Possesive Man

Possesive Man
Part 100


__ADS_3

"Kamu seneng sayang," tanya Sania.


"Seneng banget, makasih ya om heheh," ucap Intan sambil meyengir lucu.


Intan tidak bohong, dia benar-benar begitu puas menghabiskan waktu di pasar malam dan juga banyak memakan jajanan disana.


"Sama-sama," ucap Daniel yang juga ikut senang.


"Maaf jadi ngerepotin," ringis Sania mengingat Intan yang mengajak kesana kemari.


"Tidak apa-apa, aku juga seneng. Kalo begitu aku pulang dulu, lain kali kita bisa jalan-jalan lagi," ucap Daniel.


"Tidak ada lain kali!" desis seseorang yang berada di belakang mereka.


Ketiganya sempat menoleh dan melihat wajah yang begitu mereka kenali terpampang jelas di hadapan mereka.


Wajah nya terlihat memerah entah sedang menahan apa. Urat-urat leher nya juga ikutan menonjol serta kepalan kedua tangan pria itu yang jelas.


"Dad," ucap Zintan yang terkejut.


"Really? sekarang kamu memanggil ku Daddy, bukannya terakhir kali memanggil ku dengan om," sinis Fathan dengan bersedekap dada.


Intan terdiam dan merasa sesak saat melihat pandangan sinis Fathan untuk nya.


Pertama kali dia mendapatkan tatapan yangs seperti itu. Tatapan yang biasanya di lemparkan oleh Fathan untuk orang lain kini di dapat kan nya juga.


Tak ada lagi mata yang selalu memandang nya dengan lembut dan juga hangat.


Intan akhirnya berdehem sebentar. "Ekhemmm, maskudku om," ucap Intan dengan pelan.


Daniel memandang Fathan dengan tersenyum miring seakan dirinya lah lah pemenang nya sekarang.


"Daniel kamu pulang lah, hati-hati di jalan ya," ucap Sania.


Dia tak ingin ada keributan disini. Takut nya Fathan hilang kendali dan menghajar Daniel yang baru saja sembuh.


"Oke, aku pulang dulu. Om pulang dulu sayang," ucap Daniel mengusap rambut Intan.


Dari ekor mata nya, Daniel dapat melihat Fathan yang sedang memandang tajam ke arah nya. Namun tak dipedulikan oleh Daniel.


Daniel akhirnya memasuki mobil nya dan meninggalkan kawasan apartemen tersebut.


Setelah kepergian Daniel tinggal lah Sania dan Intan saja yang berada di sana.


Atmosfer disana mendadak menjadi lebih dingin. Apalagi wajah Fathan yang tak berubah sama sekali.


Bermenit-menit mereka dalam keheningan hingga akhirnya Fathan memulai pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Apa kalian bersenang-senang? jadi ini yang kalian maksud dengan hidup mandiri. Cih, katanya tidak ingin menjadi omongan orang lain dengan memiliki hubungan yang tidak jelas dengan pria namun sekarang malah mencair pria lain begitu," sindir Fathan yang merasa panas di hari nya.


Sudah lama dia menahan nya. Hanya dengan lewat foto saja waktu itu mampu membuat nya uring-uringan dan sekarang dia malah melihat nya secara langsung.


"Kenapa diam, mendadak bisu heh!" kesal Fathan yang merasa diabaikan.


"Om kok ngomong gitu," ucap Intan yang tidak suka dengan perubahan Fathan yang itu.


"Kenapa?gak suka?" tanya Fathan menaikkan alisnya. Agak aneh mendengar panggilan om itu. Dia tidak terbiasa dan tidak suka mendengar panggilan itu.


Sania mengehela nafas nya, situasi ini tidak baik.


"Intan masuk ke dalam duluan ya sayang, Mom mau bicara berdua sama om Fathan,"


"Mau kemana? itu bukan milik kalian, apartemen itu milik putraku,"


Langkah Intan terhenti dan melihat Fathan yang tersenyum kemenangan.


"Tidak ada yang boleh Kemabli ke apartemen itu!" peringat Fathan.


Sania mengangguk. "Kami akan pergi dari sana segera. Biarkan kami mengambil barang - barang kami terlebih dahulu,"


"Tidak usah, sudah tidak ada disana," ucap Fathan mengulum bibir nya yang kering.


Sania mengernyit kan Kening nya." Lalu dimana, apa kau yang menyuruh orang untuk mengeluarkan nya dari sana,"


Sania menggeram kesal, mengapa pria ini menjadi begitu menyebalkan.


"Katakan saja di mana tuan, kami akan segera pergi," ucap Sania yang mulai kesal.


"Yasudah pergi saja sekarang," ucap pria itu tanpa beban.


"Kau!" desis Sania yang menunjuk Fathan dengan telunjuk nya sangking kesal nya. Dia sudah cukup menahan sadari tadi.


"Sstststs, santai sayang," ucap Fathan menahan jari milik Sania.


Sania berusaha melepaskan namun Fathan tidak membiarkan nya lepas dengan begitu mudah.


"Kalian bisa pergi kemana pun tapi aku akan tetap mencari dan menjemput kalian," ucap Farhan tersenyum.


"Nah, sudha cukup untuk bermain-main nya. Sekarang waktu nya untuk kalian pulang ke rumah," ucap Fathan.


"Apa maksudmu emphhh,"


Belum sempat melanjutkan perkataan nya. Sania sudah pingsan karena Fathan yang membekap mulut nya dengan sapu tangan milik pria itu yang entah dimasukkan apa sehingga mampu membuat Sania pingsan.


Intan yang sedari tadi diam memperhatikan memelotot kan mata nya melihat Fathan yang membekap mommy nya.

__ADS_1


"Mommy," pekik Intan namun sedetik kemudian gadis itu juga ikut memejamkan mata nya dan hampir saja terjatuh jika saya pria yang di belakang nya tidak segera menangkap nya.


"Apa ini tidak berlebihan dad," ucap salah satu putra Fathan tersebut dengan memandang satu ke arah Intan yang sedang tak sadar kan diri dalam dekapan nya.


"No, Daddy tidak ingin menerima penolakan - penolakan lain nya dari mereka. Lagipula Daddy juga kesal saat mereka malah dekat dengan Daniel sialan itu. Seperti nya dia butuh diberikan pelajaran kembali. Pria itu tidak bosan-bosannya mencari Maslaah dengan ku," ucap Fathan mengelus rambut Sania.


"Bawakan adikmu ke mobil dengan perlahan," ucap Farhan pada Mark.


"Tentu saja, Daddy tak perlu mengingat kan hal itu padaku," ucap Mark yang menggendong Intan.


Fathan melakukan hal yang sama. Sudah dia katakan jika dia akan menjemput kedua nya dan sekarang dia sudah bisa mewujudkan nya.


Fathan sengaja berangkat dengan sulit pribadinya agar dia bisa memperhatikan Sania.


Pria itu kini menidurkan Sania di paha nya.


"Akhirnya kita kembali bersama lagi Sania, aku tak akan membiarkan mu pergi lagi meski kau memiliki sejuta alasan untuk pergi dari ku. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi," ucap Fathan.


Dia tak akan melakukan hal bodoh yang sama yang dengan mudah nya melepaskan Sania hanya karena permintaan wanita itu sendiri.


Fathan membawa mereka ke rumah mereka kembali.


Di halaman rumah sudah ada ketiga putranya yang lain menunggu kedatangan mereka.


Athan bahkan pulang lebih cepat dari biasanya dari tempat kerjanya hanya untuk menanti kepulangan mereka.


"Nah akhirnya rumah tidak akan sepi lagi," ucap Vandra yang terlihat bersemangat.


"Kau benar, aku rindu masakan Mom. Tak ada yang menandingi nya. Rasanya lidahku begitu cocok dengan apa yang dimasak nya," lanjut Athan.


"Hem, akan ada yang menyambut kepulangan ku dari kampus juga nanti nya," ucap Vandra yang tak berhenti tersenyum.


"Lebay," ucap Fedrick yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan saudara nya itu.


"Kau saja yang tidak merasakan nya, huh!" kesal Vandra.


"Makanya jangan hanya keluyuran yang tidak jelas saja," ucap Athan.


"Kalian sangat berisik,' ucap Fedrick lalu meninggalkan mereka dan berlalu ke arah kamar nya


"Ada apa dengan anak itu," ujar Vandra bingung.


"Tak usah dihiraukan," ungkap Athan yang tak terlalu peduli.


Sekarang anestesi nya hanya melihat ke arah Farhan dan juga Mark yang masing-masing membawa Intan dan juga Sania.


TBC

__ADS_1


__ADS_2