Possesif CEO

Possesif CEO
Kerinduan


__ADS_3

"Papah, Mamah!" seru Vina, saat dirinya tengah bermain barbie dengan sang kakak diruang tengah rumah megah Opa nya Davin


Seperti mimpi di siang bolong akhirnya Vina dapat melihat kedua orang tuanya lagi setelah hampir dua minggu ia menahan rindu dan air matanya yang setiap malam keluar. Karena pada saat malam hari lah ia akan merasakan rindu kepada kedua orang tuanya


"Papah, adik rindu!" teriak nya saat sudah berada digendongan Dave, walaupun sempat meringis tetapi Dave tetap tersenyum menatap wajah putrinya yang sudah siap akan menangis


Kamu enggak apa-apa sayang?" tanya Sena khawatir, Dave menggeleng pelan dan menatap istrinya seakan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja


"Sayang turun ya, biar Mamah saja yang gendong adik. Soalnya Papah lelah nak," ucap lembut Sena meminta sang anak untuk berpindah gendongan padanya, tapi apa daya Sena saat melihat gelengang dari putrinya


Lalu pandangan Sena teralihkan kepada putra mereka yang sedari tadi hanya berdiri sedikit jauh dan menatap dalam kepada kedua orang tuanya


"Kakak, sini sayang Mamah rindu banget sama anak bujang Mamah!" seru Sena melambaikan kedua tangannya, meminta agar putranya itu mendekat


Sedangkan Dave tengah mengecup seluruh wajah putri cantiknya yang sangat menggemaskan itu


"Rindu dengan Papah sayang?" tanya Dave yang mendapat anggukan kuat dari Vina.


"Sangat. Papah dan Mamah jahat pergi ke tempat Nenek Diva enggak ajak-ajak aku dan Kak Dave, aku kan sedih." adu Vina mengeluarkan keluh yang sudah ia tahan sejak kedua orang tuanya tega meninggalkan dirinya dan kakak nya dirumah Opa dan Oma nya


Dave terkekeh geli mendengarnya, namun tak ayal ia juga merasa bersalah kepada kedua anaknya


"Maaf sayang, Papah janji ini akan menjadi yang pertama dan terakhir Papah ninggalin kalian." janji Dave dengan mengecup kedua pipi putrinya


"Papah janji?" tanya Vina meyakinkan


"Ya sayang, Papah janji." jawab Dave meyakinkan putrinya. Vina pun melingkarkan kedua tangannya memeluk erat leher Dave


"Davino!" seru Sena yang membuat Dave menoleh dan melihat kepergian putranya dari sana


"Biarkan dulu saja sayang, nanti aku yang bujuk." ujar Dave saat melihat istrinya akan menyusul. Dave tahu jika putranya itu memiliki watak keras seperti dirinya


"Dave!"


Lagi-lagi Dave harus menoleh kearah lain ketika mendengar namanya di panggil. Dapat Dave lihat wajah bahagia mamah nya yang datang dari arah dapur

__ADS_1


Dave tersenyum lebar melihat wajah itu, wajah wanita yang sudah menghadirkan ia ke bumi ini, dan wajah yang tak akan pernah Dave lupakan sampai ia mati


****


Ceklek!


Suasana pertama saat Dave membuka kamar putranya yang berada dirumah orang tuanya ini. Kali ini ia harus menenangkan putranya setelah tadi ia harus menenangkan sang mamah yang menangis tersedu-sedu karena dirinya


"Sayang Papah!" seru Dave, namun tak ada sahutan dari pemilik kamar tersebut


Dave tersenyum melihat pergerakan diatas kasur besar di depannya


Dengan perlahan Dave mendekat ke kasur dan duduk di tepian kasur yang terdapat putranya. Vino menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut, membuat Dave menggelengkan kepala pelan melihat tingkah anaknya yang sama persis seperti jika Sena sedang marah padanya


"Vano," panggil Dave dengan mengusap lembut kepala putranya


"Papah sedih nih sayang kalau kamu begini," ucap sedih Dave dramatis


Namun rupanya Dave harus lebih ekstra membujuk anaknya jika melihat dari gelagat Devano yang dimana malah semakin mengeratkan selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya


Lagi dan lagi tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut kecil itu, hanya keheningan yang ada didalam kamar itu


"Sayang coba sini lihat Papah dulu nak!" seru Dave sambil berusaha membuka selimut


"Go out, aku enggak mau ketemu Papah. Papah sama Mamah jahat,"


"Keluar!" teriak Vano setelah menjeda kalimatnya


"Baby Vano, anaknya Papah yang tampan ini. Coba sini bicara dengan Papah, dan katakan apa alasan Baby Vano membenci Papah!" bujuk Dave dengan embel-embel panggilan manja Vano, karena Dave sudah sangat hafal putranya itu tidak akan lama berdiam-diam seperti ini jika ia sudah memanggil putranya itu dengan panggilan kecil yang Dave berikan


"Baby Vano..."


"Hikss... Papah jahat, Papah kenapa enggak bilang kalau Papah dan Mamah kecelakaan??"


"A.. Adik menangis sepanjang malam, dan Oma juga. Papah tahu aku juga ingin menangis saat tahu Papah dan Mamah berada di rumah sakit, tetapi kalau aku menangis siapa yang akan menenangkan adik? Hikss..."

__ADS_1


Dave tersenyum kecil sekaligus terharu dengan pemikiran sang putra yang begitu dewasa dan bijak. Dave juga bahagia melihat kedua anaknya saling mengasihi dan menjaga


Huh, Dave jadi merasa bersalah kepada kedua cabang bayinya yang sudah tiada, seumur hidup Dave, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri


"Kenapa Papah diam?" tanya Vano terisak, ia menatap wajah sendu papah nya yang sedang melamun, hal itu juga yang membuat dirinya menelan kasar salivanya


"Papah kelihatan sedih, apa ucapan aku tadi sungguh keterlaluan? Tapi enggak, aku juga boleh marah." batin Vano


"Sayang maafkan Papah. Jangan marah sama Mamah, semua adalah kesalahan Papah, rencana yang kita susun gagal sayang. Mamah salah paham dan berakhir harus membuat Papah dan Mamah masuk rumah sakit."


Dave mengatakan dengan jujur kepada putranya, tidak dapat ia pungkiri jika putranya ini adalah orang yang tidak dapat dibohongi sama sekali.


Bahkan rencana yang Dave buat pun putranya mengetahui, padahal sedari awal Dave tidak ingin ada yang mengetahuinya


"Maafkan Papah ya sayang. Kamu enggak boleh bersikap seperti ini, Mamah sedih karena sikap kamu tadi." ujar Dave


"Tapi Papah janji enggak akan masuk rumah sakit lagi dan meninggalkan kami dua adik sendiri."


"Ya sayang Papah janji. Apapun untuk kamu dan adik." balas Dave dengan mengusap air mata yang tersisa dipipi putranya


"Vano sayang Papah." ucap tulus Vano memeluk erat Dave


"Papah lebih sayang kamu nak."


_


_


_


_


Bersambung...


Menurut kalian jalan ceritanya ngebosenin ga sih? Kalau ya kasih aku saran ya

__ADS_1


__ADS_2