Possesif CEO

Possesif CEO
Awas Saja


__ADS_3

Sena tidak ingin berlama-lama berada diruangan itu, ia begitu malas mendengarkan wanita itu menceritakan keluh kesahnya kepada sang mertua. Sena malas untuk mendengarkan omong kosong yang terlalu berlebihan menurutnya


"Semuanya, aku pamit untuk istirahat duluan ya!" seru Sena membuat atensi semua orang yang ada disana tertuju padanya


"Sudah mau tidur sayang?" tanya Veny kepada anak menantunya


"Iya Mah, nggak tahu kenapa tiba-tiba saja aku sangat mengantuk." jawab Sena berbohong, biarlah ia berbohong daripada berada disana lama-lama membuatnya muntah saja


"Kalau begitu istirahat lah, kasihan juga kalau dipaksakan nanti dedek bayi mengamuk." Veny terkikik geli dengan ucapannya sendiri. Davin yang melihat tingkah istrinya itu hanya menggeleng pelan


Sena mengangguk, ia pun beranjak dari sama tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Dave, saat akan melewati Sheila, Sena menatap dan senyum kecil penuh kepalsuan karena tidak ingin terlihat buruk di mata mertuanya


Tidak lama dari kepergian Sena dari ruang santai itu, Dave juga ikut beranjak dari duduknya untuk menyusul sang istri


"Pah, Mah. Aku juga pamit duluan, selamat malam."


"Selamat malam." jawab Davin dan Veny dan menatap kepergian anak dan menantu mereka.


Sheila menatap kecewa kepergian Dave dari sana, padahal ia sudah senang Sena pergi dari sana, namun itu malah membuat Dave juga pergi dari sana


"Mereka mau sayang-sayangan Pah, dasar anak muda


"Emm.. Kalau begitu kami juga pamit untuk pulang Komisaris!"


"Berhenti memanggil ku Komisaris saat tidak sedang dikantor Jerry, sungguh itu sangat tidak enak didengar." ucap Davin, karena sejak tadi asisten Putranya itu selalu memanggilnya Komisaris


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian, ini perintah. Kamu bisa memanggilku Om dan istriku Tante, mengerti?!"


"Ah iya Ko.. Om." Veny tersenyum melihat kegugupan Jerry, suaminya itu memang paling bisa membuat orang spot jantung


"Hati-hati diperjalanan, semoga kalian berdua tetap sehat agar Putraku tidak sendiri besok." ucap Davin, Jerry menunduk mengiyakan ucapan Davin. Sedangkan Sheila tengah melamun, entah apa yang ia lamunkan tapi itu sukses membuat ke tiga orang yang berada disana melihat kearah nya


"Sheila kamu sehat?"


"Sheila!" melih tidak ada respon dari wanita ganjen itu, Jerry menyenggol lengan Sheila dengan sikunya, membuat Sheila tersentak dan menatap tajam Jerry

__ADS_1


"Istri dari Komisaris memanggil mu, kenapa kamu pura-pura tidak mendengar?" tanya Jerry dengan begitu sangat pelan hingga nyaris Sheila tidak dapat mendengar. Sekali lagi Jerry memberi kode lewat mata


"Sheila!"


"Hah? Iya Tante?"


"Kamu melamun, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Veny, Sheila menggelengkan kepalanya


"Oh nggak kok Tante, bukan apa-apa."


"Emm, baguslah."


"Kalau begitu kami pamit dulu ya Om, Tante!"


"Ah iya-iya, semoga selamat sampai tujuan ya Jerr."


"Iya Tante." Jerry menarik tangan Sheila untuk pergi dari sana, melihat ekspresi Sheila yang seperti itu Jerry yakin kalau wanita ganjen itu tidak ingin pergi dari sana


Davin dan Veny saling pandang satu sama lain, mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi antara kedua orang itu sehingga terlihat seperti kucing dan tikus


"Mungkin mereka berdua sepasang kekasih Mah,"


****


Dave menoel-noel lengan istrinya yang tengah tertidur membelakanginya itu. Sena menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya agar Dave tidak mengganggu nya lagi.


Dave tidak menyerah, ia menyingkap selimut dan ikut masuk ke dalam selimut itu memeluk pinggang Sena dengan erat. Sena pun hanya diam saja dan membiarkan Dave memeluk dirinya seperti guling


"Kenapa nggak ngajak-ngajak aku?" tanya Dave sangat pelan


"Sayang, kamu marah karena Sheila harus ke dalam rumah ini?" tanya Dave lagi ketika Sena tak kunjung menjawab


Dave memejamkan matanya, ia rasa Sena sedang tidak ingin berbicara kepadanya saat ini, dengan mata terpejam tangan Dave berkeliaran kemana-mana. Ia mengusap perut Sena yang sudah mulai sedikit membuncit itu


"Dia tumbuh sangat cepat disini, aku jadi tidak sabar menunggunya untuk lahir." gumam Dave


Sena menggigit bibir bawahnya, ia merasa terganggu dengan usapan tangan Dave. Sena menyingkirkan tangan Dave dari perutnya, membuat Dave tersentak

__ADS_1


"Sayang," lirih Dave, Sena membalikkan badannya dan menatap Dave dengan tajam


"Jangan menyentuh aku." jawab Sena. Bukannya merasa bersalah, Dave malah tersenyum


"Ada yang lucu?" Dave menggelengkan kepalanya, ia menarik Sena untuk mendekat padanya


"Dave, lepas!" seru Sena sambil mendorong dada Dave agar melepaskan dirinya


"Kalau aku tidak mau?" Sena mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Dave. Keduanya sama-sama saling menatap dalam diam


"Aku akan sangat marah padamu." ucap Sena


"Kenapa harus marah sih sayang, aku tuh capek baru pulang, bukannya di sayang kok malah di marahin!" Dave mengerucutkan bibirnya lucu


"Salah sendiri buat aku marah." jawab Sena cuek


"Gemesin sih kamu, buat aku makin cinta." Dave mencubit hidung Sena


"Sakit tahu.."


"Jangan marah-marah sayang, aku hanya tidak enak dia terlalu mencari muka didepan aku. Dan aku tidak suka itu," ucap Dave


"Terus kalau kamu nggak suka kenapa kamu aja dia ke Paris? Sampai-sampai Nenek kamu mengira kalau dia istri kamu." Dave tersenyum melihat perubahan wajah Sena.


Tangan Dave terangkat dan mengelus wajah Sena lembut, bahkan elusan tangan Dave tidak hanya pada pipi Sena, tapi juga bibir Sena. Sena membiarkan tangan suaminya yang menari-nari pada wajahnya, kedua mata itu saling mengunci


"Aku sangat merindukan ini." ujar Dave, dan tidak lama kedua bibir itu saling menyatu


Sena mengerjapkan matanya berulang kali, sebelum ia memejamkan matanya ketika Dave sudah memulai menyesap bibirnya. Tidak ada hal lain yang Dave lakukan, hanya sebatas itu. Ia tidak ingin berbuat yang lebih karena takut akan menyakiti anaknya


"Awas saja jika marah lagi, aku makan kamu." bisik Dave dengan ibu jari menghapus sisa saliva yang tersisa dibibir Sena


_


_


_

__ADS_1


_


Bersambung...


__ADS_2