Possesif CEO

Possesif CEO
I'm Pregnant


__ADS_3

Dave mengaduh merasakan sengatan di paha kanannya, dimana pelakunya adalah sang istri sendiri


"Apa lagi sayang? Kok main cubit-cubit, kan aku enggak ada salah." Dave mengerucutkan bibirnya sambil mengusap bekas cubitan Sena


"Kalau ngomong tuh lihat-lihat dong, asal aja." Dave melirik ke sekitar


"Ya maaf, aku kan mengatakan apa adanya." ujar Dave pelan, sehingga hanya Sena dan Vano sajalah yang dapat mendengar suaranya


"Lihat tempat dong, aku tahu kalau kamu sudah tidak punya urat malu. Tapi jangan bawa-bawa aku juga."


"Bagaimana tidak membawa kamu, kamu istriku."


"Hei, kenapa kalian berdua malah asyik berbicara sendiri? Lihatlah mulut Vano susah seperti bebek yang siap menyelusup." Dave dan Sena langsung melihat ke arah wajah anak mereka


"Papah dan Mamah melupakan aku, padahal adik saja belum lahir." Vano menundukkan kepalanya sedih


"Hei, Papah tidak melupakan kamu kok sayang, tapi..." Dave menggantung kalimatnya setelah mencerna, pandangan Dave kini malah tertuju kepada Sena


"Apa maksud dari perkataan kamu sayang?" tanya Dave kepada putranya tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri


"Adik belum lahir, tapi Papah dan Mamah sudah mengabaikan aku." jawab Vano mengatakannya sekali lagi, percayalah jantung Dave saat ini sedang berhenti berdetak.


Veny yang melihat reaksi anaknya seperti itu tersenyum kecil, ia mengedipkan mata kepada asisten rumah tangga anaknya itu untuk pergi dari sana, dimana langsung di angguk oleh ke tiga wanita paruh baya itu. Setelah melihat asisten rumah tangga anaknya itu pergi dari sana, Veny menyentuh pundak cucunya


"Ikut Oma ke dalam ya sayang, sepertinya Papah dan Mamah mau berbicara berdua."


"Tapi Oma..."


"Sayang, kamu ikut Oma dulu ya nak. Papah mau bicara dulu sama Mamah." ucap Dave lembut, yang langsung di angguk oleh anak kecil itu. Vano pun segera turun dari pangkuan Papah nya dan menggandeng tangan Oma nya pergi dari sana


Sena menatap kepergian mertua dan anaknya, ia tidak menyadari kalau suaminya itu sudah menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sampai pada saat ia merasa kalau sedang diperhatikan dengan begitu sangat intens


"Kenapa?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Dave, dimana itu membuat Sena sangat bingung dengan pertanyaan itu


"Apa maksud dari pertanyaan itu?" tanya balik Sena

__ADS_1


"Jangan berlagak bodoh sayang, kamu tahu apa maksud pertanyaan ku itu." Sena mengerucutkan bibirnya, iapun merangkak mendekati Dave dan menggantikan Vano yang duduk diatas pangkuan Dave dan mengalungkan tangannya dileher suaminya itu


Dave mempertahatikan tingkah laku istrinya itu yang tiba-tiba saja menjadi manja, tangan Dave pun terangkat dan di melingkar sempurna di pinggang istrinya


"Saat kamu berangkat ke kantor, entah kenapa kepalaku terasa begitu berat, dan rasa perutku juga begitu sangat tidak enak. Membuat aku mual, sampai jatuh pingsan di kamar mandi. Untung saja Mamah datang ke sini."


"Kamu pingsan?" Sena mengangguk pelan, Dave yang mendengar itu langsung melihat seluruh tubuh Sena dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Mana yang sakit?" tanya Dave lagi karena ia tidak menemukan ada luka apapun ditubuh Sena


"Tidak ada yang sakit kok." jawab Sena biasa saja


"Apa Mamah memanggil dokter?"


"Ya, kamu tahu sendiri Mamah seperti apa, dia tidak akan bisa tenang kalau belum tahu apa yang terjadi padaku."


"Lalu apa yang dokter katakan? Apa ada penyakit serius? Aku tidak percaya kalau kamu pingsan, sedangkan aku meninggalkan kamu dan putra kita dalam keadaan baik-baik saja." ucap Dave menatap wajah Sena yang sedikit lebih tinggi darinya


"Aku hamil." tiba-tiba saja Sena bersuara dengan begitu sangat lantang


Dengan sekali tarikan kuat, kini Sena sudah berada didalam pelukan Dave. Sena pun membalas pelukan itu dengan mengusap lembut punggung Dave


"Pantas saja putra kita berbicara seperti itu, ternyata memang ada maksudnya." gumam Dave


"Apakah kamu bahagia mendengar aku hamil lagi?"


"Aku tidak tahu harus menjabarkan kebahagianku dengan cara apa, tapi satu yang pasti. Keinginanku membuatmu hamil kini terkabul, aku akan memiliki anak lagi dan itu adalah senjataku untuk mengikatmu dalam hidupku. Selamanya." Sena memutar bola matanya jengah


"Ketakutanmu itu tak beralasan, siapa yang akan meninggalkanmu!." Dave perlahan melepaskan pelukannya itu dan memegang kedua bahu istrinya


"Beginilah kalau seorang pria sudah jatuh cinta sayang, apapun pasti akan dia lakukan. Dan kehilangan adalah salah satu ketakutan terbesar dari seorang pria sejati yang jatuh cinta." ucap Dave lembut, ia menatap wajah Sena dengan penuh cinta


"Itulah alasan mengapa aku memilih untuk menidurimu duluan dibanding mengikatmu dalam pernikahan,"


"Itu karena kamu saja yang mesum."

__ADS_1


"Aku mesum juga dengan kamu, wanita yang aku cintai." wajah Sena memanas seketika, ia menoleh ke arah lain agar Dave tidak melihat wajahnya sekarang yang sudah seperti kepiting rebus


"Dan ini, adalah bukti betapa aku sangat mencintai kamu." Dave menempatkan tangan besarnya diperut rata Sena dan mengusapnya dengan perlahan


"Sebentar lagi kita akan berulang tahun pernikahan yang ke tiga tahun, dan aku sudah berhasil membuahimu sebanyak tiga kali."


"Astaga, dia sangat ingat tanggal pernikahan kami. Sedangkan aku, istri macam aku sampai tidak mengingat tanggal pernikahan sendiri." batin Sena


"Teman mu Riko saja sudah dua tahun menikah belum dikaruniai keturunan satupun, itu menandakan betapa gagahnya aku diatas kasur."


"Awww... Sayang kamu kebiasaan sekali!" Dave mengusap lengannya yang mendapat sengatan kembali oleh istrinya itu


"Makanya kalau ngomong itu pakai otak, memang kamu tahu kegiatan ranjang rumah tangga orang sampai kamu membandingkannya dengan dirimu?" Dave mengerutkan dahinya melihat wajah sang istri yang terlihat begitu sangat marah


"Kenapa kamu malah marah? Apa kamu tidak terima karena aku mengatakan pria yang pernah mencintai kamu?"


"Ya aku tidak terima, dia itu sahabatku, bagaimana mungkin suamiku sekejam itu menghina sahabat istrinya sendiri yang belum dikaruniai anak. Jangan mentang-mentang kamu mudah menghamiliku sampai kamu begitu sangat tega menghina seseorang diluar sana yang belum mendapat kepercayaan dari tuhan untuk mempunyai anak."


"Sudahlah jangan berlebihan seperti itu,"


"Kamu itu yang berlebihan." Sena memukul-mukul bahu Dave karena kesal dengan suaminya


"Jangan memancingku sayang, kamu sedang hamil." peringat Dave


"Biar saja, aku kesal sama kamu." jawab Sena, rahang Dave mengerat karena istrinya itu tidak mau mendengarkan ucapannya


"Sena berhenti!"


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2