
Kalau aku enggak up untuk waktu yang lama, aku sibuk dengan kuliah ya semua. Jadi jangan mikir yang aneh-aneh.
Happy reading
****
Uwekkk... Uwekkk...
Suara bising didalam kamar mandi itu mampu membuat seorang pria beranak satu itu terbangun dari tidurnya, ia langsung mendudukkan tubuhnya dan mengucek kedua matanya saat lagi-lagi mendengar suara orang muntah
"Sena," gumam Dave setelah sadar kalau itu adalah suara istrinya, Dave pun segera turun dari atas kasur dan melangkah menuju kamar mandi untuk melihat sang istri
"Sayang!" seru Dave saat melihat istrinya sudah tergeletak lemas dilantai. Dave pun cepat membangunkan sang istri dan menahan tubuh istrinya itu
"Sakit Dave sakit, hikss..." Sena terisak saat tubuhnya tidak kuat lagi harus mengeluarkan cairan kuning itu terus menerus. Dave membekap tubuh istrinya ketika mendengar isakan, ia merasa bersalah karena sudah membuat Sena seperti ini
"Maaf," hanya satu kata itulah yang bisa Dave keluarkan. Ia mengecup kepala sang istri berkali-kali dengan gumaman permintaan maafnya
"Kita kembali ke tempat tidur ya!" seru Dave dan berniat untuk mengangkat tubuh sang istri, namun saat Dave akan mengangkat tubuh Sena, istrinya malah menggeleng dan kembali mengarahkan wajahnya ke closet
"Uwekkk... Uwekkk... Uwekkk..." tidak ada yang keluar selain cairan kuning itu, Sena sampai menggeleng pelan saat rasa itu begitu sakit
"Hikss...Hikss..." Dave gelabakan mendengar tangisan sang istri
"Sayang, istrinya Dave! Enggak boleh nangis seperti ini, kamu wanita kuat yang aku kenal. Siapa ini? Aki tidak kenal dengan orang yang ada di dalam tubuh istriku." Sena menggelengkan kepalanya
"Aku Sena hikss... Aku istrinya Dave, dan milik Dave seorang." ucap Sena ditengah isak tangisnya, Dave yang mendengar itu tersenyum manis
"Kalau kamu milik Dave seorang, kamu harus janji sama aku,"
"Janji apa?" tanya Sena cepat dengan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sang suami
"Jangan pernah melirik dan membiarkan pria lain mendekati kamu selain aku dan Vano." Sena terdiam sejenak, setelah itu ia bertanya lagi
"Bagaimana dengan Papah mertua?" Dave mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya
"Itu sudah beda lagi sayang, bahkan tidak perlu aku jelaskan kamu sudah tahu batasan-batasan seorang menantu dengan mertuanya." jawab Dave lembut, kini tangannya tertuju kepada perut rata Sena, dimana didalam perut itu terdapat anaknya
"Jangan nyusahin Mamah ya nak, kasihan Mamah kesakitan. Adik anak Papah kan sayang? Jadi berhenti ya membuat Mamah sakit. Papah sayang banget sama kamu,"
"Sayang sama dia aja? Sama aku enggak ya?" tanya Sena lirih, yang kini sudah akan menangis lagi
"Sama kamu juga dong sayang, dia ada kan karena kamu istri aku," Sena mencebikkan bibirnya ke depan, dengan cepat Dave menecup bibir yang tengah mengerucut manja itu
"Masih ingin muntah?" tanya Dave memastikan sang istri, Sena menggelengkan kepalanya saat rasa ia tidak merasakan lagi sakit didalam tubuhnya
__ADS_1
"Kalau begitu Papah akan membawa Mamah kembali ke tempat tidur, uuhhh... Beratnya!" seru Dave, dimana Sena yang mendengar itu langsung memberikan hadiah cubitan di lengan Dave
"Hobi banget sih menganiaya aku?"
"Habisnya kamu, godain aku terus."
"Tapi kamu suka kan?" Dave mengerlingkan matanya
"Ishh kamu..." Dave tertawa puas melihat wajah Sena memerah
****
Tokk! Tokk! Tokk!
"Papah, Mamah bukain pintunya, Vano mau masuk!" teriak anak berumur dua tahun itu didepan pintu kamar kedua orang tuanya
"Papah! Bukain pintunya!" teriak Vano lagi karena pintu yang menjulang tinggi itu tak kunjung terbuka, sedangkan ia sudah sejak 10 menit yang lalu berdiri disana dan meminta kedua orang tuanya untuk membuka pintu tersebut
"Tuan muda, mungkin Papah dan Mamah Tuan musa sedang tidur, mari kita ke bawah saja dan bermain di taman!" ajak bi Sri mengajak anak majikannya untuk pergi dari sana, ia tidak mau Dave akan marah kepadanya karena waktu kebersamaan mereka
"Enggak mau, aku mau sama Papah, Mamah." Vano melipat kedua tangannya diatas perut dengan bibir yang mengerucut ke depan. Membuat itu terlihat sangat imut di mata bi Sri
"Oke, oke. Bibi yang akan mencobanya ya, kalau pintu ini tidak terbuka juga, kita turun ke bawah ya." tawar bi Sri, dimana langsung diangguki oleh Vano
Tokk! Tokk!
"Tuan, Nyonya!" panggil bi Sri
Tokk! Tokk! Tokk!
Lagi-lagi bi Sri mengetuk pintu itu berharap orang yang ada didalam dapat mendengar dan segera membuka pintu tersebut. Tetapi nyatanya pintu itu tak kunjung terbuka
"Mungkin Papah dan Mamah Tuan muda belum bangun," ucap bi Sri menundukkan kepalanya untuk melihat anak majikannya
"Belum bangun ya?" bi Sri menganggukkan kepalanya
"Ayo kita ke bawah saja Tuan muda!" Vano mengangguk lemah, iapun menerima uluran tangan bi Sri untuk pergi dari sana. Tetapi baru dua langkah kaki mereka untuk pergi dari sana, pintu itu sudah terbuka dan menampilkan Dave dengan celana boxernya tanpa mengenakan baju. Membuat bi Sri yang melihat itu langsung menundukkan kepalanya
"Papah ke mana aja sih? Dari tadi aku ketuk pintunya enggak di buka-buka," Dave tersenyum mendengar pertanyaan anaknya
"Maaf ya sayang, Papah tadi sedang melihat Mamah yang terus-terusan muntah." jawab Dave lembut, ia mengusap wajah putranya yang sudah sangat tampan itu
"Mamah kenapa Pah?" tanya Vano
"Itu biasa untuk ibu hamil sayang, hanya saja itu membuat Mamah menjadi lemas." jelas Dave kepada putranya
__ADS_1
"Aku mau lihat Mamah, Pah!" Dave mengangguk, iapun berdiri dari posisinya
"Terima kasih ya Bi," ucap Dave
"Ah ya Tuan." jawab bi Sri tanpa mengangkat kepalanya
****
"Mamah!" Sena yang sedang memejamkan matanya itu langsung membuka matanya saat suara putranya. Sena tersenyum melihat putranya itu menaiki kasur, terlihat kesulitan, namun menggemaskan untuk di mata Sena saat putranya itu berusaha naik
"Ini nih akibatnya jika tidak menunggu Papah!" seru Dave dari belakang dan mengangkat tubuh anaknya.
"Kamu!" mata Dave menajam kala anaknya itu menjulurkan lidahnya
"Mamah!" teriak Vano berhamburan ke tubuh Sena
"Awas menekan adik nak," peringat Dave kepada putranya
"Di mana adik Pah?" tanya Vano, Dave ikut naik ke atas kasur dan membawa kedua hartanya itu ke dalam pelukannya
"Kan masih di dalam sini sayang?" jawab Dave sambil mengusap perut rata Sena
"Terus keluarnya nanti bagaimana Pah?" tanya Vano lagi, ia mendongakkan kepalanya untuk melihat Papah nya
"Emm.. Lewat mana ya," Dave memegang dagunya berpura-pura berfikir
"Papah..." Vano menggoyangkan lengan Papah nya
"Nanti kalau waktunya udah tiba kamu akan tahu sayang, untuk sekarang kamu hanya perlu tahu jika disini ada adik kamu." Vano tampak serius mendengarkan kalimat Papah nya
"Jadi aku belum berhak tahu ya Pah?" Dave menganggukkan kepalanya
"Iya sayang, jadi anak yang naik ya nanti. Jagain adik, dan jangan jadi seperti Papah."
Cup
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1