Possesif CEO

Possesif CEO
Berpikir


__ADS_3

Sena menuruni anak tangga dengan malas, Dave sudah pergi ke paris pagi tadi, dan dirinya sekarang harus tinggal sendiri disana. Di rumah besar nan megah milik suaminya


"Apakah Nyonya tidak rela ditinggal tuan pergi?" tanya Bi Ina saat melihat wajah murung majikannya


Sena tersenyum kikuk. Ia pun membuka piring nya dan membubuhi makanan ke dalam piring nya.


"Apa Bibi sudah sarapan?"


"Sudah Nya," Sena mengangguk, merasa tidak ada yang ditunggu, Sena pun langsung memakan sarapan nya


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam," Sena menoleh dan seketika melototkan matanya ketika melihat Mamah Dave yang datang bertamu


"Mamah!"


"Duduk saja sayang, lanjutkan sarapan kamu." ucap Veny menghentikan menantunya yang akan beranjak dari kursi itu. Sena mengangguk pelan lalu menjatuhkan kembali bolongnya diatas kursi


"Mamah kok nggak kabarin aku sih kalau mau kesini?" tanya Sena saat Veny sudah duduk disebelah kanan nya. Veny tersenyum mendengar pertanyaan menantunya, ia meletakkan tas beserta kunci mobilnya diatas meja makan


"Memang nya kenapa sayang? Bilang ataupun tidak sama saja bukan?"


"Iya sih," jawab Sena dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Selama Dave tidak ada, Mamah mau kamu tinggal sama Mamah dan Papah ya."


"Tapi Mah..."


"Tidak ada tapi-tapian sayang, ini perintah Dave." ucap Veny membuat Sena tidak mampu mencela ataupun menolak


"Iya Mah, sarapan dulu ya Mah." Veny mengangguk dan mempersilahkan menantunya itu untuk menghabiskan sarapannya


Sena memasukkan lagi makanan ke dalam mulutnya dengan sesekali melihat kearah Veny yang sedang memainkan ponselnya


****


"Maaf, Mr. Alexander. Pesawat akan segera take off, mohon untuk mematikan ponsel anda dan menyimpannya." Dave yang sedang berbalas pesan dengan Mamah nya itu pun mengangangguk


Dave berada di dalam ruangan khusus karena memang itu adalah jet pribadi miliknya, atau lebih tepatnya milik Papah nya. Sedangkan Jerry dan Sheila berada di kursi penumpang

__ADS_1


Dave mengajak serta asisten dan sekretarisnya, ia tidak ingin kelimpungan nanti bekerja disana. Jika ia sampai kelimpungan maka ia akan melupakan untuk saling bertukar kabar dengan sang istri


Ada rasa tidak rela saat harus meninggalkan Sena, tapi mau bagaimana lagi ia harus pergi, jika dirinya tidak pergi siapa lagi yang bisa ia andalkan untuk mengatasi masalah perusahaan yang sudah susah payah ia bangun


"Sabar ya sayang, aku tidak akan lama kok." gumam Dave dengan memandangi frame poto yang berukuran 3x4 didalam dompetnya. Dave tersenyum memandang foto Sena


****


"Ayo masuk sayang!" Veny menarik pelan tang Sena yang berjalan begitu pelan dibelakangnya


"Kok sepi Mah?" tanya Sena


"Papah sedang ke kantor sayang," Sena mengangkat kedua alisnya, bukan kah ada sekretarisnya Dave di kantor, tapi mengapa Papah mertuanya masih harus ke kantor


"Bukannya ada sekretaris Dave Mah? Kenapa Papah harus ke kantor menggantikan Dave?" tanya Sena


"Sheila dan Jerry juga ikut sayang,"


"Ikut?!" Veny menutup kedu telinganya ketika Sena berteriak


"Iya ikut, memang nya kenapa sayang?" tanya Veny yang melihat ketakutan di wajah Sena.


"Aku tidak apa-apa kok Mah, bener nggak ada apa-apa. Aku pikir sekretaris Dave tidak ikut," Sena tersenyum sekali lagi agar mertuanya itu percaya


"Syukur deh kalau tidak ada apa-apa." ujar Veny


"Sayang, bagaimana kalau kita shoping?" tanya Veny


"Tapi aku pengen istirahat Mah, kepala aku sakit banget." jawab Sena, ada rasa tidak enak di hati Sena karena telah berbohong kepada mertuanya, tapi ia juga tidak tertarik untuk mengelilingi Mall. Sena akhir-akhir ini mudah lelah, mungkin karena efek dirinya tengah berbadan dua


"Padahal Mamah pengen banget bisa shoping sama kamu, ya sudahlah tidak apa Mamah sendiri. Sekalian Mamah mau arisan bersama teman-teman Mamah, tapi kamu tidak apa-apa kan Mamah tinggal sendiri?" tanya Veny


"Iya tidak apa-apa kok Mah,"


"Kalau begitu Mamah pergi dulu ya!" Sena mengangguk dan ikut mengantar Veny keluar


****


"Apakah aku di blok oleh Sena?" gumam pria tampan dengan setelan jas mahal nya. Sejak malam itu ia mengirim pesan kepada Sena, nomor wati pujaan nya itu sudah tidak aktif lagi

__ADS_1


"Kenapa Rik?" tanya sahabatnya yang tidak lain adalah Reza. Pria tampan yang sedang gelisah itu ialah Riko


"Sepertinya aku di blok oleh Sena," jawabnya dan melempar benda pipih itu keatas meja kerja


"Apa kamu sering menghubungi Sena?" tanya Reza yang sedang mengisi mulutnya dengan cemilan yang ada didalam ruangan Riko


"Hmm, tentu saja."


"Bodoh."


"Apa katamu?!.." teriak Riko ketika mendengar gumaman sahabat tengiknya itu


"Riko, kamu bodoh. Dan sangat bodoh." ucap Reza mengejek Riko


"Jika aku bodoh aku tidak mungkin memimpin perusahaan ini,"


"Jika kamu pintar, kamu tidak akan menghubungi Sena di setiap waktunya. Ingat dia sudah memiliki suami, dan suaminya bukanlah orang sembarangan."


Riko terdiam mendengar kalimat sahabatnya, ia begitu tidak percaya kalau wanita yang ia cintai sudah menikah. Bahkan Riko juga berpikir kalau pernikahan Dave dan Sena dilakukan secara sembunyi-sembunyi, namun perkiraan Riko salah. Melihat Dave dan Sena di acara pembukaan hotel baru Dave membuat dunia tahu kalau Dave dan Sena adalah pasangan suami istri


"Tapi, apakah salah aku menghubungi sahabaku sendiri?" tanya Riko dengan menatap Reza yang juga menatap dirinya. Riko melihat Reza menggelengkan kepalanya dan menghela nafas pelan


"Begini Riko ku yang paling tampan dan baik hati, jika kamu memiliki seorang istri, lalu ada pria lain yang mengirimi pesan ataupun melakukan panggilan telpon pada nomor istrimu. Apa yang akan kamu lakukan?" Riko terdiam sejenak mercena setiap kata yang keluar dari mulut Reza. Lalu setelah itu ia menatap kembali Reza dengan menggigit bibir bawahnya


"Jadi menurut kamu apa yang aku lakukan itu salah?"


"Bagaimana perasaan kamu jika ada pria lain yang menghubungi wanita mu?" tanya Reza lagi, seharusnya Riko tidak perlu bertanya lagi.


"Marah. Aku akan sangat marah jika ada pria lain yang menghubungi wanitaku." jawab Riko, Reza tersenyum melihat kepalan tangan Riko


"Ya, seperti itulah suami Sena jika kamu terus menerus menghubungi istrinya. Cinta boleh Rik, tapi buta jangan. Kamu tidak boleh egois, mungkin kamu menghubungi Sena niatmu baik. Tapi tidak dengan suaminya, suaminya mungkin bisa salah paham dan itu juga bisa berakibat fatal untuk Sena. Berhenti seperti itu, jika i gin melihat Sena katakan kepada Caca agar kita bisa berkumpul bersama dan tidak menimbulkan kesalahpahaman nantinya." ujar Reza panjang lebar. Entah mengapa hari ini otaknya bisa bekerja lebih cepat dari biasanya, tapi setidaknya ia bersyukur bisa memberi masukan untuk sahabatnya satu ini


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2