
Caca melihat jam yang melekat pada tangannya sekali lagi. Sudah satu jam lebih ia menunggu calon suaminya yang suka pemaksa itu namun sampai sekarang tidak datang juga
"Dia ini niat mau jemput atau tidak sih? Sudah nunggu sejak tadi tapi tidak muncul-muncul, kalau tidak mau jemput itu bilang jangan malah buat orang menunggu." Caca mencari ponselnya didalam tas. Ia akan menghubungi Radian, dimana keberadaan pria itu saat ini sehingga membuat ia harus menunggu sejak tadi
Caca menempelkan ponselnya ditelinga setelah menekan tombol hijau, ia berharap panggilannya itu cepat diangkat agar ia tidak menunggu lama jikapun Radian tidak bisa menjemput.
"Nomor yang anda tujui sedang tidak aktif.. Mohon periksa kembali, tut.." Caca memilih mengakhiri panggilannya daripada harus mendengarkan suara operator itu. Ia sudah cukup kesal dengan Radian harus ditambah dengan suara operator itu
"Aku pulang sendiri saja, lihat saja nanti jika dia menelpon aku tidak akan mau mengangkat, ataupun jika dia ke apartemen aku tidak akan pernah membukakan nya pintu." Caca berjalan kearah pinggir jalan untuk melihat apakah ada taxi yang lewat, dan mungkin hari ini dunia sedang tahu kalau ia sedang tidak ingin bercanda. Baru saja ingin memaki karena tidak melihat adanya taxi lewat, satu taxi muncul dan menurunkan penumpangnya
"Taxi!"
***
Oekkk.. Oeekkk.. Oeekk..
Veny tersenyum mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan persalinan, tidak henti-henti ia mengucapkan syukur kepada Tuhan. Tapi masih ada sedikit takut didalam hati Veny karena menantunya masih belum diketahui bagaimana kabarnya
"Dave sudah menjadi seorang Papah," gumam Radian tersenyum manis mendengar suara tangisan bayi
Ceklek
Pintu ruangan bersalin itu terbuka menampilkan sang dokter dengan senyum cerahnya. Veny yang melihat dokter tersebut langsung mendekat
"Dokter bagaimana?" tanya Veny dengan jantung yang berdetak begitu cepat
"Alhamdulillah Nyonya, ibu dan bayinya sehat. Dan bayinya terlahir dengan selamat, untuk jenis kelaminnya sesuai dengan hasil USG pada dua bulan yang lalu yaitu laki-laki." jawab sang dokter tersenyum cerah
"Huh..." Veny memejamkan matanya, akhirnya ia bisa bernafas dengan lega setelah mengetahui keadaan menantu serta cucunya. Veny melirik ke dalam ruangan
"Dok, apakah saya boleh ke dalam?"
"Nyonya bisa melihat Nyonya muda setelah beliau dipindahkan, dan bayinya juga sedang dibersihkan." Veny mengangguk mengerti
__ADS_1
"Baiklah dok, terima kasih banyak."
"Sama-sama Nyonya Alexander." jawab dokter itu dan berpamit untuk kembali ke ruangannya
Veny tersenyum sambil melihat pintu ruangan itu, ia menoleh ke samping dan tersenyum cerah melihat Radian juga tengah tersenyum padanya.
"Mamah!" Veny menoleh mendengar teriakan seseorang memanggil Mamah. Terlihat Davin berjalan dengan tergesa mendekat padanya
"Pah, cucu kita sudah lahir." Veny memeluk suaminya saat sang suami sudah ada disana. Davin tersenyum cerah dan membalas pelukan istrinya
"Dimana dia Mah?" tanya Davin dan memegang bahu Veny
"Masih dibersihkan Pah. Untuk menantu dan anak kita juga sedang berada didalam." Davin mengangguk mengerti, ia membawa Veny untuk duduk disana
"Teman Dave?" tanya Davin melihat kearah Radian
"Ya Om," Davein tersenyum singkat, ia melihat lagi kearah istrinya
"Maaf Om, Tante. Saya permisi untuk pulang duluan ya Om, Tante." Davin dan Veny yang tengah tersenyum bahagia bersama menoleh kearah Radian
"Nanti saya akan kembali ke sini dengan calon istri saya Tan," jawab Radian
"Wahh.. Baiklah kalau begitu datang lagi ya bersama calon istri kamu." Radian mengangguk pelan, setelah menyalami Davin dan Veny ia segera pergi dari sana. Radian lupa kalau ia sudah berjanji kepada Caca kalau ia akan menjemput calon istrinya, melihat Veny yang tengah khawatir ia menjadi tidak tega meninggalkan Nyonya Alexander tersebut
Dengan langkah lebar Radian berjalan tergesa-gesa, Caca pasti sudah menunggu lama disana. Dan ia sangat yakin kalau Caca sudah mendumel sendiri disana
"Cepatlah! Kenapa keadaan seperti ini langkahmu tidak bisa cepat?" Radian menepuk kaki sebelah kanannya. Ia memutuskan untuk berlari agar cepat sampai di parkiran
****
Sena menetaskan air matanya melihat makhluk kecil disamping nya, jujur Sena tidak dapat membendung air matanya. Ia tidak percaya kalau ia berhasil melahirkan makhluk kecil yang merupakan buah hatinya dengan Dave
"Welcome to the world baby Mamah," ucap Sena mengecup kening buah hatinya, membuat bayi kecil yang tengah menyusu itu menggeliat. Dave tersenyum memperhatikan istri dan anaknya, hatinya menghangat menyaksikan pemandangan yang saat ini ia lihat. Dave tidak percaya kalau hari ini ia akan. menjadi seorang Papah, dan di usianya yang ke 28 tahun ini ia diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk menjadi seorang pria yang sempurna
__ADS_1
"Dia sangat tampan sayang, hanya bibirku saja yang ada pada dirinya. Semuanya kamu borong." Dave terkekeh mendengar kalimat istrinya. Memang benar apa yang Sena katakan, kalau anaknya lebih dominan ke dirinya dibanding sang istri. Dave tersenyum puas melihat karyanya, ia sempat bertanya-tanya mengapa hanya dengan berolahraga ranjang manusia bisa memiliki bayi lucu seperti ini, kalau di boleh ia ingin mengajak istrinya untuk berolahraga terus agar bisa mendapatkan bayi lucu ini beberapa lagi
"Sayang, siapa namanya?" tanya Sena, melihat putranya sekilas lalu menatap suaminya
"Devano Alexander. Itulah nama anak kedua kita." jawab Dave menyebutkan nama putranya yang sudah ia pikirkan dari lama
"Devano, nama yang bagus sayang aku suka!" Dave tersenyum manis melihat wajah ceria istrinya
"Devano, itu nama kamu sayang. Apa kamu senang dengan nama yang Papah berikan untuk kamu?" tanya Sena pada makhluk kecil itu, ia mengusap pipi merah anaknya sehingga bayi kecil itu menggeliat merasakan jemari Mamah nya
"Dia benar-benar sangat tampan, bahkan aku tidak bisa berpaling dari wajahnya." ucap Sena yang tidak henti memandangi putra kecilnya
"Mana bisa begitu sayang? Kamu tidak boleh memandanginya terus, lebih baik kamu memandang aku saja." Sena mendongak, ia menatap sengit suaminya itu
"Dasar, sama anak sendiri kamu," Dave menyengir, tentu saja Dave akan cemburu sekalipun itu darah dagingnya, karena Sena hanyalah miliknya seorang dan tidak boleh ada yang bisa merebut cintanya itu darinya.
"Dia sudah menjadi rival ku mulai detik ini sayang,"
"Gila kamu! Anak sendiri di jadiin musuh."
"Tapi dia berani memakan itu tanpa izin aku sayang, itukan milik aku kenapa dia dengan begitu lahapnya memakannya?" Sena mengikuti arah mata suaminya, ia melihat wajah putranya yang tengah menyusu dengan begitu lahapnya. Setelah dibersihkan dan diadzani oleh Dave suster memintanya agar memberikan asi, namun kini Dave tengah menunjukkan kecemburuannya dengan seorang anak bayi
"Dia anak kamu Dave!'
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1
Pengen update dua bab, tapi aku ada acara dari UKM yang aku ikutin dikampus.