Possesive Man

Possesive Man
part 34


__ADS_3

"Kamu mau langsung pulang?" tanya Ayyara saat turun dari mobil Steven.


"Hem," balas Steven cuek membuat Ayyara menghela nafas. Pria itu juga hanya berbicara seadanya saat di pusat perbelanjaan untuk membelikan beberapa barang untuk Intan.


"Kamu masih marah? ayolah, aku kan udah minta maaf," desah Ayyara cape harus berdebat dengan Steven.


Steven tak membalas, pria itu lebih memilih mengambil barang belanjaan mereka.


"Stev, kita harus selesain masalah ini dulu, padahal kmau yang bilang jika ada masalah harus kominkasi dan selesaiin saat itu juga, tapi sekarang kamu kayak gini," kata Ayyara.


"Oke, ayo masuk." Steven berjalan terlebih dahulu menuju rumah gadis itu. Steven memang sudah sangat sering bermain kerumah Ayyara, bahkan hubungan dirinya dengan keluarga Ayyara sangat baik.


"Eh den Steven, nona aya! kok udah pulang aja," sapa bibi Rana.


"Iya nih bi, tolong buatin minum buat aku sama Steven ya," pinta Ayyara pada Bi Rana. Setelahnya dia mengikuti Steven yang sudah duduk di kursi depan televisi.


Ayyara mendudukkan dirinya tepat disamping Steven. Keduanya diam membuat suasana jadi akward.


Hingga pandangan keduanya teralihkan dengan kedatangan Bi Rana yang membawa dua gelas air minum dan meletakkan nya di meja.


"Diam-diam bae, lagi pada marahan ya," ucap Bi Rana yang hanya dibalas dengan senyuman tipis oleh Steven.


Bi Rana yang mengerti keadaan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan keduanya, padahal biasanya jika Steven datang suasana dirumah akan menjadi ramai.


Kedua orang tua Ayyara memang lebih banyak menghabiskan waktu bekerja dan lebih sering menitipkan Ayyara pada Steven, karena mereka sudah percaya sepenuhnya kepada Steven.


Steven menatap ke arah gadisnya yang kini menatap lurus pada minuman didepannya. Pria itu membasahi bibirnya yang terasa kering lalu setelahnya meminum sedikit air minum untuk melegakan tenggorokannya yang haus.


"Ayyara," ucapnya.


Ayyara menoleh, jika Steven sudah memanggil namanya berarti pria itu sedang dalam mode yang serius.


"heum," balas Ayyara menunggu kelanjutan pembicaraan Steven.


"pertama, aku gak suka kamu mengatakan hal yang tidak-tidak seperti tadi. You are mine. Kamu harus mengingatnya. Aku gak mau denger lagi kamu ngomong jika kita itu tidak bisa bersama karena belum tentu kita berjodoh walaupun kita sudah berpacaran."


Steven menjeda ucapannya lalu menarik nafasnya dan menghembuskan nya kembali dengan pelan.


"Kau tau, itu membuatku takut daan kepikiran, aku bukannya marah padamu Aya, dengan kamu mengatakan seperti itu aku takut kamu pergi dariku dan aku tak mau itu terjadi Aya," jelas Steven mengeluarkan kegundahan hatinya.


"Maaf, aku gak tau jika itu buat kamu jadi kepikiran,"sesal Ayyara.

__ADS_1


"It's okey sayang,"


"Yang kedua, aku penegn kita segera tunangan,"ucap Steven tanpa beban.


"Hah! tunangan?" beo Ayyara yang terkejut dengan permintaan tiba-tiba Steven.


"Iya. Kenapa? kamu gak mau tunangan sama aku? tanya Steven menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban dari gadisnya.


"Eum bukan gitu, aku kaget aja kamu tiba-tiba minta tunangan, lagian kita kan masih SMA dan bentar lagi kita bakalan ujian," ucap Ayyara mengingatkan Steven. Kelas 12 bukanlah waktu tuntuk bermain-main lagi, karena dimasa itu mereka harus mempersiapkan ujian-ujian dan rencana untuk pendidikan selanjutnya.


"Ya karena itu sayang, bentar lagi kita kan ujian dan lulus, so what the problem? soal ujian kamu tak perlu memusingkannya ada aku. Dan untuk urusan pertunangan serahkan semuanya padaku aku yang akan mengurusnya," balas Steven.


"Kapan?"


"Satu bulan lagi," jawab Steven dengan cepat membuat Ayyara tercengang.


"Secepat itu. Are you serious?" tanya Ayyara yang masih tak percaya.


"Tentu saja sayag, aku tak mau main-main jika itu mnyangkut dirimu. So, i wanna back to my home now. Aku akan membicarakan ini sama daddy dan orang tua kamu secepatnya." Steven segera bangkit dari duduknya.


"1 bulan lagi, wah" cicit Ayyara.


"Persipakan dirimu sayang," ucap Steven mengedipkan sebelah matanya. Dalam hati tertawa geli melihat Ayyara yang sepertinya masih kaget akan permintaanya.


"Aku pulang dulu," ucap Steven setelah mencium pipi Ayyaraa. Ayyara segera tersadar dari lamunannya dan mengatarkan Steven sampai kedepan.


"Hati-hati, jangan negbut-ngebut pokonya," peringat Ayyara.


"Siap Sayang, bye. love u," ucap Steven sambil melambaikan tangan nya.


"too," balas Ayyara.


***


"Apa lo liat-liat," sentak Jesi pada Atlas.


"Dih, kepedean banget lo, siapa juga yang ngeliat lo, orang gue kagi liat tembok," elak Atlas sambil mengeluarkan muka julitnya.


"Duh ni anak berdua, kalo ketemu bawaanya berantem terus," ucap Fayla geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putrinya dengan Atlas.


"Tau nih, Atlas juga gak boleh gitu, Jesi lebih tua dari kamu," tegur Rita pada putranya itu. Dia juga tak habis pikir dengan Atlas. Entah darimana sifat jahil Atlas berasal. Dia dan suaminya serta Keenan tak ada yang sperti Atlas.

__ADS_1


"Beda satu tahun doang," bela Atlas.


"ye tetap aja lu kudu sopan sama gua," semprot Jesi.


"Ck udah, Jesi gak usah diperpanjang," ucap Fayla melerai.


"Atlas, bukannya kamu mau keluar ya tadi, kok belum pergi?" tanya Rita.


"Bentar lagi mah, temen ku belum pada jalan semua," ucap Atlas.


"Ouh, eh iya maaf ya Keenan nya juga masih dijalan, jesi sabar bentar ya sayang," ucap Rita sambil mengelus bahu Jesi dengan lembut.


Sedangkan Jesi hanya tersenyum menanggapi karena sejujurnya dia sangat malas jika harus bertemu dengan Keenan. Dan sialnya lagi mereka malah menyuruh dirinya untuk menghabiskan waktu dengan Keenan.


"Kalo Intan yang disuruh mah pasti kesenangan dia," gumam nya pelan.


"Bang Keenan pasti masih agak lama, ikut gue bentar," ajak Atlas sambil menarik pelan lengan Jesi.


Dia sempat melihat Jesi yang menguap bosan menunggu, apalagi mendegar ibunya yang sedang asik bergosip ria.


"Mau kemana?" teriak Rita yang melihat keduanya semakin menjauh.


"Kesini bentar," balas Atlas sembari tetap menarik Jesi agar mengikuti dirinya.


"Eh woi lepasin tangangue, gue bisa jalan sendiri," ucap Jesiie namun tak dihiraukan oleh Atlas dan malah tetap menggaet tangan Jesi.


"Tlas lu mau bawa gue kemana si sebenarnya,"


"Sabar," singkat Atlas.


"Nah udah sampe," ucap atlas.


"Wow, crazy," decak Jesi kagum melihat dibelakang rumah ini ternyata terdapat pacuan kuda pribadi dilengkapi dengan kandang yang memuat hingga 20 ekor kuda .


"Kuda aku sama kuda bang Keenan. Yang suka, hobi (berkuda) sih bang Keenan. Aku cuma suka-suka aja si, gabut jadi ikutan deh," jelas Atlas.


"Buset, gabutnya membuat dompet gue meringis," balas Jesie. Memikirkan membeli satu ekor kuda saja sudah membuatnya pusing karena kuda lumayan mahal apalagi ini, 20 ekor.


"Gue mau kenalin lu sama kuda kesayangan gue, lo bisa naik kuda?" tanya Atlas.


"Enggak, tapi pernah pengen naik kuda ya tapi gak bisa, "

__ADS_1


"Gampang, gue ajarin," ucap Atlas dengan nada serius dan bersemangat.


TBC


__ADS_2