
Davin mengejar langkah istrinya yang begitu sangat cepat, Davin akui wanita punya berbagai ilmu. Dan salah satunya itu tengah terjadi pada sang istri, Davin hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan istrinya semenjak ia memberitahu kalau Putra semata wayang mereka kembali masuk rumah sakit
"Pelan-pelan saja Mah, tidak akan terjadi apapun pada anak kesayangan mu itu." ujar Davin menggunakan nada yang sedikit besar karena sang istri sudah sedikit jauh darinya. Veny berbalik badan
"Jika tidak terjadi apapun dengan dia, tidak mungkin dia ada di dalam rumah sakit ini Pah." jawab Veny, Davin mengangkat kedua bahunya saat lagi-lagi Veny berjalan cepat tanpa menunggu dirinya.
Merasa sedang di perhatikan oleh para ibu-ibu yang ada disana, Davin pun segera melangkah menyusul sang istri.
"Tungguin Papah, Mah." Veny melirik sekilas
"Makanya jangan lambat, sudah tahu anaknya sakit malah santai." jawab Veny sengit, membuat Davin tidak percaya jika sang istri akan berkata seperti itu padanya. Tetapi ia tidak marah, malah tersenyum saat tahu Veny tengah kesal padanya
"Gemes deh kalau lagi kesel gini." goda Davin menyenggol bahu istrinya
"Papah!" Veny menatap tajam suaminya
"Ampun kanjeng ratu." Veny tersenyum kecil saat Davin menundukkan kepalanya dengan tangan yang menyatu
"Kalau senyum seperti itu kan cantik." seketika Veny langsung mengubah mimik wajahnya
"Sudah jangan bergurau terus, kita belum tahu kondisi Dave bagaimana." Davin mengangguk saat Veny sudah berbicara dengan nada serius. Iapun meraih tangan istrinya dan melangkah lebar menuju ruangan Dave yang berada di lantai dua
****
"Iya sayang, tolong jaga anak kita ya sayang. Aku akan pulang jika urusan disini sudah selesai."
"Kalau begitu aku tutup dulu ya, assalamualaikum." setelah memastikan dari sebrang sana menjawab, Jerry mengakhiri panggilan itu
"Dia yang merindukan aku, tetapi malah mengatakan Putranya." Jerry tersenyum kecil mengingat kalau sang istri mengatakan jika Putra mereka menangis karena merindukannya. Tetapi Jerry sangat yakin apa yang istrinya itu katakan adalah kerinduan istrinya, bukan anaknya.
"Jerry!" panggil seseorang dari belakang, yang membuat Jerry langsung berbalik badan untuk melihat siapa orang tersebut
__ADS_1
"Om, Tante." Jerry pun melangkah mendekat dimana Tuan dan Nyonya Alexander itu berdiri
"Apa Om dan Tante cepat banget sampai Malang," Jerry menyalami kedua orang tua Dave sebagai tanda hormatnya kepada yang lebih tua. Davin mengangguk
"Om langsung memutuskan terbang ke kota ini setelah memberitahu Tante. Kamu tahu sendiri bukan?" Jerry melihat Veny sekilas dan menganggukkan kepalanya dengan senyum kecil
"Apa ini ruangan Dave?" tanya Veny
"Iya Tante, ini ruangan Presdir." jawab Jerry, Davin menggenggam erat tangan istrinya saat sang istri akan membuka pintu ruangan Dave
"Pah,"
"Kita akan masuk bersama-sama, jadi tunggu sebentar untuk mendengarkan penjelasan dari Jerry kenapa anak kita bisa ada di rumah sakit ini dan apa alasannya." Veny terdiam mendengar kalimat yang suaminya katakan, ia melupakan hal itu karena rasa tidak sabarnya ingin melihat sang Putra
"Mamah melupakan itu Pah, kalau begitu ayo kita mengambil tempat duduk dulu agar enak untuk berbicara." Davin mengangguk setuju, iapun mengisyaratkan kepada Jerry untuk duduk di kursi tunggu yang ada disebelah kirinya. Sedangkan Veny duduk disebelah kanannya
"Coba kamu jelaskan apa yang terjadi Jerr, padahal Om sudah sangat jelas mengatakan sama kamu untuk menjaga Dave dari minuman keras itu. Tubuhnya terlalu lemah untuk menerimanya, tetapi ia terus saja memaksa." Jerry menundukkan kepalanya sebentar, setelah itu ia mengangkat kepalanya dan menatap berani Davin serta Veny yang sedang menunggu jawabannya
"Apa kamu tidak mengatakan kepada dia kalau seorang pecandu berat itu berawal dari sedikit," Jerry menggelengkan kepalanya, Davin mendengus sebal melihat Jerry menyengir setelahnya
****
"Aku mohon buka matamu Dave, aku minta maaf sayang sudah membuat kamu menjadi seperti ini. Kamu bukanlah orang yang pantas di salahkan, tapi akulah yang salah dan pantas menerima hukuman darimu. Tolong maafkan aku Dave, maafkan aku sayang." lirih Sena, ia menggenggam erat salah satu tangan Dave dan mengecupnya penuh sayang
"Ayo buka matamu sayang, lihat Putra kita sampai tertidur lagi karena kelelahan menunggumu." Sena melihat wajah terlelap Putranya yang tertidur lelap di atas sofa yang ada disamping brankar suaminya
"Kamu tahu? Dia begitu sangat mirip denganmu, bahkan setiap kali aku bangun tidur dan melihat wajahnya aku akan teringat denganmu dan menangis karena mengingat kejadian itu. Kejadian bodoh yang membuat aku meninggalkan mu, dan memisahkan kamu dari buah hati kita. Aku selalu berpikiran burhk tentangmu tanpa mau mencari tahu dulu kebenarannya. Hiksss.. Aku minta maaf Dave, aku mohon maafkan aku sayang." Sena menyembunyikan wajahnya disamping tubuh Dave, sejak tadi yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dan menangis. Tak perduli seberapa banyak Jerry menegurnya untuk berhenti menangis ia akan tetap menangis selama ia belum melihat mata Dave terbuka sangat mulut Dave bersuara.
Tanpa Sena sadari kalau ada sebuah tangan tengah mengusap surainya, bahkan usapan yang tadinya pelan itu berubah semakin cepat namun tetap lembut, tetapi tetap saja Sena tidak merasakannya
"Hiksss... Hikss... Maafkan aku, aku memang jahat Dave." tangis Sena
__ADS_1
"Sayang," suara serak Dave memanggil sang istri, namun tak terdengar oleh telinga Sena
"Istriku sayang," panggil Dave lagi lagi, tapi tetap saja tidak ada respon dari Sena. Dave tersenyum kecil, ia akan mencobanya sekali lagi. Barang kali istrinya itu akan mendengarnya
"Serafina! Cintaku sayangku, berhentilah menangis." saat itu juga Dave tidak mendengar lagi isakan Sena, melainkan istrinya itu kini tengah mengangkat kepalanya dan menatap dirinya seperti menatap hantu
"Kenapa melihat suamimu seperti melihat hantu?" tanya Dave, tidak lupa juga ia memberikan senyum tipisnya
"Apa ini mimpi? Apakah yang aku lihat sekarang ini mimpi?" "
"Ini nyata sayang, apa yang kamu lihat sekarang itu nyata."
"Kalau gitu akan aku panggilkan dokter dulu." ujar Sena mulai salah tingkah. Sikapnya sangat berbanding balik dari yang tadi, jika tadi ia akan menangis-nangis meminta Dave untuk bangun, tapi setelah suaminya itu bangun ia malah malu-malu
"Tidak perlu!"
Bugh.
Sena terjatuh diatas tubuh Dave, membuat ia malah semakin gugup karenanya. Sedangkan Dave malah tersenyum senang
"Aku tidak butuh dokter, tapi aku butuh kamu."
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1