Possesif CEO

Possesif CEO
Bukan Seperti Ini


__ADS_3

Sudah satu minggu lebih Dave terbaring lemah diatas brankar rumah sakit tanpa ada kemajuan sedikitpun, sedangkan Sena sudah tiga hari ini keadaan nya bertambah baik dari sebelumnya


Dan kedua anak mereka tidak ada yang tahu apa yang terjadi kepada kedua orang tua mereka, jika keduanya bertanya ada saja alasan yang Davin dan Veny berikan. Bahkan Davin dan Veny tidak membawa kedua cucu mereka untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya karena takut barang kali ketika mereka disana Sena pulang untuk sesuatu hal


"Opa, apa Papah dan Mamah masih lama?" tanya si kecil Vina yang sedari tadi berada dipangkuan Davin. Senyum tipis Davin berikan kepada kedua cucunya saat keduanya menatap dirinya dengan begitu harap


"Papah dan Mamah pasti pulang kok, tapi sepertinya kerjaan Papah disana banyak sampai-sampai lupa untuk mengabari kita.' jawab Davin memberikan pengertian pada keduanya


"Tapi kan disana ada Nenek Diva,"


"Sayang, Nenek Diva kan sudah berumur. Dia sudah tidak bisa lagi terlalu lelah."


"Hmm, padahal Vina dan Kak Vano sudah siapin hadiah untuk Mamah,"


"Hadiah?" Veny yang datang dengan buah buah gelas yang berisi susu dua macam itu mengulang apa yang diucapkan oleh cucunya


"Ya Oma, kan Mamah selasa kemarin ulang tahun. Jadi Vina dan Kak Vano sudah siapin hadiah spesial untuk Mamah, tapi enggak tahunya Papah dan Mamah pergi mendadak tanpa pamitan."


Vano mendekati adiknya dan mencium kening adiknya dengan penuh sayang, untuk menenangkan si adik agar tidak menangis. Vano yang lebih tua dari Vina lebih mengerti apa yang tengah terjadi saat ini walaupun kedua orang paruh baya itu mengatakan sesuatu tidak sesuai faktanya


Tetapi Vano tidak ingin bertanya langsung didepan adiknya karena ia tidak mau adiknya tambah bersedih


"Adik tidur ya, Kakak temani ini sudah malam."

__ADS_1


"Ya sayang. Lebih baik cucu Oma yang cantik ini tidur, Vina enggak mau kan bangun kesiangan!" Veny juga ikut membantu cucunya untuk membujuk sang adik agar tidur. Mendapatkan pertanyaan yang sama setiap harinya membuat Veny jadi tidak tega dan harus berakhir ia menangis dikamar jika kedua cucunya sudah tertidur


"Vina mau Papah dan Mamah, Vina enggak mau tidur kalau enggak ada Papah dan Mamah di sini." mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca, dimana hal itu malah menambah kesedihan dihati Veny.


Davin yang melihat istrinya membalikkan badan dan menghapus jejak air matanya pun mendekat kepada sang cucu dan memberikan pengertian


"Sayang, cucu Opa yang paling cantik. Vina sayang kan sama Opa dan Oma? Vina enggak mau kan melihat Opa dan Oma sedih?"


"Enggak, hikss..." rengek Vina, Davin pun menarik cucunya itu ke dalam pelukannya


"Tidur sama Opa dan Oma, mau?"


"Mau tidur sama Kakak." lirih Vina


"Sayang, aku tidurin dulu cucu kita, kamu duluan aja ke kamar." ucap Davin kepada istrinya yang ia ketahui sedang menangis


Setelah melihat anggukan kepala dari Veny, iapun memilih pergi dari sana untuk menuju kamar cucu laki-lakinya


****


"Maaf, maafkan aku sayang. Karena kebodohanku, kamu seperti ini dan... Maafkan aku, karena aku kita kembali kehilangan buah hati kita."


"Bukan seperti ini, bukan seperti ini yang aku mau. Hikss.."

__ADS_1


Sudah dua hari ini Sena tidak pernah pergi dari ruangan itu, bahkan bergerak sedikitpun ia tidak mau. Saat ini yang ia inginkan adalah suaminya bangun


"Kamu harus bangun, aku butuh kamu buat kuatin aku sayang, maaf." entah sudah ke berapa kali kata maaf Sena ucapkan kepada Dave yang kondisinya masih tetap sama seperti pertama kali dokter mengatakan kalau suaminya itu mengalami koma


"Aku sangat mencintaimu Dave, karena itu aku marah saat melihat kamu dengan wanita lain. Tapi aku salah, aku tidak mau mendengarkan penjelasan kamu. Aku bodoh, aku memang bodoh."


Sena terus menumpahkan air mata dengan mengecup punggung tangan Dave, tanpa ia sadari jika jemari Dave bergerak


"Eughh..." keluh Dave berusaha membuka matanya dan menyesuaikan matanya dengan cahaya dalam ruangan itu


"Ini di mana?" gumam Dave, tetapi Sena tak mendengar itu. Dave menghela napasnya saat tahu kalau dirinya tengah berada diruangan yang tidak pernah ia ingin datangi. Dave menoleh ke arah sosok perempuan yang menangis sambil menggenggam tangannya, Dave tahu kalau perempuan yang tengah menangis ini adalah istrinya


Dave kembali mengingat bagaimana ia bisa sampai seperti ini, semua ini terjadi berawal dari Sena yang berlari ke tengah jalan dan ia berusaha menyelamatkan sang istri dari sepeda motor yang melaju sangat kencang sehingga dirinya yang terserempet, belum selesai dari itu mobil dari arah yang sama mobil datang dan menghantam dirinya


Lalu setelah itu ia tidak mengingat lagi, semuanya berubah menjadi gelap tanpa sempat ia tahu keadaan sang istri yang terbentur pembatas jalan


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2