
Dua bulan kemudian...
Prank...
Semua orang yang ada di rumah besar yang berada di tengah kota Paris itu terkejut saat ada suara benda terjatuh begitu nyaring di telinga mereka. Bahkan mereka harus menghentikan obrolan-obrolan yang terlihat sangat serius dan ada juga yang sedang bersenda gurau
"Dave," panggil Davin, namun putranya itu tidak menananggapi Papah nya dan berlari dari sana untuk melihat darimana asal suara itu. Entah mengapa jantungnya berdebar mengingat jika istrinya tidak ada di dekatnya
"Opa..." Davin yang tengah memperhatikan punggung putranya itu seketika tersadar saat mendengarkan suara Vano kecil
"Ya cucu Opa yang paling tampan?!.." tanya Davin sambil mengusap pipi gembul milik Vano
"Papah kenapa Opa? Dia terlihat buru-buru, dan suara apa tadi?" tanya Vano dengan raut wajah polosnya
"Tidak terjadi apa-apa sayang, mungkin kucing menjatuhkan sesuatu di dapur." sela Veny menjawab pertanyaan cucunya yang mungkin membuat sang suami tidak tahu harus menjawab apa, karena ia dapat melihat tatapan suaminya yang meminta bantuan darinya
"Tan, Sena mana ya? Tadi dia pamit untuk ke kamar, kok sampai sekarang belum kelihatan!" seru Tina yang merupakan sahabat Sena
Ya, kalian semua perlu tahu jika Tina kini tinggal di Paris bersama suaminya yang tidak lain adalah Michael teman dekat Dave, sekaligus CEO di perusahaan milik Dave. Mereka memutuskan menikah setelah dirasa cocok, dan Michael juga tidak ingin berlama-lama dengan status pacaran karena ia membutuhkan seorang wanita yang mampu mengurus dirinya, karena selama ini ia hidup sendiri di apartemen dan tidak memiliki seorang ibu.
Ayahnya sudah lama menikah lagi dan memiliki keluarga baru bersama istri barunya, dan Michael tidak ingin menjadi benalu di keluarga baru Ayahnya, maka dari itu semenjak berada di sekolah menengah atas ia memutuskan untuk hidup sendiri
"Tante juga bingung nak, apa mungkin dia tidur lagi. Haha.." Tina tertawa pelan dengan tingkah mertua Sena yang terlihat konyol, mana mungkin sahabatnya itu tidur saat semua orang ada dibawah
"Papah.. Minta pak Iyan siapkan mobil Dave segera!!" teriak Dave, yang membuat orang-orang disana terperanjat ketika mendapati Sena sedang mengaduh kesakitan didalam gendongan Dave, dan kaki yang mengeluarkan darah
"Apa yang terjadi dengan cucu menantuku?" tanya Diva yang sejak tadi memang hanya diam saja
"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang Nek, Papah ayo cepat!"
"Ah ya Dave," Davin terburu-buru mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sopir pribadi Diva
"Sayang, sakit.." keluh Sena dengan wajah yang menempel di dada bidangnya
"Tahan sayang, kamu harus kuat demi aku dan anak kita." jawab Dave tenang, namun siapa yang tahu kalau jantungnya saat ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata
__ADS_1
"Mamah.." panggil Vano dengan sangat pelan, saat ini ia juga sedang digendong oleh Oma nya, Veny takut Vano akan menangis dan berlari mendekati Sena yang sedang kesakitan didalam gendongan putranya
"Dave, sakit banget sayang, perut aku sakit banget.. Hikss..." tangis Sena didalam pelukan Dave, membuat Dave semakin kalut dan ikut panik
"Pah!" seru Dave, yang sudah tidak sabar
"Nomor Pak Iyan tidak aktif, atau mungkin dia sedang istira..."
"Aishh.. Kalau begitu biar aku sendiri saja yang mengemudi." sela Dave, iapun segera membawa istrinya dengan langkah cepat untuk ke rumah sakit
"Dave jangan kamu mengemudi nak!" teriak Veny yang malah semakin khawatir jika putranya mengemudi sendiri dengan keadaan sang menantu yang kesakitan. Veny tidak akan sanggup membayangkan Dave yang tengah panik sambil mengemudi
"Dave biar aku saja!" teriak seseorang yang berada diruang keluarga itu. Semua orang menoleh ke arahnya
"Jon,"
"Gue nyusul Dave dulu, kalian nyusul dibelakang." Joni menepuk pundak Michael dan berlari menyusul Dave yang sudah hilang dibalik pintu besar rumah Diva tersebut
"Mamah.. Oma aku mau Mamah.." rengek Vano yang sudah siap untuk menangis
"Nando!!" teriak Diva memanggil ajudannya, dan tidak lama keluarlah pria dewasa yang sudah 10 tahun lebih menemani Diva
"Pak Iyan mana?" tanya nya saat sang ajudan sudah ada disana
"Mohon maaf Nyonya besar, Pak Iyan sore tadi drop total. Sekarang dia sedang di rawat oleh istrinya dibelakang." jawab sang ajudan sopan
"Pantas saja." gumam Davin
"Kalau begitu kamu antar saya ke rumah sakit, cucu menantu saya akan segera melahirkan." ujar Diva, dan segera berjalan menuju pintu utama di ikuti oleh sang ajudan
"Sayang ayo!" seru Davin pada istrinya
"Apa kalian ingin pulang?" tanya Davin saat akan melewati Michael dan Tina
"Oh tidak Om, kita akan ikut ke rumah sakit." jawab Michael
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita bareng saja." Michael dan Tina mengangguk. Davin menggiring sang istri dan cucunya keluar dari rumah besar itu menyusul Mommy nya yang sudah lebih dulu keluar
****
"Dave, sungguh ini sangat sakit. Kenapa dulu tidak sesakit ini? Eughh..." Sena mencengkram kuat-kuat bahu Dave. Dan Dave hanya bisa menahan segala bentuk lampiasan kesakitan dari istrinya, ia juga tidak tega melihat Sena kesakitan seperti ini. Ia benci melihat wanitanya berderai air mata
"Sayang! Lihat aku, lihat aku cinta!" Dave mengangkat dagu Sena agar bisa menatap wajahnya. Dave menghela pelan dengan jantung yang berpacu sangat cepat
"Sakit," lirih Sena menatap Dave sendu. Dave mengangguk tanda ia mengerti akan kesakitan yang dirasakan oleh istrinya yang saat ini berada diatas pangkuannya
"Maaf sayang, aku janji ini yang terakhir aku buat kamu hamil." ujar Dave sedih, ia bersalah disini karena sudah memaksa istrinya untuk hamil lagi agar sang istri tidak meninggalkan dirinya lagi seperti waktu itu. Ketakutan Dave ditinggalkan Sena, membuat ia harus membuat Sena hamil lagi anaknya untuk memperkuat hubungan mereka
"Berarti kamu tidak akan pernah menyentuhku lagi begitu?" tanya Sena ditengah ringisannya. Dave menatap bola mata istrinya untuk mencari apa maksud dari pertanyaannya barusan
"Maksud kamu?"
"Iya, maksud kamu, kamu tidak ingin membuat aku hamil lagi, itu artinya kamu tidak akan pernah menyentuhku lagi bukan? Uhhh..." Dave terkesiap dan dengan cepat ia mengelus perut sang istri
"Jangan macam-macam sayang, jika kamu tidak mau melihat suamimu jajan diluar." jawab Dave dengan tangan yang tidak berhenti mengusap perut besar itu
"Apa kamu bilang? Kamu berani ja.... Shhh, eughh sakittt Dave.." ringis Sena saat rasa sakit itu kembali menderanya
"Sebentar lagi sayang, sebentar lagi kita sampai. Kamu harus kuat."
"Joni cepatlah sedikit!" seru Dave, sedangkan Joni yang sejak tadi fokus pada jalanan sedikit melirik Dave dari kaca spion yang ada di atasnya
"Dasar sepasang suami istri aneh, dalam keadaan seperti ini masih membahas urusan ranjang." batin Joni sambil menggeleng pelan
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...