruhi oleh tipu daya yang sedang Dave lakukan
Sena menarik nafasnya saat melihat Dave sudah keluar dari sana dengan mengenakan piyama yang berbahan satin. Dave melangkah menuju kasur, dan benar saja lelaki itu menaiki kasur dan memainkan ponselnya tanpa melihat Sena sedikitpun
"Apa ini? Apa dia tidak melihat istrinya berdiri disini?" batin Sena
"Dave.."
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1