
Sophie tidak bisa tidur sama sekali, gadis itu berkali-kali mencoba untuk memejamkan mata nya agar bisa tidur namun tetap saja dia tetap terbangun dan alhasil sampai pagi dia hanya berguling - guling tidak jelas di atas kasur.
Mencari posisi aman berharap dia segera memasuki alam mimpi karena dia sudah mengantuk.
Menyebalkan sekali jika sudah lelah dan mengantuk namun tidak bisa tidur sama sekali.
Sepanjang malam Sophie hanya bisa menghela nafas dengan berat seraya menatap langit-langit kamar.
"Aish ada apa dengan Ku. Aku mengantuk sekali," desah nya dengan lesu.
Melihat jam yang sudah pukul 5 pagi, Sophie akhirnya memutuskan untuk segsra membersihkan dirinya.
Dia juga harus segera pulang ke rumah nya karena ada jadwal juga di rumah sakit.
Sophie meringis melihat kantung mata nya yang terlihat jelas. Dia tak bisa menutupi mya karena tas nya masih ada di dalam mobil Athan dan sial nya semua peralatan make up nya juga ada disana.
"Kau terlihat buruk Sophie," ucap nya masih melihat diri nya dari pantulan kaca.
Setelah selesai dengan membersihkan dirinya, sekarang Sophie di pusing kan dengan pakaian apa yang akan di kenakan oleh nya setelah ini.
Sophie lagi-lagi mengehela nafas nya.
"Masa aku harus memakai baju yang sama lagi, apalagi dalaman nya," ucap nya.
Sophie akhirnya pasrah saja dan memakai kembali baju bekas nya kemarin walaupun merasa tidak nyaman karena dia tidak pernah seperti itu sebelum nya.
Saat hendak keluar dari kamar seorang gadis remaja tiba-tiba muncul di depan pintu nya
"Hai ka, selamat pagi," sapa nya dengan begitu ceria nya.
Senyum yang di lemparkan oleh nya pun mampu membuat Sophie ikut menarik sudut bibir nya keatas membentuk senyuman pula.
"Em ini, bang Athan tadi nyuruh Intan buat kasih ini sama Kaka. Kaka ini teman nya bang Athan ya, Kaka cantik sekali," ucap Intan antusias.
Bagiamana tidak, Sophie termasuk tinggi dan juga kulit nya yang bersih dan wajah nya jiha tak bosan untuk di pandang.
"Iya, aku teman kerja nya dokter Fathan,"
"Wah, Kaka dokter juga yah, aku mau temanan sama dokter boleh ga," ucap Intan penuh harap.
__ADS_1
"Tentu saja boleh," ucap Sophie yang membuat Intan memekik kegirangan.
"Yey, aku memiliki teman seorang dokter. Nama kaka siapa?" lanjut Intan.
"Sophie," balas Sophie yang masih setia dengan senyum nya yang lembut.
"Yaudah ka Sophie ganti baju nya, biar Intan tunggu." ucap Intan.
"Tidak perlu menunggu Kaka, nanti Kaka bakal nyusul kok,"
"Memang nya Kaka tau Intan nanti di sebelah mana," ucap Intan sambil memiringkan kepala nya.
Sophie menepuk pelan Kepala nya, benar juga kata Intan. Dia mana tahu-menahu soal mansion ini.
Semalam saja dia tersesat dan kemungkinan kali ini juga mengingat banyak lorong di rumah itu.
"Yaudah bentar ya, em ini baju milik Intan ya, terimakasih ya. Maaf Kaka jadi ngerepotin Intan," ucap Sophie merasa tidak enak.
"Bukan, itu tuh bukan baju nya Intan ka, bang Athan tadi nyuruh bodyguard buat beli itu," ucap Intan
"Hah! benarkah," tanya Sophie seakan tidak percaya. Bisakah dia sekarang berharap lebih.
Bukan salah nya kan berpikir jika Athan peduli dengan nya. Sedangkan sikap pria itu seperti ini.
"Wah selera nya bagus juga," ucap Sophie tersenyum.
"Aku senang sekali hari ini,"
"Sudah kak," ucap Intan saat melihat Sophie yang sudah selesai.
Sophie mengangguk kecil dan tangan nya langsung saja di seret oleh intan entah kemana. Sophie hanya mengikut saja dari belakang.
Sesekali Sophie menyapa beberapa pelayan yang berlalu lalang saat melakukan pekerjaan nya.
Dapat Sophie lihat seorang wanita paruh baya yang sedang berkutat di dapur dibantu oleh beberapa pelayan di sana.
Intan langsung melepaskan tangan nya dan menghampiri wanita paruh baya itu dan memeluk nya dari belakang.
"Mom," ucap Intan yang menyengir karena mendapat tatapan peringatan dari Sania karena telah mengagetkan wanita itu.
__ADS_1
Sania sudah tau anak nya itu, sama saja seperti Fathan yang selalu datang tiba-tiba memeluk nya.
"Kamu ini kebiasaan sekali heum," Sania mencubit kecil hidung Intan.
"Kak kemarilah," ajak Intan yang melihat Sophie yang diam saja.
Sophie berjalan dengan canggung
"Hai Tante," sapa Sophie sambil menyalim Sania.
"Tidak usah canggung dan malu begitu, saya tidak akan gigit kok," ucap Sania terkekeh.
"Ada yang bisa aku bantu Tan," tawar Sophie.
"Tidak usah, biar Tante saja. Kan kamu tamu, lagipula ada pelayan yang membantu. Kalian tunggu saja di meja makan gih," suruh Sania.
"Aku mau mandi dulu mom," ucap Intan.
"Loh, kamu belum mandi kah?"
"Belum mom, tadi Intan mager," balas gadis remaja itu yang membuat Sania dan Sophie tekekeh geli.
"Ka, aku tinggal sama mom bentar ya, Intan mandi nya gak lama-lama banget kok," ucap Intan lalu meninggalkan kedua orang yang berbeda umur itu.
"Kamu pacar nya Athan ya?" tanya Sania.
Sophie tersenyum tipis, semua keluarga pria itu menganggap nya sebagai kekasih dari Athan.
"Eum bukan Tante, aku cuma teman kerja nya dokter Athan," balas Sophie dengan jujur.
"Em begitu ya, jika kalian menjalin hubungan Tante bakalan dukung kok, " ucap Sania to the point.
"Ah tante bisa aja,"
"Haha Tante serius sayang, kamu wsnita pertama yang di bawa oleh Athan loh kerumah."
"Aku tau Tan, tapi bukan berarti itu menjadi penentu nya kan,"
"Iya kau benar, Athan tuh udah cukup umur banget buat nikah, jadi Tante fine-fine aja sama pilihan Athan kelak,"
__ADS_1
ucap Sania.
TBC