Possesif CEO

Possesif CEO
Merasa Bersalah


__ADS_3

"Maaf," ucap Sena dengan suara seraknya sambil memeluk erat sang suami, setelah Dave dinyatakan melewati masa kritis dan hanya perlu istirahat saja selama beberapa hari disana, Sena kembali menumpahkan air matanya dengan memeluk erat sang suami.


Entah sudah berapa lama mereka berada dalam posisi seperti itu, tetapi tanpa Sena ketahui jika suaminya sedang menahan nyeri pada dadanya yang ditekan oleh kepalanya


"Shhh.." ringis Dave, yang membuat Sena langsung mendongakkan kepalanya dan menatap wajah suaminya yang seperti menahan sakit


"Mana yang sakit sayang?" tanya Sena lembut, ia sedikit panik saat melihat wajah kesakitan Dave.


"Dada aku sayang." jawab Sena meletakkan telapak tangannya dibagian yang sakit.


Tangan Sena tergerak dan menyingkirkan tangan Dave dari sana dan mengusap dengan lembut bagian yang ditunjuk Dave


"Maaf, ini semua karena aku," lirih Sena, yang lagi-lagi menjatuhkan air matanya, bahkan matanya saja sudah sembab


"Sayang," peringat Dave agar Sena tidak melanjutkan kalimat itu. Namun nyatanya istrinya itu malah menggelengkan kepalanya


"Seharusnya aku enggak bertingkah seperti anak kecil dan mau mendengarkan penjelasan kamu, tidak akan berakhir seperti ini."


Dave meletakkan tangannya diatas tangan Sena, dan tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap air mata yang entah sejak kapan mengalir, tetapi Dave tahu kalau istrinya sudah cukup lama menangis karena terlihat dari mata istrinya yang sembab


"Tatap aku!" seru Dave kepada istrinya yang menatap kearah tangan mereka, Dave pun mengangkat dagu sang istri agar mau menatap dirinya.


"Sayang, aku enggak suka kamu bicara seperti itu. Aku juga salah, seharusnya aku enggak bersikap buruk ke kamu hanya untuk memberi kejutan, jadi semua ini berawal dari aku. Jangan menyalahkan diri kamu, semua yang kita lalui pasti ada hikmahnya, dan dari semua kejadian itu kita belajar untuk kedepannya agar tidak terjadi seperti ini lagi,"


"Kamu mengerti kan sayang apa yang aku ucapkan?" Sena menganggukkan kepalanya


"Ya." Dave tersenyum tipis dan memberikan kecupan singkat dikening Sena


"Tapi.."


"Sayang aku mohon jangan dibahas lagi,"


"Kita kembali kehilangan Dave." Sena menggigit bibir bawahnya dengan kuat

__ADS_1


Dave mengernyitkan dahinya, tanda jika ia tidak paham dengan maksud kehilangan yang istrinya itu katakan


"Kehilangan?" ulang Dave


"A... Aku," Sena menatap Dave dengan takut bercampur sedih


"Aku?" Dave semakin gemas dengan wanitanya itu


"Aku keguguran." ucap Sena parau dan terdengar seperti gumaman


Deg.


Jantung Dave terasa berhenti seketika, walaupun Sena mengatakan dengan suara yang pelan tetapi Dave mendengarnya dengan sangat jelas


"Ka.. Kamu hamil?" tanya Dave gugup menatap sang istri yang sudah kembali meneteskan buliran bening itu


Sena mengangguk pelan


Tanpa sadar air mata Dave luruh begitu saja, ini salahnya. Lagi-lagi karena dirinya ia harus dua kali kehilangan buah hatinya, seandainya saja ide itu tidak terlintas dalam otaknya mungkin saat ini keluarganya tengah dilingkupi kebahagian yang luar biasa


"Maaf sayang, untuk kedua kalinya aku sendiri yang menyebabkan kedua buah hati kita pergi." ucap Dave penuh sesal


Kini sepasang suami istri itu hanya bisa saling salah menyalahkan.


Dave menarik Sena masuk ke dalam pelukannya dan menumpahkan semua air mata yang menumpuk di pelupuk mata, bahkan tubuh ringkih Sena ikut bergetar oleh tangisan menyakitkan dari Dave


"Mereka hadir di alam bawah sadar ku sayang, mereka berdua tersenyum kepadaku. Padahal akulah penyebab mereka tiada." batin Dave ketika mengingat dua anak kecil berjenis kelamin laki-laki memanggilnya 'Papah' dan melambaikan tangan sambil tersenyum manis. Dan bodohnya Dave baru menyadari ketika dirinya sudah ke alam nyata


****


"Sayang belum selesai?" lelaki yang sedang menatap fokus pada layar komputer itu menoleh


"Kamu juga kenapa belum tidur?" tanya nya balik tanpa menjawab pertanyaan dari sang istri

__ADS_1


"Aku baru selesai menidurkan Liona." jawabnya lalu duduk diatas pangkuan suaminya, dan dengan sigap sang suami melingkarkan kedua tangannya dipinggang dan dipaha agar sang istri tetap aman


Ya, benar sekali tebakan kalian. Pasangan suami istri itu merupakan pengusaha muda yang dulunya adalah saingan Dave, ah bukan dulu tetapi sekarang juga. Entah mengapa jika sudah berhubungan dengan Riko Maheswara, Dave amat tidak suka. Padahal jika mau dikatakan, Riko sudah memiliki pendamping yang sangat cantik yaitu Lina


"Tidak biasanya? Apakah dia rewel?" tanya Riko lagi bersamaan matanya melirik jam yang ada diatas meja kerjanya


"Hemm.. Anakmu itu sangat rewel, ia tidak berhenti bertanya tentang Davino, dan terus bertanya alasan Davino tidak menyukainya." jawab Lina sambil tangan nakalnya meraba dada bidang sang suami


"Eughh.. Gadis kecilku sepertinya memiliki ketertarikan pada anak tunggal keluarga Alexander itu," ucap Riko diawali dengan ******* karena jemari nakal istrinya yang menari-nari di dada bidangnya


"Sama seperti kamu yang menyukai Sena, apakah Putri kita akan seperti itu? Apakah cintanya akan bertepuk sebelah tangan juga?" Lina menatap dalam mata suaminya, ia tahu masih ada Sena dalam hati suaminya, walaupun itu sedikit Lina yakin itu ada


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Hati aku sekarang hanya ada kamu. Dan untuk anak kita, aku yakin cintanya tidak akan berakhir seperti aku." lirih Riko meyakinkan sang istri ketika ia menangkap rasa kecemburuan dan kesedihan di mata indah itu


"Aku milik kamu, dan dia sudah milik orang lain. Aku sudah merasa cukup ada kamu dan Liona di sisi aku, jadi jangan pernah meragukan aku seperti ini."


"Untuk anak kita, biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Kepada siapa hatinya berlabuh, dan kita sebagai orang tua hanya perlu memperhatikan dan mengarahkan."


"Oke sayang?" tanya Riko menaik-naikan alisnya. Yang langsung diangguki oleh Lina


"Dan sekarang waktunya olahraga malam!"


"Aaaa..."


_


_


_


_


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2