Possesif CEO

Possesif CEO
Selalu Saja


__ADS_3

Empat bulan kemudian...


Empat bulan telah berlalu, kehidupan rumah tangga Dave dan Sena semakin bahagia saja. Setiap harinya mereka lalui dengan sesuatu yang membuat mereka semakin jatuh cinta satu sama lain. Dan untuk kali ini Dave sedang mengantarkan sang istri untuk mengecek kandungan. Dave begitu penasaran apa jenis kelamin anak mereka, walaupun dengan sedikit paksaan dari Dave karena Sena tidak mengizinkan dirinya untuk ikut.


Kini didalam sebuah ruangan dokter spesialis kandungan yang membiasa menangani Sena, pasangan suami istri itu berada.


Sena menggenggam erat tangan Dave saat mendengar detak jantung yang berasal dari dalam perutnya, tidak lupa air mata juga ikut turun mengiringi rasa yang tidak bisa ia jelaskan


Sama halnya dengan Sena, Dave juga ikut terharu mendengar detak jantung anaknya. Dave juga sangat bahagia saat mengetahui jenis kelamin anaknya


"Cukup ya," ucap dokter tersebut kepada Dave dan Sena. Sena dan Dave mengangguk


Dokter itu meletakkan kembali alatnya ke tempat semula, ia tersenyum melihat wajah calon orang tua muda itu. Dave menurunkan baju Sena yang tersingkap


"Pelan-pelan sayang," Dave menolong Sena untuk turun dari brankar


"Semuanya sehat dan baik ya Ibuk, Bapak. Jadi kita hanya perlu menjaga dia untuk dua bulan yang akan datang." ujar dokter tersebut dan menuliskan sesuatu pada kertas resepnya


Srak..


"Ini resep vitamin, bapak bisa menebusnya di apotik didepan."


"Oh iya dok, terima kasih banyak." Dave menerima resep yang dokter tersebut berikan


"Kalau begitu kami permisi dulu dok, dan terima kasih banyak." Dave menjabat tangan sang dokter, bergantian dengan Sena yang tak berhenti tersenyum sejak tadi


"Sama-sama Mr. Alexander. Di jaga ya Pak calon penerusnya." ucap dokter. Dave mengangguk, setelah itu mereka pun keluar dari ruangan itu


Dave menggandeng tangan Sena untuk keluar dari sana, dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajah kedua anak manusia itu


"Dia laki-laki lagi sayang, apakah kamu bahagia mendengarnya?" tanya Sena, Dave pun menoleh ke samping dan menatap wajah sang istri dari samping


Dave membawa istrinya untuk duduk di kursi tunggu yang berada di sana. Sena pun menurut saja ketika Dave memintanya untuk untuk duduk, ia mengangkat sebelah alisnya seakan meminta jawaban dari Dave


"Sayang, kamu salah dalam menilai aku. Aku tidak begitu menuntut soal anak, bagiku laki-laki dan perempuan itu sama saja, sama-sama anakku dan sama-sama anak kita berdua. Buah cinta kita." ujar Dave, membuat Sena terdiam dan memandang wajah Dave dengan lamunan

__ADS_1


"Jadi, aku bahagia apapun jenis kelamin anak kita. Yang terpenting dia sehat dan tidak kurang satu apapun." Dave tersenyum melihat istrinya melamun, ia menguap wajah Sena agar tersadar dari lamunan nya


"Jangan melamun, tidak baik untuk ibu hamil." ucap Dave kala Sena tersadar dari lamunan nya dan menatap tangan Dave yang mengelus pipinya


"Jadi sekarang kita mau ke mana? Apakah kamu tidak ingin pergi shoping?" Sena menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau dengan tawaran yang suaminya itu berikan. Dave mengerutkan kedua alisnya, jika biasanya istri orang akan meminta uang dengan paksa dari suami mereka untuk pergi shoping, tapi tidak dengan istrinya. Bahkan selama hampir satu tahun menikah Sena tidak pernah meminta apapun padanya, kartu debit yang ia berikan juga tidak pernah berkurang isinya. Lalu apa yang istrinya lakukan selama ini, jika mengikuti gaya Mamah nya istrinya juga tidak akan diam dirumah saja dan akan ke sana kemari, tapi tidak untuk istrinya


"Apakah kamu tidak ingin seperti wanita lain yang menghabiskan uang suami mereka untuk membeli pakaian bagus? Atau perawatan?" Sena menatap tajam suaminya, ia pun melepaskan tangannya dari genggaman Dave dan menyilangkan kedua tangannya diatas dada


"Kamu pikir aku wanita matrealistis?" tanya Sena dengan wajah yang tidak biasa, Dave yang melihat itu menjadi takut sendiri. Ia menggelengkan kepalanya


"Walaupun aku tidak perawatan kamu juga sudah tergila-gila padaku." Dave melongo tidak percaya, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Dan ia tidak tahu kalau Sena istrinya bisa berkata seperti itu


"Aku tidak percaya kamu bisa sepercaya diri ini sayang." ucap Dave


"Tentu saja, aku sudah memiliki kepercayaan diri ini sejak dulu." jawab Sena menyombongkan dirinya, Dave yang melihat itu terkekeh pelan. Tidak ingin berlama-lama disana Dave pun segera mengajak Sena untuk pulang


"Ayo sayang! Kita harus menebus vitamin kamu dulu." Sena mengangguk dan menerima uluran tangan Dave


"Tunggu sebentar." Sena memakai kembali topinya


"Kamu janji kan tadi? Kalau aku tahu kamu akan marah-marah seperti ini, tidak aku izinkan kamu untuk mengantar aku." ujar Sena mengingatkan kembali janji Dave yang tidak akan mempermasalahkan dirinya yang memakai topi


"Tapi kan..."


"Sayang," Sena memegang kedua pipi Dave agar Dave mau mendengarkannya


"Aku tahu aku istrimu, tapi kamu juga harus pikirkan aku dan kamu. Hanya sebagian orang yang mengetahui kalau kita sepasang suami istri, dan sebagian banyak orang mengetahui kalau kamu masih lajang. Aku tidak ingin orang berpikiran jelek jika melihat kamu dengan wanita hamil seperti aku, orang-orang akan berpikir jelek untuk itu." jelas Sena panjang lebar agar suaminya itu mau mengerti dan tidak ingin meributkan hal yang sama


"Sampai kapan?" tanya Dave yang sudah tidak tahan harus bersembunyi setiap kali dan Sen keluar bersama


"Emm..."


"Tidak bisa menjawab nya bukan? Kenapa harus seperti ini sayang, aku hidup menggunakan tangan dan usahaku sendiri m Tapi kenapa aku harus memikirkan pendapat orang saat aku ingin bersama dengan orang yang aku pilih? Kenapa?" tanya Dave, sungguh ia tidak bisa menahan lagi semua pertanyaan yang selama ini ia simpan


"Apakah aku salah memilih mu sebagai pendamping hidupku?" tanya Dave

__ADS_1


"Salahkah sayang?" tanya Dave lirih, Sena menggelengkan kepalanya


"Jangan seperti ini Dave, aku mohon!"


"Kamu memohon untuk apa?.."


"Untuk agar semua orang tidak tahu kalau kamu istriku? Atau karena kamu takut seseorang akan tahu kalau kamu menikah dengan aku?" Sena membulatkan matanya, bagaimana bisa Dave mengait-ngaitkan masalah yang ada dengan masalah lain yang tidak ia ketahui.


"Jawab aku sayang? Apa yang membuat kamu bersikeras tidak ingin diketahui oleh orang-orang tentang pernikahan ini?" Sena mengangkat tangannya memberi tanda kepada Dave untuk tidak melanjutkan lagi


"Berhenti Dave! Aku mohon berhenti." Sena menutup matanya mencoba mengatur nafas


"Kenapa? Apakah pertanyaan aku benar?"


"Kamu adalah orang bodoh yang pernah aku temui. Jika aku tidak mencintaimu, jika aku takut orang lain mengetahui pernikahan ini, aku tidak akan pernah rela membiarkan anakmu tumbuh didalam rahimku. Berpikir lah sebelum membuka mulut, mungkin saja kalimat mu bisa melukai hati orang lain." ucap Sena dengan nafas terengah-engah. Sedangkan Dave berdiri mematung ditempat


"Aku... Aku... Aku hanya ing..."


"Jangan berbicara lagi, semakin banyak kalimat yang kamu ucapkan dari mulutmu itu, maka akan banyak sakit yang aku terima." Sena menundukkan kepalanya berharap air mata tidak keluar


"Aku akan pulang naik taxi, jadi jangan coba untuk menghentikan aku."


"Sa... Sayang!" panggil Dave, namun Sena sudah lebih dulu berbalik badan dan melangkah pergi dari sana meninggalkan dirinya


"Aaakhh.."


Brak.


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2