
"Dokter! dokter!" teriak Dave di pintu masuk rumah sakit. Semua orang yang berada disana langsung melihat kearah Dave yang terlihat panik dengan seorang wanita didalam gendongan nya dan darah yang tak berhenti terus mengalir
Beberapa suster datang membawa brankar kearah Dave.
"Tolong baringkan pasien agar kami cepat menangani nya" Dave dengan sigap meletakkan tubuh istri nya, dan mengikuti suster itu yang membawa istri nya dengan cepat menuju ruangan yang diatas nya bertuliskan ICU
"Mohon maaf, bapak bisa tunggu diluar. Demi kenyamanan kita bersama" Dave mengangguk lalu memundurkan langkah nya
Setelah pintu ruangan itu tertutup Dave menyandarkan punggung nya di dinding yang berada disamping pintu, ia tidak memperdulikan tubuh nya yang penuh dengan darah
"Apa istri ku hamil?" gumam Dave sambil menunduk kan wajah nya. Ia belum mencerna apa yang Sena katakan karna dirinya terlalu panik jadi Dave tidak bisa berfikir dengan jernih
Ceklek
Tidak lama pintu ruangan itu terbuka, menampilkan dokter dengan raut wajah nya yang tidak bisa ditebak
"Bapak suami pasien yang didalam?"
"Ya dok, saya suami nya. Bagaimana keadaan istri saya?"
"Mohon maaf bapak kami tidak bisa menyelamatkan anak bapak, karna benturan yang cukup kuat membuat istri bapak mengalami keguguran."
"Jadi istri saya hamil dok?" tanya Dave dengan ragu
"Benar pak. Istri bapak hamil dan usia kandungan nya baru satu minggu. Saat Bu Sena mengecek kandungan nya tadi, saya pikir janinnya kuat. Tapi tuhan berkata lain."
Bagai ditusuk seribu jarum, itulah yang dirasakan oleh Dave saat ini. Bagaimana bisa seorang ayah membunuh anaknya sendiri
"Kalau begitu saya permisi dulu pak. Bapak bisa melihat keadaan pasien dan untuk saat ini pasien belum sadarkan diri, pengaruh obat nya masih bekerja mohon di tuunggu satu jam ke depan."
Dave tak menjawab apa yang katakan dokter itu, sang dokter pun memakluminya dan segera pergi dari sana.
"Hope only a dream god" gumam Dave
Dave berjalan gontai memasuki ruangan Sena, dilihat nya Sena tengah terbaring lemah diatas brankar dengan tangan yang sudah terpasang selang infus
"Sayang, bangun! maafkan aku sayang, tolong maafkan aku" Dave menangis tersedu disamping Sena, sambil mencium-cium buku tangan Sena
"Maafkan aku sayang, aku mohon jangan benci aku"
Dave mengangkat wajah nya saat merasakan pergerakan jari-jari Sena. Dave segera memencet tombol yang berada diatas kepala brankar itu
"Eughhh," keluh Sena merasakan pusing di kepala nya. Sena melihat wajah Dave yang sembab dan begitu khawatir
"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Dave dan mengusap pucuk kepala Sena dengan tangan yang lain masih menggemgam tangan Sena
__ADS_1
"Ibuk Sena sudah sadar?" kedua nya pun menoleh, dan dilihat nya dokter tadi dan dua orang suster dibelakang nya
"Apa yang terjadi dengan saya dok?" tanya Sena dengan suara serak
Deg
Jantung Dave seketika berdetak begitu cepat, perasaan nya tak menentu sekarang. Ia takut melihat reaksi Sena
Dokter itu sempat melirik Dave sekilas baru lah ia menjawab pertanyaan Sena
"Maafkan saya buk, yang tidak bisa menyelamatkan anak anda. Benturan yang cukup keras mengakibatkan ibuk mengalami keguguran"
Tubuh Sena menegang dan Dave dapat merasakan itu, belum ada setengah hari ia mengetahui kehamilan nya dan saat ini ia harus kehilangan janin nya
"Kondisi ibuk sudah lebih baik dan bisa pindah ruangan saat ini juga. Ibuk bisa kembali kerumah besok"
Sena masih terdiam dan menatap lurus kedepan. Dave yang melihat Sena seperti itu hati nya berdenyut
"Pak kami akan memindahkan ibuk Sena keruangan mana?"
"VIP."
"Baiklah saya akan mengantar kan kesana. Bapak bisa ikut" Dave mengangguk
"Silahkan sus"
Kedua suster itu mendorong brankar dan Dave yang tetap setia menggenggam tangan Sena. Setelah sampai diruangan kedua suster itu permisi untuk keluar
"Kalau begitu kami permisi dulu pak"
"Ya. Terima kasih sus"
Setelah kepergian kedua suster itu Dave duduk di kursi yang berada disamping brankar Sena. Dave menatap sendu wajah Sena yang sedang menatap kosong ke langit-langit ruangan itu
"Sayang," panggil Dave pelan, tapi tetap tak ada jawaban dari Sena
"Bicara lah, jangan seperti ini"
"Pembunuh." lirih Sena, membuat Dave tersentak
Sena melepaskan tangan nya yang sedang digenggam oleh Dave, dipandang nya wajah Dave dengan tajam
"Kamu membunuh anak ku. Apa kamu puas?"
Tidak ada air mata dimata Sena, bahkan Sena yang Dave lihat saat ini bukanlah Sena yang ia kenal. Sena tidak akan pernah berani menatap nya dengan tatapan seperti ini
__ADS_1
"Sayang maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak tau kalau kamu sedang mengandung anak ku" Sena menepis tangan Dave saat suami nya akan memegang tangan nya
"Jadi maksud mu, kalau aku tidak mengandung anak mu, kamu akan memperlakukan aku seperti itu, ya?"
"Aku juga baru tau dengan sifat mu yang satu ini. Wajah mu terlihat seperti orang baik-baik tapi ternyata itu hanya lah topeng"
"Pergilah Dave, aku sedang ingin sendiri. Bukan kah tadi kamu ingin pergi, kenapa masih disini?"
"Sayang jangan seperti ini. Marah lah jika kamu ingin marah, pukul lah jika kamu ingin memukul."
Sungguh saat ini jantung Dave terasa akan lepas dari tubuh nya, sungguh ia tidak tau kalau anak nya sudah berada didalam perut istri nya
"Percuma Dave. Marah ku dan memukul mu tidak akan pernah bisa mengembalikan anak ku. Karna keegoisan mu karna kecemburuan mu aku harus kehilangan bayi ku, kamu pembunuh Dave... Kamu pembunuhhh keluar lah aku benci melihat mu ada disini hiks, hiks" tangis Sena pecah
Percayalah hati nya sangat hancur karna ketika dokter mengatakan anak nya telah tiada, karna kecemburuan Dave yang terlalu berlebihan ia harus kehilangan anak nya
"Keluar,.. Aku bilang keluar" teriak Sena, saat Dave mendekap wajah nya didada bidang milik nya
"Aku mohon maafkan aku, maafkan aku sayang. Maafkan aku, karna keegoisan ku bayi kita harus tiada, maafkan aku" Dave kembali menangis dengan mendekap erat tubuh Sena
Ia terlihat begitu kejam karna sudah tega membunuh darah daging nya sendiri, ini bukan kemauan nya. Seandainya saja ia tau Sena hamil ia tidak akan sekasar itu kepada istri nya
"Kamu jahat Dave, kamu tega bunuh anak kita, kamu jahat" isak Sena sambil memukul-mukul dada Dave
"Ya sayang aku jahat, aku memang jahat" jawab Dave
"Kamu pembunuhh..." ucap Sena sebelum kesadaran nya hilang
Dave melihat tangan Sena yang berhenti memukuli nya dan melihat mata Sena tertutup kembali membuat ia semakin mengeluarkan air mata nya. Didekap nya tubuh Sena dengan erat dan dicium nya pucuk kepala istri nya dengan lembut
"Cinta ku begitu egois, sehingga membuat mu tersiksa berada disamping ku. Maafkan aku sayang, sungguh aku tidak bermaksud membunuh anak kita" gumam Dave disela tangis nya
_
_
_
_
Mana nih? kok nggak ada yang vote ):
Kakak-kakak semua, rencana nya aku mau up sehari dua bab. Tapi aku harus fokus untuk dua karya ku yang bakal aku publish tanggal 1 di platfrom sebelah.
Jadi aku mohon maaf kalau aku hanya bisa up satu bab aja di setiap hari nya. Kalau kalian ada yang mau tau lapak karya ku yang tiga lainnya bisa DM aku di ig:@rohmatulkarimah_ nggak kalah seru kok cerita nya sama yang ini.
__ADS_1