Possesif CEO

Possesif CEO
Baby Handsome


__ADS_3

Sena sudah dipindahkan ke ruangan lain. Tentu saja ruangan yang Dave minta ruangan VVIP, ia ingin memberikan kenyamanan kepada anak dan istrinya. Dan kini ia sedang menyuapi istrinya makanan, sedangkan kedua orang tuanya tengah melihat cucu mereka


"Ini perpaduan yang sangat sempurna sih Pah," ucap Veny menatap cucunya, Davin yang tengah melihat cucu pertamanya itu juga mengakui kalau cucunya adalah perpaduan sempurna dari anak dan menantunya


"Tentu saja Mah, disini ada gen Papah." jawab Davin, Veny melihat suaminya dan mencebik mendengar kalimat suaminya


"Kalau begitu disini juga ada gen Mamah." tungkas Veny juga ingin diakui kalau disana juga ada gen miliknya


"Tapi anak kita ganteng ikut aku sayang," ucap Davin sengaja menggoda istrinya. Veny menajamkan matanya tak terima kalau Dave hanya mengikuti gen suaminya, sedangkan dirinya lah yang bersusah payah melahirkan putra mereka


"Mana ada, Dave itu ganteng karena Mamah yang melahirkan. Coba kalau bukan Mamah yang melahirkannya pasti dia tidak setampan ini."


Oekkk... Oekkk...


Kedua orang tua itu menoleh saat ada suara tangisan bayi, Veny mencoba mengambil tubuh cucunya yang berada diatas ranjang. Ia menepuk-nepuk pelan tubuh cucunya agar tenang


"Papah sih, lihat cucu kita menangis!"


"Kok Papah yang disalahkan?" tanya Davin tidak terima karena dirinya disalahkan


****


Dave dan Sena hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua orang tua itu, Sena yang masih disuapi oleh Dave tadi sempat terkejut mendengar tangisan bayinya. Namun setelah melihat mertuanya bisa menenangkan bayi mungil itu, Sena bisa bernafas dengan lega. Ia tersenyum memperhatikan betapa bahagia keluarga kecil ini dengan kehadiran seorang bayi


"Sayang," panggil Dave, Sena yang sedang melihat memperhatikan kedua mertuanya itu menoleh menghadap suaminya


"Kenapa suamiku?" tanya Sena lembut


"Apa kamu ingin mengadu kalau kamu cemburu jika anak kita terus menyusu padaku, hmm?" tanya Sena yang memang masih sangat gemas dengan suaminya itu. Dave terkekeh pelan, ia menggelengkan kepalanya


"Kamu ini berburuk sangka terus, aku kan belum mengatakan apa mau aku," ujar Dave


"Terus kamu mau apa?" tanya Sena mengangkat dagunya. Dave membawa kedua tangan istrinya ke dalam genggaman nya, ia mengecup buku tangan wanita yang kini sudah menjadi ibu dari anaknya.


Sena yang melihat sikap Dave menjadi manis seperti ini menjadi sedikit bingung. Ia mengangkat kedua alisnya, Dave tersenyum melihat istrinya yang seperti kebingungan


"Aku mau ngucapin terima kasih banyak sama kamu," ucap Dave

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa?" tanya Sena yang memang masih belum mengerti dengan Dave yang tiba-tiba saja berubah menjadi manis


"Terima kasih banyak sayang sudah melahirkan bayi yang lucu, dan memberikan aku seorang bayi tampan. Rasa terima kasih ku ini mungkin tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit yang kamu rasakan, tapi aku akan berusaha untuk menjadi suami dan Papah yang baik untuk kamu dan baby Devano." Sena yang memang type orang mudah menangis itu begitu tersentuh mendengar kalimat yang begitu manis dari mulut suaminya


"Hei, kenapa menangis sayang? Apa aku menyakiti kamu?" tanya Dave dan menghapus jejak air mata Sena, Sena menggelengkan kepalanya dan mengusap matanya menggunakan buku tangannya


"Kenapa kamu pinter banget sih berbicara manis seperti itu?" tanya Sena manja. Dave tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya


"Aku kuliah bertahun-tahun di Paris sayang, tentu saja aku pandai berbicara manis seperti ini. Jika aku tidak pandai berbicara manis seperti ini, wanita-wanita sexy itu tidak akan tertarik padaku."


"Kamu?!" Sena memberikan cubitan kecil di pinggang suaminya


"Aduh-aduh sayang maaf!" Dave menghindar dari cubitan istrinya


"Kamu ngapain bicara seperti itu?"


"Hehe.. Maaf sayang, aku janji tidak akan bicara seperti itu lagi." Dave mengangkat kedua jarinya


"Tapi aku serius sayang dengan apa yang aku katakan tadi, aku benar-benar sangat berterima kasih pada kamu telah memberikan aku Devano, hidup aku terasa lebih sempurna."


"Dia mungkin sudah bahagia diatas sana sayang, aku tidak akan pernah bisa melupakan dia." gumam Dave, Sena yang memang sejak tadi menatap suaminya itu merasa heran karena Dave yang tiba-tiba menjadi sedih. Berbeda dengan tadi dimana ia merasa sangat bahagia


"Dave, kamu kenapa sayang? Ada yang salah?" tanya Sena memegang bahu suaminya


"Sayang, anak kita mungkin sudah bahagia diatas sana, dia pasti sudah melihat adik tampannya dari atas sana."


"Sayang," panggil Sena menghentikan Dave untuk mengingat kesalahannya itu. Bukan karena Sena sudah melupakan anak pertamanya, namun Sena tidak ingin Dave merasa sedih


"Biarkan sayang, aku ingin mengingat dia." ujar Dave, dengan hitungan detik Dave memeluk pinggang Sena dan menyembunyikan wajahnya diperut istrinya


Hikss.. Hikss.. Hikss..


Davin dan Veny yang masik sibuk melihat wajah cucunya itu terkejut mendengar suara tangisan, keduanya menoleh kearah brankar menantunya


"Dave yang menangis Pah?!"


"Iya Mah, mungkin dia terharu karena sudah memiliki bayi mungil tampan ini."

__ADS_1


"Mungkin ya Pah," Veny mengiyakan apa yang suaminya itu katakan. Keduanya pun membiarkan anaknya, mereka lebih memilih melihat cucu mereka dibanding drama yang sedang Dave lakukan


"Sayang, Dave! Berhenti menangis, malu gih dilihat Papah dan Mamah. Kamu tidak malu dengan anak kamu?" tanya Sena mengusap rambut Dave lembut


"Aku ingin menangis sayang, biarkan aku menangis. Walaupun aku menangis seperti ini tidak akan bisa menebus rada bersalah yang selalu menghantui aku, anak kita, anak kita meninggal karena keegoisan aku." Dave semakin terisak dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Sena. Sena yang tidak tahu harus bagaimana hanya bisa diam saja dengan tangan yang tidak berhenti mengusap kepala suaminya


"Kenapa dia sayang?" tanya Veny yang melihat Dave masih tetap sama seperti tadi


"Lagi sedih dia Mah," jawab Sena


"Baru tahu dia bisa sedih seperti itu." ujar Veny dan menyerahkan baby Devano kepada Sena


"Enggak mau tidur lagi dia sayang," ucap Veny merasa bersalah kepada Sena karena telah membangunkan cucunya namun tidak dapat menidurkan kembali


"Tidak apa-apa Mah, aku akan memberi dia makan dulu." Veny mengangguk, tatapan nya kini tertuju kepada anaknya yang masih setia menangis seperti anak kecil sambil memeluk istrinya


"Nak, sayang! Kamu sudah memiliki bayi, apa kamu tidak malu dengan anak kamu?" tanya Veny, Dave menggelengkan kepalanya


"Ya sudah, menangis lah sepuasnya hari ini. Mamah tidak ingin melihat kamu menangis lagi besok." ucap Veny


"Sayang, Mamah dan Papah pamit keluar untuk makan ya. Kamu ingin Mamah belikan apa?"


"Aku tidak ingin apa-apa kok Mah, Mamah dan Papah makan lah dulu nanti sakit." Veny mengangguk


"Kalau begitu Mamah keluar dulu ya,"


"Iya Mah."


_


_


_


_


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2