Possesif CEO

Possesif CEO
Ketegangan


__ADS_3

"Tarik nafas dalam-dalam Nyonya, lalu anda bisa mengejan semampu yang anda bisa." perintah dokter perempuan yang juga memiliki darah Indonesia, Dave menolak mentah-mentah saat dokter laki lah yang akan menangani istrinya. Ia tidak rela jika tubuh istrinya di lihat dan di sentuh oleh orang lain, tubuh dan hati Sena adalah miliknya seorang


"Huhh... Huhh... Ini sakit banget dok, perasaan dulu waktu saya melahirkan anak pertama saya tidak sesakit ini, kenapa ini rasanya sakit banget?!!" Sena menggenggam dengan kuat tangan suaminya, sampai-sampai Dave harus menahan sakit yang di timbulkan oleh genggaman tangan Sena


"Wajar Nyonya, setiap anak berbeda. Maka dari itu ingat selalu untuk tidak menyia-nyiakan anak nantinya, begitu pula sang anak terhadap orang tua."


"Tapi ini sangat sakit dokter, ini sangat berbeda uhh." keluh Sena menghembuskan nafas kasar mengapa rasa sakit, saat melahirkan Devano tidak sesakit ini, ada apa dengan anak yang akan ia lahirkan saat ini maka rasanya berbeda


"Jangan membanding-bandingkan anakku sayang, mereka semua anak kita. Kita membuatnya dengan susah payah, jadi aku mohon berhenti bersikap seperti ini. Mungkin dia marah karena kamu membandingkan dia dengan kakak nya." sang dokter dan beberapa perawat tersenyum kecil mendengar dialog Dave, dimana Dave begitu tidak senang anak yang belum lahir ke bumi sudah dibedakan


"Ini semua juga gara-gara kamu!" seru Sena yang semakin kesal dengan Dave


"Kok aku?!" tanya Dave pada dirinya, ia tidak terima mengapa istrinya jadi menyalahkan dirinya


"Ya semuanya karena kamu, kalau saja kamu enggak paksa aku untuk hamil lagi, rasa sakit ini enggak akan ad... Awww..." ringis Sena merasakan sakit itu lagi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya


"Sayang kenapa?" tanya Dave panik


"Sakittt... Hikss... Hikss..." isak Sena yang tidak tahan dengan sakitnya. Entah mengapa lahiran kedua ini membuat ia selebay ini, padahal dulu biasa saja ketika melahirkan Vano


"Shuttt.. Nyonya, jangan menangis. Sepertinya bayi nya sudah ingin keluar, jadi anda bisa menarik nafas dalam-dalam dan mengejan sekarang."


Dave membantu mengusap keringat yang ada di dahi sang istri, ia juga mengecup kening Sena dan membisikkan kalimat-kalimat cinta, yang mungkin bisa membuat siapa saja yang mendengar tersipu malu, termasuk Sena. Hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan untuk dirinya tersipu malu akan kalimat cinta sang suami


Dave memperhatikan Sena yang mengatur nafasnya dan menarik dalam-dalam nafasnya, lalu mengejan dengan sekuat yang ia bisa. Dave sampai memeluk kepala Sena dan menyembunyikan wajahnya disamping sang istri, Dave tidak kuat melihat wajah Sena yang tengah berjuang menghadirkan buah hati mereka ke dunia


"Ya Nyonya sedikit lagi, kepalanya sudah terlihat, sekali dorongan kuat si baby akan keluar." ujar sang dokter yang semangat ketika sudah melihat kepala sang bayi. Sedangkan Sena tengah mengatur nafasnya

__ADS_1


"Kamu kuat sayang, kamu adalah wanita kuat. Ayo sekali lagi, dorong kuat anak kita agar dia bisa melihat dunia yang luas ini." bisik Dave sembari mengusap keringat di pelepis Sena. Sena menatap sang suami dengan mata sayunya. Membuat Dave yang melihat itu tersenyum lalu mengecup ujung hidungnya


"Ayo Mamah kamu pasti bisa, adik menunggu Mamah untuk mengeluarkan dia." ucap Dave menyemangati Sena, membuat Sena yang melihat itu tersenyum manis dan melupakan sejenak rasa sakit yang tengah melanda


****


Berbeda dengan Sena dan Dave yang tengah berusaha menghadirkan anak mereka diruang persalinan. Orang-orang yang menunggu lebih dibuat kalut, wajah mereka terlihat begitu sangat tegang, namun tidak terkecuali untuk anak laki-laki yang berada di pangkuan Oma nya


Mata hitam Vano melirik orang-orang disana, ia merasa bingung apa yang terjadi dengan wajah semua orang disana, tetapi Vano tidak mampu berbicara karena melihat Oma nya juga sedang tidak baik. Yang Vano pikirkan di otak kecilnya saat ini adalah ke mana Papah dan Mamah nya


"Pah, kenapa lama sekali? Apakah terjadi sesuatu dengan menantu kita?" tanya Veny membuka suara, ia sudah tidak tahan jika hanya diam dan menunggu, rasa khawatir begitu kuat dalam dirinya


"Sabar Mah, jangan berpikir yang macam-macam. Kamu tahu bukan menantu kita itu kuat, jadi percaya saja jika semua akan baik-baik saja." jawab Davin menenangkan istrinya, perhatian Davin teralihkan kepada bocah kecil yang ada di pangkuan sang istri. Davin tersenyum lalu mengulurkan tangannya, Vano pun segera menghampiri Opa nya


"Vano mencari Papah dan Mamah Opa, kenapa mereka pergi enggak ajak-ajak Vano?" Davin tersenyum mendengarnya


"Papah dan Mamah Vano tidak meninggalkan Vano sayang," jawab Davin dengan mengusap lembut rambut halus Vano


"Vano akan tahu nanti, sekarang lebih baik Vano berdoa dan meminta agar Mamah Vano baik-baik saja." ujar Davin, ia tidak ingin cucunya mengetahui apa yang tengah terjadi.


"Kenapa Opa? Apa Mamah Vano sakit?"


"Nanti Vano akan tahu sayang, sekarang yang perlu Vano lakukan adalah berdoa untuk Mamah dan adik Vano."


"Baik Opa, Vano akan berdoa untuk Mamah dan adik Vano." jawab Vano, yang dimana membuat semua orang yang sejak tadi mendengar percakapan antara kakek dan cucu itupun tersenyum, mereka sejenak lupakan kekhawatiran mereka terhadap Sena, hingga suara keras tangisan bayi terdengar sampai luar


Ooekkk... Ooeekk... Ooekkk...

__ADS_1


"Cucu keduaku," batin Davin tersenyum


"Aku memiliki dua cicit sekarang!" Diva juga ikut bahagia


"Pah, cucu kita sudah lahir!" seru Veny tersenyum lebar, Davin membalas dengan senyuman juga. Ia bisa merasakan kebahagian semua orang


"Tidak menyangka, sahabatku sudah memiliki dua anak, sedangkan aku satu saja pun belum." gumam Tia, yang juga ikut bahagia atas kelahiran anak kedua Sena sahabatnya


"Kalian pengantin baru, kalian bisa membuat kapan saja." Michael melayangkan tatapan tajam nya


"Kamu pikir buat anak itu gampang? Nikah sana biar tahu gimana rasanya buat anak, asal saja bicaramu," Joni mengernyitkan dahinya saat reaksi Michael begitu berlebihan menurutnya


"Tingkah mu ini seperti orang yang belum mendapatkan jatah malam pertama," Michael semakin menajamkan matanya


"Joni sialan!" umpat Michael dengan geraman, ia tidak mungkin berteriak disana dan membuat kaget orang-orang disana


Sedangkan Joni terkikik puas karena telah berhasil menggoda Michael, karena jarang-jarang seorang Michael bisa terpengaruh akan ucapan orang lain


"Kuat juga Michael menahannya," batin Joni terkikik puas


Ceklek


_


_


_

__ADS_1


_


Bersambung...


__ADS_2