Possesif CEO

Possesif CEO
Malam Berbintang


__ADS_3

Tring..


Semua orang menoleh kearah asal suara yang begitu nyaring sehingga mengganggu orang-orang yang ada disana. Sedangkan seseorang yang menyebabkan timbul suara itu hanya tersenyum kikuk dan malu karena semua orang melihat dirinya


"Buat malu aja sih lo Ca, aishh.." Reza menutup wajahnya menggunakan, Tia yang melihat itu hanya terkekeh pelan


"Maklumi saja sih Za, kamu tahu kan kalau dia sedang galau?" ujar Tia dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya


"Galau sih galau Ti, kalau mau buat malu ya dilihat-lihat dulu tempatnya dong." protes Reza terlewat kesal dengan sahabatnya satu itu. Berbeda sekali dengan Riko yang sejak tadi hanya diam saja


"Diem sih Za, berisik kamu!" Caca merengut, ia melipat kedua tangannya diatas perut


"Rik, kamu juga kenapa?" tanya Reza yang sejak tadi tidak mendengar suara Riko disana


"Tidak ada apa-apa Za." Riko tersenyum kecil saat Reza menatapnya dengan begitu, Riko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Kalian berdua ini sangat aneh, kalian berdua yang minta kita untuk berkumpul. Terus giliran sudah kumpul kalian malah seperti ini," ucap Reza yang sudah tidak tahan dengan keheningan yang terjadi di meja itu, sedari mereka datang sampai makan pun sudah selesai tidak ada obrolan apapun, yang ada hanya kebisingan. Reza merasakan sedang berada di pemakan, padahal mereka sedang berada ditengah keramaian


"Aku enggak tahu ya masalah hidup kalian berdua apa, tapi jelas dong jangan seperti ini. Kalian berdua tahukan kalau kita berdua ini sangat sibuk!" Caca memutar bola matanya malas, ia harus mengatakan langsung apa yang akan ia sampaikan. Kalau tidak Reza akan terus membuka mulutnya sampai mulutnya itu berbusa karena kelelahan berbicara


"Aku mau nikah,"


"Aku mau nikah," Tia yang sibuk memakan sambil mendengarkan semuanya begitu sangat terkejut


Uhhuk... Uhhukk..

__ADS_1


Reza menoleh kesamping, ia segera mengambil air minum dan menyerahkan kepada Tia. Tia pun menerima pemberian Reza, ia langsung meminum air mineral didalam gelas itu sampai habis.


Tia memukul-mukul dadanya pelan, dibantu oleh Reza yang memukul pelan punggung nya. Caca memberikan tisu, agar Tia mengelap air mata yang sudah keluar di ujung mata


Tia bernafas dengan lega setelah rasa sesak itu hilang, ia meraih botol air mineral yang ada disana dan memasukkan ke dalam gelas sebelum ia meminum nya. Nafas Tia naik turun, ia menatap tajam kedua sahabatnya itu


"Bercanda kalian berdua sangat berlebihan, bagaimana kalau aku mati karena ini?" tanya Tia kesal


"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Riko


"Ya, apakah aku juga terlihat seperti orang sedang bercanda?" tanya Caca juga, Reza dan Tia saling pandang. Keduanya tidak melihat kebohongan, tapi mereka merasa sangat bingung saat ini


"Aku dijodohkan dengan anak rekan bisnis Papah yang berada diluar negeri." ucap Riko dengan wajah yang begitu serius, Tia dan Reza hanya diam saja


"Dan dua bulan lagi pernikahan nya dilangsungkan." ucap Riko menatap ketiga sahabatnya bergantian


"Aku tidak mau mengecewakan Papah Ti, dia satu-satunya orang yang aku sayang yang masih ada, jika pun aku tidak mencintai wanita yang akan menjadi istriku nanti, ataupun akan banyak rintangan pada kami berdua karena kami menikah atas dasar perjodohan. Maka aku dan dia akan berusaha untuk membangun cinta, agar kami bisa sama-sama nyaman."


"Wow... Keren,"


Prokk.. Prokk.. Prokk...


"Kamu memang selalu tenang menghadapi setiap masalah Rik, bahkan saat masalah itu tentang teman hidup kamu, kamu masih tetap tenang. Kalaupun aku seorang wanita, maka aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan orang lain dan harus menikah dengan aku."


Tia dan Caca yang mendengar itu memutar bola mata mereka malas, jika Riko selalu tenang menghadapi masalah, berbeda dengan Reza yang selalu lebay di setiap waktu.

__ADS_1


****


Berbeda dengan keempat sahabat yang tengah berkumpul, Sena kini tengah menangis di pelukan Dave karena tidak diperbolehkan oleh Dave untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.


Posisi Sena saat ini adalah menduduki Dave dan memeluk leher Dave dari depan. Sedangkan Dave mengelus lembut punggung istrinya dan kadang bergantian dengan mengusap paha mulus sang istri. Dengan posisi seperti ini, dan Sena yang hanya memakai daster saja itu membuat paha mulus Sena terpampang jelas.


Dave sengaja membawa Sena ke kamar utama untuk menikmati bintang-bintang diatas langit, namun saat mereka sedang bercengkrama Sena mendapatkan telpon dari Caca untuk mengajaknya berkumpul bersama. Pada akhirnya Sena merengek kepada Dave untuk ikut berkumpul bersama sahabat-sahabatnya, namun Dave tetap memberi izinnya. Ia melarang keras Sena untuk tidak ikut dan menyuruhnya untuk diam dirumah.


Dave mengecup dahi istrinya berulang kali, Dave sangat kewalahan menghadapi tingkah Sena yang selalu berubah-ubah, apakah semua ibu hamil seperti ini pikir Dave


"Sayang sudah ya, kasihan baby kita kalau kamu menangis terus seperti ini." ucap Dave menjauhkan kepalanya untuk melihat wajah sang istri. Sena menggelengkan kepalanya dan semakin menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya


"Sayang, bukan aku enggak bolehin kamu untuk kumpul dengan sahabat-sahabat kamu, tapi kamu sedang hamil besar seperti ini aku takut kamu ada apa-apa." ujar Dave lembut agar istrinya itu mau mendengarkan nya dan berhenti untuk menangis. Sena mengangkat kepalanya dan menatap Dave dengan berderai air mata, tangan Dave terulur untuk menghapus air mata istrinya yang membasahi pipi chubby istri cantiknya itu


"Kamu bukan takut aku kenapa-kenapa, tapi kamu takut aku kesana dan bertemu Riko kan?" tanya Sena serak. Dave menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengusap wajah istrinya. Dave menatap istrinya dalam diam, begitu pula dengan Sena ia menatap suaminya dengan derai air mata yang tidak mau berhenti turun.


Sena kesal kenapa Dave begitu tidak mempercainya, padahal ia tidak mempunyai hubungan lebih dengan Riko selain sahabat. Ia merasa seperti burung dalam sangkar yang tidak boleh kemana-mana dan selalu mendengarkan apa yang suaminya itu katakan, Sena merasa hidupnya tidak sebebas dulu. Dimana dulu ia ingin keluar kemana saja tidak ada yang melarang.


"Benar bukan apa yang aku katakan kalau kamu melarang aku bukan karena kamu takut aku kenapa-kenapa, tapi karena kamu takut aku bertemu dengan Riko." Sena memukul-mukul bahu Dave untuk melampiaskan kesalnya, Dave hanya diam saja mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya. Ia membiarkan Sena untuk melampiaskan amarahnya


_


_


_

__ADS_1


_


Bersambung...


__ADS_2