
"Selamat pagi pak!" sapa Sheila pada Dave yang baru saja tiba. Dave hanya mengangguk dengan senyum tipis
"Tolong kamu bawakan laporan kemarin sama hari ini ke ruangan ku." ucap Dave kepada sekretarisnya. Sheila pun mengangguk dengan memberikan senyum manisnya, berharap Dave akan terpesona oleh kecantikan yang ia miliki apalagi saat tersenyum
Tapi tidak bertahan lama senyum itu terhias di wajah Sheila karena Dave berlalu dari sana tanpa melirik dirinya yang sudah berpenampilan sexy dan cantik agar Dave mau memandang nya lama
"Harus dengan cara apa biar pak Dave melihat aku?" gumam Sheila
"Hei sekretaris baru!" seru seseorang yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Sheila yang menatap Dave dengan begitu genitnya. Sudah ia duga kalau sekertaris Dave ini tertarik dengan Bos nya sendiri
"Kamu harus hilangkan niat jelek mu itu jika kamu masih ingin bekerja disini." ucap Dave memperingati Sheila untuk tidak macam-macam
"Maksud pak Jerry apa?" tanya Sheila dengan menatap tidak suka Jerry
"Aku memperingati mu untuk berhenti menggoda pak Presdir jika kamu tidak ingin hidupmu dan keluarga mu hancur. Ingat selalu apa yang aku katakan ini, jika kamu tetap pada pendirian mu dan masih bersikeras ingin menggoda pak Dave silahkan. Tapi kamu harus bersiap untukenangis darah karena penyesalan." ucap Jerry dan berlalu dari sana untuk masuk ke ruangannya
Sheila menatap tidak suka pada Jerry yang sudah berani-beraninya memperingati dirinya dan membawa keluarganya yang tidak memiliki masalah dalam hal ini
"Memang nya dia siapa berani-berani sekali menasehati ku!" gumam Sheila, ia tersadar saat nama Dave terlintas di kepalanya
"Lebih baik aku melihat pangeran saja daripada harus memikirkan pria miskin tidak berguna itu." ucap Sheila berdecih lalu pergi menuju ruangan Dave dengan membawa berkas-berkas yang Dave minta
****
Sena mengucek matanya agar penglihatannya terang. Hari ini dirinya sangat begitu malas untuk melakukan apapun, bahkan ia tidak menyiapkan pakaian dan sarapan untuk suaminya
"Pasti dia sudah berangkat," gumam Sena, lalu menggulingkan tubuhnya kembali diatas kasur. Sena menguap dengan begitu lebar, membuat air mata keluar sedikit
"Padahal aku tidur tidak malam-malam, tapi kenapa sampai sekarang masih saja mengantuk?" tanya Sena bingung
"Kamu mengantuk ya sayang? Tapi Mamah laper sayang, kamu ikut Mamah ke bawah ya nak kita buat makanan. Mamah laper banget." Sena menyingkap tempat tidurnya dan melangkah menuju pintu untuk keluar dari sana
Ting.
__ADS_1
Suara dering ponsel Sena berbunyi, namun sang empu sepertinya tidak mendengar kalau ponselnya berbunyi dan tetap melangkah keluar dari sana
****
Bi Ina tersenyum kepada Nyonya muda nya yang baru saja bangun tidur. Dengan wajah bantal dan rambut yang berantakan Sena menguap sekali lagi
"Lanjut tidur saja Nya jika masih mengantuk. Kasihan baby nya melihat Mamah nya menguap seperti itu, Nyonya pasti mengantuk berat!" Sena tersenyum tipis, lalu menfudukan dirinya disalah satu kursi meja makan
"Ini sarapan Nyonya!" Sena mengerutkan dahinya dan menatap piring yang ada didepan nya dan Bi Ina bergantian
"Kok Bibi tahu kalau aku laper?" tanya Sena dengan mengangkat sebelah alisnya
"Tentu saja Bibi tahu Nya, Nyonya makanya kesini karena ingin makan bukan?"
"Hehe... Bibi sangat pintar. Tapi Bi, aku tidak mau makan ini." Sena menggeser piring itu dari hadapannya
"Tapi tuan yang membuatkan itu dan menyuruh Bibi untuk memberikannya kepada Nyonya saat Nyonya susah bangun." jawab Bi Ina, yang menyampaikan pesan dari tuan nya
"Benarkah? Bibi tidak bohong kan kalau yang membuat ini adalah Dave?" tanya Sena tak percaya suaminya itu begitu perhatian kepada dirinya. Melihat Bi Ina mengangguk, Sena pun langsung memakan roti tawar yang sudah di olesi selai coklat kesukaan nya. Walaupun Sena sedang tidak ingin memakan itu ia tetap menghargai suaminya yang sudah mau menyiapkan sarapan yang sehat untuk ia dan baby yang ada didalam perutnya. Sena mengambil susu coklat yang ternyata Dave jugalah yang membuatkan untuknya
"Tidak apa-apa sayang Mamah tidak memakan makanan yang Mamah inginkan. Tapi setidaknya Mamah kenyang dengan sarapan yang sudah Papah siapkan untuk Mamah. Kamu bahagia bukan?" tanya Sena sambil mengusap perutnya yang dimana kini kehamilannya sudah memasuki usia tiga bulan
"Belum kelihatan perut buncitnya ya Nya!" seru Bi Ina yang menyaksikan apa yang tengah Sena lakukan
"Hehe, iya nih Bi. Aku sudah tidak sabar ingin dia cepat-cepat lahir."
"Nyonya berharapnya dia laki-laki atau perempuan?"
"Aku sih apa saja Bi yang penting sehat dan tidak kurang satu pun." jawab Sena, memang dirinya dan Dave tidak pernah membicarakan ingin anak laki atau perempuan. Yang paling terpenting untuk mereka adalah anak mereka lahir sehat
****
Ceklek.
__ADS_1
Jerry menyembulkan kepalanya seperti orang sedang mengintip dan takut akan ketahuan sang pemilik ruangan. Dave yang sedang memeriksa berkas itu menoleh kearah pintu
"Kenapa sudah seperti pencuri? Masuklah!" seru Dave tanpa tahu kalau disana dirinya tidak sendiri
"Aku pikir kamu sedang ada pembahasan penting,"
"Apa?" tanya Dave mengikuti arah pandang Jerry
"Lho, kamu masih disini rupanya?" Dave cukup terkejut melihat Sheila masih berdiri di tempatnya
"Emm... Itu pak, anu.." Sheila menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk
"Kamu bisa kembali ke meja kamu, jika aku memerlukan kamu, aku bisa menghubungi kamu dengan ini ataupun melalui dia." tunjuk Dave pada telepon celluler dan Jerry yang berada diambang pintu
"Oh iya pak. Kalau begitu saya permisi keluar dulu." Sheila sedikit merendahkan kepalanya dan pergi dari sana. Saat akan melewati Jerry, Sheila sedikit menatap tak suka Jerry. Sedangkan Jerry mengangkat kedua bahunya acuh
"Dia ancaman untuk rumah tangga Bos!" seru Jerry dan melangkah mendekat ke meja Dave menyerahkan berkas yang Dave tugaskan untuk mengerjakannya kemarin
"Maksud kamu?" tanya Dave tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas itu.
"Apakah Bos tadi tidak melihatnya? Apa Bos tidak mengerti kenapa sekretaris baru itu betah berada didalam sini? Itu karena dia sedang mencoba untuk menggoda Bos?" tanya Jerry
"Entahlah, aku pikir dia sedang menjalankan pekerjaan nya. Aku juga tidak perduli dia ingin menggodaku seperti apa, yang terpenting dia tidak mengganggu pernikahan aku dan Sena." jawab Dave yang tampak acuh dan tidak peduli jika sekretaris nya itu ingin menggodanya
"Bos memang keras kepala, ya sudah lah yang terpenting aku sudah memberitahu Bos. Yang terpenting juga aku mau Bos berhati-hati saja, aku pikir wanita itu sangat licik dan banyak cara." ucap Jerry. Dave mengangguk saja, ia juga tidak begitu fokus dengan apa yang Jerry jelaskan padanya
"Yahh.. Aku sangat berharap kalau rumah tangga kamu baik-baik saja." batin Jerry sambil menatap Dave
_
_
_
__ADS_1
_
Bersambung...