Possesif CEO

Possesif CEO
Do You Miss Me


__ADS_3

Mobil sedan itu berhenti tepat didepan rumah orang tua Dave. Saat Dave akan turun, Sheila tengah menyusun rencana untuk ikut juga. Sheila hanya ingin tahu bentuk wajah istri Dave


"Akhh.. Aduh, aduh!" Jerry melirik ke kursi penumpang melalui kaca yang berada diatas kepalanya, melihat wajah datar Dave rasanya Jerry ingin tertawa


"Antarkan dia sampai rumahnya Jerr, jika perlu singgah lah diapotik."


"Hah? Untuk apa saya mampir diapotik Presdir? Apakah anda perlu sesuatu?" tanya Jerry dengan menolehkan kepalanya ke belakang. Kedua orang itu bahkan tidak memperdulikan sama sekali Sheila yang tengah kesakitan itu, atau lebih tepatnya pura-pura sakit


"Sepertinya dia sakit, jadi aku pikir lebih baik kamu belikan dia obat." ujar Dave, Sheila yang mendengar itu berhenti mengaduh dan ikut menoleh ke belakang


"Tidak Presdir, saya... Saya hanya butuh kamar kecil, sepertinya panggilan alam datang di waktu yang tidak tepat." ucap Sheila, Dave yang melihat wajah kepura-puraan itu menjadi kesal sendiri


"Jadi maksud kamu, kamu ingin menumpang kamar kecil disini?" tanya Dave


"I.. Iya Presdir." Dave menganggukkan kepalanya dengan bibir bawah yang mencebik


"Ya sudah kalau kamu butuh kamar kecil, didepan sana ada posko satpam dan kamu bisa menumpang kamar kecil yang ada diposko itu."


Jerry menutup mulutnya ketika hampir saja melepaskan tawanya. Jerry melihat sekilas pada orang yang berada disamping nya, entah mengapa ia menjadi tidak tega dengan Sheila. Tapi wanita itu tidak mau juga berhenti untuk menggoda Dave.


Jerry tahu kalau Dave sedang mencari waktu yang pas untuk menendang Sheila, tentu saja Jerry tahu itu karena bukan sehari dua hari ia bekerja bersama Dave.


"Ta.. Tapi Presdir, itu sungguh sangat tidak pas untuk saya jika harus lari ke kamar kecil di posko satpam." jawab Sheila yang tetap berusaha mencari cara agar bisa masuk ke dalam rumah itu.


Sheila menatap takut Dave saat Presdir nya itu menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa, atau lebih tepatnya tatapan seorang pria yang sedang melihat musuhnya


"Baiklah kalau kamu ingin memakai kamar kecil yang ada didalam rumah ini, kamu bisa ikut aku turun." ucap Dave dan membuka pintu mobil


"Apalagi yang kamu rencanakan Sheila? Berhentilah, aku tidak ingin kamu menyesal nantinya." ucap Jerry mengingatkan Sheila agar tidak berbuat lebih jauh lagi


"Diam saja kamu, aku tidak akan berhenti kalau Presdir belum jadi milikku." jawab Sheila dan ikut turun menyusul Dave


Jerry terdiam menatap Dave dan Sheila yang melangkah dibelakang Dave, Jerry berpikir kalau Sheila punya banyak keberanian. Ia saja yang sudah bekerja cukup lama dengan Dave masih canggung dan takut melakukan kesalahan, berbeda dengan Sheila yang bisa dihitung dengan jari


"Dia terlalu berambisi sampai lupa dimana posisinya sekarang." gumam Jerry, ia pun memutuskan untuk turun dan ikut masuk


****


Dave menghentikan langkahnya disana, ia tersenyum melihat kebersamaan kedua orang yang ia cintai. Disana, didepan sana terdapat Mamah dan istrinya tengah memasak bersama dan juga terlihat begitu kompak di mata Dave

__ADS_1


"Lho, tuan muda Dave sudah datang?!" seru Bi Siti, dimana itu membuat perhatian Veny dan Sena teralihkan. Semenjak Dave berubah status, Bi Siti tidak lagi memanggil Dave dengan embel-embel Aden, tapi sudah tuan muda


"Dave!" teriak Sena


"Jangan berlari sayang!" seru Dave kala melihat Sena berlari menuju dirinya


"Astaga anak itu!" Veny juga sedikit takut saat Sena berlari menuju Putranya


Grep.


"Jadi dia istri Presdir, cantik sih.." batin Sheila yang melihat wajah Sena sekilas. Ia menatap tidak suka kedua manusia yang tengah berpelukan dihadapan nya itu


"Tidak suka? Sudah aku katakan kamu tidak ada apa-apanya dengan istri Presdir. Jadi jangan berharap jauh sebelum kamu menyesali semuanya." Sheila memutar bola matanya malas, entah sejak kapan Jerry sudah berada disamping nya. Tatapan nya kembali tertuju kepada Dave dan Sena yang tengah berpelukan itu


"Kenapa harus berlari sih?" tanya Dave dan menjauhkan kepalanya untuk melihat wajah Sena


"Hehe.. Aku rindu kamu." Dave tersenyum mendengar itu


"Do you miss me?" tanya Dave sekali lagi, Sena menjawab dengan anggukan


"I miss you so bad." gumam Sena, ia tidak mau orang-orang disana mendengarnya


"Kamu belajar banyak sayang selama di Paris,"


"Maksud Mamah?" Dave mengerutkan dahinya


"Sejak kapan kamu pintar menggombal, orang seperti mu membuat Mamah tercengang saat berbicara seperti tadi." Sena terkekeh mendengar ucapan mertuanya, ia menatap suaminya yang juga tengah senyum malu.


Saat sedang menikmati wajah tampan suaminya, pandangan Sena tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang berada dibelakang suaminya bersama Jerry.


Deg.


Sena mengingat sesuatu, suaminya itu pergi ke Paris bersama Jerry dan sekretaris yang mengirimkan gambar itu. Sena menatap tajam Sheila, begitu juga Sheila yang tidak mau kalah. Ia menatap Sena dengan tajam dan tidak suka


Dave yang menyadari itu ikut menolehkan kepalanya ke belakang. Di lihatnya Jerry dan Sheila berdiri disana


"Kamu!" seru Dave membuat Sena mendongak melihat wajah Dave


"Bukankah kamu ingin menumpang kamar kecil? Mengapa kamu berdiri disana?" tanya Dave

__ADS_1


"Emm.. Iya Presdir, tapi saya tidak tahu dimana letak kamar kecil dirumah ini." Dave terdiam, benar juga apa yang dikatakan oleh sekretarisnya itu.


"Bi Siti, tolong antarkan dia ke kamar mandi yang ada di dapur ya." ucap Dave meminta bantu Bi Siti untuk mengantarkan Sheila


"Iya tuan muda. Ayo Non Bibi antarkan!"


"Emm.. Iya." jawab Sheila dan melangkah mendekat untuk mengikuti kemana Bi Siti membawanya. Saat akan melewati Dave dan Sena, Sheila menatap Sena sekali lagi dengan tatapan tidak suka, begitupun sebaliknya


"Sayang,"


"Bisa kamu jelasin semua ini?" tanya Sena dengan menatap tajam Dave


"Hah?" seperti orang bodoh Dave menatap bingung sang istri


"Berhubung kalian ada disini, ayo kita makan siang bersama!" seru Veny yang sudah selesai menata makan siang diatas meja


"Dave, ayo ajak istri dan Jerry kesini!"


"Ahh, iya Mah."


"Jerr!" seru Dave, Jerry yang mengerti pun mengangguk dan berjalan menuju meja makan


"Ayo kita makan dulu, nanti aku jelasin." ucap Dave dan berniat untuk menggenggam tangan Sena, namun dengan kasar Sena menepisnya dan melangkah dulu menuju meja. Dave menatap punggung sang istri, ia menggaruk kepalanya frustasi


"Suami pulang bukannya dikasih kecupan manis, ini malah marah lagi." ucap Dave dan dengan malas melangkah menuju meja makan menyusul sang istri yang sudah duduk duluan.


_


_


_


_


Bersambung...


Baca ini juga yuk!!


__ADS_1


__ADS_2